MAKNA SIMBOLIK DALAM TRADISI MERON DI DESA SUKOLILO, PATI
Nama Ketua
: Metrixa Ellisa Paka
Kelas
: 12.9
NIS
: 12367
Kategori
: Sosial
Pembimbing
: Erna Susanti, S.Pd.
Tanggal Pengesahan
:
24-02-2025
Abstrak
:
Tradisi Meron merupakan salah satu warisan budaya tak benda yang masih lestari di Desa Sukolilo, Kabupaten Pati, dan dilaksanakan setiap tanggal 12 Rabiul Awal sebagai bentuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga mengandung makna simbolik dan nilai-nilai sosial yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sejarah kemunculan tradisi Meron, tahapan pelaksanaannya, serta makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi lapangan, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Meron berakar dari pengaruh budaya Kerajaan Mataram yang dibawa oleh para prajuritnya dan diwariskan secara turun-temurun hingga kini. Prosesi Meron terdiri dari arak-arakan gunungan yang disusun dari hasil bumi dan makanan tradisional, serta disertai dengan tirakatan dan doa bersama. Simbol-simbol seperti mustoko, gunungan, ancak, dan daun Wandhira mengandung makna religius, persatuan, keikhlasan, serta filosofi kehidupan yang harmonis. Tradisi ini juga memperkuat identitas masyarakat, mempererat solidaritas sosial, dan memberikan kontribusi ekonomi melalui kegiatan pasar malam dan usaha warga sekitar. Dengan demikian, tradisi Meron merupakan cerminan dari pelestarian budaya lokal yang berfungsi sebagai sarana spiritual, sosial, dan ekonomi masyarakat.
Pratinjau Dokumen
Akses Dokumen Dibatasi
Untuk membaca isi lengkap dari Karya Tulis Ilmiah ini, silakan akses melalui komputer katalog yang tersedia di Perpustakaan MAN 2 Kudus.