1196 Hasil Pencarian
GASING (Gaya Self Healing) : Pola Refreshing sebagai Upaya Represif Mengatasi Kejenuhan menurut Perspektif Gen Z
Penulis: Setyani Puji Rahayu, Adela Zakiya Hafid
Pola Refresing Sebagai Upaya Represif Mengatasi Kejenuhan Menurut Perspektif Gen Z penjelasan tentang konsep self-healing dalam kajian psikologis remaja SLTA di kabupaten Kudus. Remaja diharapkan lebih memahami cara healing untuk konsep menghilangkan kejenuhan dalam menghadapi masalah maupun aktivitas yang dilakukan secara berulang-ulang. Penggunaan kata healing tidak semata-mata karena tren yang sedang populer, tetapi juga memahami tujuan dan manfaat melakukan healing serta menghindari timbulnya masalah lebih lanjut, karena penggunaan healing tidak selalu berdampak positif, ada pula yang berdampak negative. Penelitian ini menyediakan informasi untuk mengetahui alasan remaja merasa jenuh terhadap aktivitasnya dan dengan cara apa pengimplementasian macam gaya self healing terhadap kehidupan sehari-hari, dengan harapan dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai faktor- faktor terkait, sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan yang secara teoritis dipelajari di bangku sekolah, membantu peran orang tua memahami karakter dan sikap remaja, serta menuntaskan tugas akhir yang dilaksanakan peneliti. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Sampel dalam penelitian diambil dari sebagian siswa siswi di Kota Kudus terutama pada kecamatan Gebog, Kaliwungu, dan Bae. Teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik Analisa data dilakukan dengan tiga cara yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan remaja yang bersekolah tingkat atas di Kudus mengalami kejenuhan didalam fase kehidupan mereka. Dari banyaknya aspek yang mempengaruhi kehidupan remaja, banyak remaja merasa jenuh dengan aspek pendidikan, objek penelitian yang banyak mengeluh akan kejenuhan pendidikan adalah lelaki. Dan kebanyakan remaja melakukan healing dengan jalan- jalan dan berlibur ke tempat tempat favorit yang menurut pandangan mereka adalah tempat mencari sebuah kesenangan dan ketenangan.
TAMAN JOMPO : MENELISIK PENGGUNAAN RUANG TERBUKA HIJAU SEBAGAI MEDIA HIBURAN LANSIA (STUDI KASUS DI KLINIK UTAMA MUHAMMADIYAH ASY-SYIFA' KUDUS
Penulis: Sabila Yassarah, Zada Fadhila
Penelitian ini bertujuan untuk menelisik atau mengetahui fungsi ruang terbuka hijau yang dapat dimanfaatkan oleh para lansia sebagai media hiburan dari penyakit maupun stres. Metode penelitian dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik pengumpulan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang terbuka hijau atau taman dapat mempengaruhi psikologi lansia. Hal ini ditunjukkan dari wawancara terhadap informan. Kurangnya gerakan fisik lansia membuat mengalami masalah kesehatan yang disebabkan oleh penurunan fungsi tubuh lansia dan ketidaksesuaian kondisi lansia sesuai harapan mereka ini, bahkan menyebabkan lansia mengalami stres dan depresi. Ada beberapa olahraga atau latihan fisik yang dilakukan oleh lansia untuk menjadi media hiburan dengan meningkatkan dan memelihara kebugaran, kesegaran, dan kelenturan fisik, salah satunya adalah aktivitas senam yang diadakan pada ruang terbuka hijau di Klinik Utama Muhammadiyah Asy-syifa’ Kudus. kata kunci: Lansia, media hiburan, ruang terbuka hijau
ANALISIS PENGARUH PEMBERIAN KREDIT USAHA RAKYAT UNTUK PENGEMBANGAN UMKM DI KUDUS
Penulis: Kayla Noor Fitriyana, Talitha Jasmine Mirabel
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peranan penting dan strategis dalam struktur perekonomian Indonesia karena memberikan kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (61,1%), penyerapan tenaga kerja (97,1%), dan ekspor (14,4 %). UMKM memiliki peran besar dalam menghadapi resesi global karena UMKM telah berkontribusi besar terhadap PDB. Kesadaran akan pentingnya UMKM ini harus disertai dengan kebijakan dan regulasi dari pemerintah dalam mengelola dan meningkatkan peran UMKM agar dapat tumbuh dan berkembang. Salah satunya dengan pemberian Kredit Usaha Rakyat, yang sangat bermanfaat untuk para pelaku UMKM. Karya tulis ini berfokus terhadap pengembangan UMKM dan Kredit Usaha Rakyat yang diharapkan dapat mengembangkan UMKM lebih jauh lagi. Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui pengaruh Kredit Usaha Rakyat terhadap pengembangan UMKM. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif yang berisikan deskripsi tentang Pengembangan UMKM di kota Kudus. Pengambilan sampel dengan wawancara dan dokumentasi. Penulis mengambil 4 responden untuk diwawancarai, dari hasil wawancara yang dilakukan penulis dapat disimpulkan bahwa Kredit Usaha Rakyat memberikan pengaruh positif terhadap pengembangan UMKM di Kudus.
Perbedaan Kualitas Hidup antara Lansia di Panti Werdha dengan Lansia Berkediam Bersama Keluarga
Penulis: A'la Shabrina Aulia, Rofa Farnanda
Jumlah populasi dan umur harapan hidup lanjut usia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Dengan meningkatnya umur harapan hidup maka sangat penting untuk memperbaiki kualitas hidup lansia. Kualitas hidup lansia dipengaruhi oleh 4 domain diantaranya fisik, kesehatan psikologis, hubungan sosial dan lingkungan. Kualitas hidup pada lansia salah satunya dipengaruhi oleh dukungan keluarga. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kualitas hidup lanjut usia yang tinggal di panti jompo dengan yang tinggal bersama keluarga. Penelitian ini merupakan deskriptif komparatif dengan menggunakan metode pendekatan cross sectional. Sampel penelitian terdiri dari 3 lansia yang tinggal bersama keluarga, 4 lansia yang tinggal di panti jompo, dan 2 orang pengurus panti jompo. Sampel diambil menggunakan cara purposive sampling. Instrument penelitian menggunakan metode wawancara, studi literatur, dan observasi. Hasil penelitiannya adalah dapat dilihat perbedaan kualitas hidup lansia yang tinggal di panti jompo dengan yang tinggal bersama keluarga. Perbedaan itu dilatar belakangi oleh faktor internal; penyakit yang diderita, perubahan fisik yang terjadi pada masing-masing individu, perasaan pada diri sendiri terhadap orang lain dan atau pada dirinya sendiri, aspek kepribadian masing-masing lansia, kemampuan berinteraksi, kesadaran individu terhadap lingkungan, dan faktor eksternal; pekerjaan yang dimiliki, mengurus cucu, peran social di masyarakat, pension, kehilangan perhatian dari orang sekitarnya, kebersihan tempat tinggal. Kesimpulan penelitian adalah terdapat perbedaan kualitas hidup lansia yang tinggal di panti jompo dengan yang tinggal bersama keluarga. Kualitas hidup lansia yang tinggal bersama keluarga lebih baik dibandingkan dengan lansia yang tinggal di rumah panti jompo karena mereka mendapatkan peran keluarga dalam kesehariannya.
Uleman : Kontribusi kestabilan ekonomi masyarakat desa dalam modern barter sembako pada buwuh di Pakis Aji, Jepara
Penulis: Syafa'ah Nur Maulidiyah, Rara Najla Rafida
Masyarakat jawa merupakan masyarakat yang memiliki tradisi adat yang kental dan terjadi turun menurun. Seperti halnya tradisi Buwuh (nyumbang) atau yang sering dikenal oleh masyarakat Indonesia adalah kondangan atau menyumbang. Buwuh merupakan tradisi khas daerah masyarakat pesisir Jepara. Buwoh yaitu kegiatan memberikan sejumlah uang atau bahan makanan pokok kepada orang lain pada waktu tertentu ketika mengadakan hajatan. Dalam hal ini, tradisi Buwuh dibeberapa daerah memiliki cara penyebutan yang berbeda-beda. Sebagian masyarakat Jawa menyebutnya dengan nyumbang, mbecek, atau, ewuh. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana respon masyarakat terhadap tradisi buwuh di Jepara.Dalam aspek ekonomi hal ini juga dipantau apakah masih relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada era sekarang Hasil penelitian ini Tradisi Buwuh ini sangat berkaitan dengan perekonomian desa, dikarenakan saat berlangsungnya kegiatan tersebut banyak pihak terlibat yang diuntungkan. Mulai dari tamu undangan yang bisa berinvestasi melalui acara ini, seperti saat pemilik acara hajatan yang bisa balik modal bahkan mendapat keuntungan,serta pedagang sembako yang dapat meraup keuntungan dalam jumlah besar.dalam ilmu perekonomian hal ini setara dengan barter yang menguntungkan karena melihat dipasaran harga kebutuhan primer disini (gula,beras,dll).dan kebutuhan tersier (rokok) pasti akan mengalami kenaikan dalam kurun waktu tertentu.
Analisis Pengobatan Berbasis Religi sebagai Upaya Peningkatan Kesehatan Jiwa Pasien Skizofrenia di Panti Rehabilitas Jalma Sehat Kudus.
Penulis: AMIMA NAWWARA TSALITSA, RANIA AUFA SYAHIDHA
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pengobatan berbasis religi sebagai metode tambahan dalam meningkatkan kesehatan mental pasien skizofrenia di Panti Jalma Sehat. Metode penelitian ini mencakup wawancara, observasi, dan survei pasien yang menerima pengobatan berbasis religi dalam pengaturan klinis. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbaikan dalam gejala skizofrenia, kualitas hidup, dan kesejahteraan psikologis pasien yang mengikuti terapi berbasis religi. Faktor-faktor seperti dukungan sosial dari komunitas keagamaan, dan spiritualitas, memiliki peran penting dalam hasil positif ini. Temuan ini menggaris bawahi pentingnya pendekatan holistik yang mencakup aspek spiritual dalam perawatan pasien skizofrenia. Implikasi praktisnya adalah bahwa pengobatan berbasis religi dapat menjadi tambahan yang berharga dalam perawatan kesehatan mental pasien skizofrenia, selama disampaikan dengan cermat dan sesuai dengan preferensi pasien. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan (field research). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dari sumber data primer dan sekunder dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data mengikuti langkah- langkah : reduksi data, display(penyajian data), verifikasi atau kesimpulan. Adapun hasil yang diharapkan penelitiannya sebagai berikut : 1) Peran bimbingan keagamaan dapat meningkatkan ketenangan batin pasien gangguan mental oleh pembimbing melalui berbagai kegiatan keagamaan seperti sholat berjamaah, membaca Alquran, sholawatan, berdzikir, dan ceramah dari pembimbing. 2) Kondisi batin pasien setelah mendapatkan bimbingan keagamaan, pasien gangguan mental lebih merasakan tenang batinnya dan fresh fikirannya, hal ini bisa dilihat dari kemandirian pasien, dan cara berkomunikasi pasien yang mulai berangsur membaik.
Budaya Patriarki Jawa : Dilematik Wanita Berpendidikan Tinggi antara Menjadi Wanita Karir atau Ibu Rumah Tangga (Studi Kasus Calon Perawat UMKU)
Penulis: IKHTIYARA FAIRUZA, NAYZALA AURA RIYANA
Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan menganalisis manifestasi pandangan patriarki dalam budaya Jawa terhadap perempuan yang berpendidikan tinggi. Permasalahan patriarki dalam penelitian mampu menyoroti bagaimana seorang perempuan, khususnya calon perawat UMKU, menyikapi berbagai pandangan yang memarginalkan kaum perempuan. Metode penelitian yang digunakan melibatkan wawancara terstruktur dan observasi terhadap para calon perawat UMKU. Hasil penelitian ini mengungkap pengaruh budaya patriarki Jawa terhadap ketidaksetaraan gender, tercermin dalam pembagian peran tradisional, diskriminasi pekerjaan, kekerasan dalam rumah tangga, dan pelecehan seksual. Wanita berpendidikan tinggi dihadapkan pada dilema antara menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga, dengan stereotip masyarakat yang masih membatasi pilihan mereka. Mereka menghadapi budaya patriarki dengan mencari kesetaraan melalui pendidikan, komunikasi, dan upaya untuk memecah stereotip gender. Selain itu, penelitian ini menunjukkan perlunya perubahan budaya patriarki dalam masyarakat Jawa melalui upaya penguatan kesetaraan gender sejak dini, dengan fokus pada peran orangtua dan lembaga pendidikan. Mendorong kesadaran gender di lingkungan pendidikan dapat menciptakan dasar yang kuat untuk menggantikan norma-norma patriarkal dengan konsep kesetaraan gender di masa depan.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENINGKATAN PEREKONOMIAN ISLAM (Ditinjau dari Persepsi Masyarakat Untuk Menabung di Bank Syariah)
Penulis: PUTRI ANDINI FATIKHATUL ULLA, NAILA ZULFA
Indonesia memiliki jumlah penduduk 273, 32 juta jiwa dengan 86,9% beragama Islam. Islam mengharamkan adanya riba, maka dari itu Bank Syariah memberikan alternatif dengan menggunakan cara bagi hasil. Namun masih banyak masyarakat yang belum berminat menggunakan Bank Syariah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang Bank Syariah, menganalisis faktor yang memengaruhi masyarakat belum berminat menggunakan Bank Syariah, dan menganalisis peranan Bank Syariah dalam meningkatkan perekonomian Islam. Subjek pada penelitian ini yaitu masyarakat Kabupaten Kudus. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan mengambil sampel berjumlah 8 orang yang terdiri dari 4 nasabah Bank Syariah dan 4 nasabah bank konvesional. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dengan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan Masyarakat belum terlalu memahami prinsip dan produk yang terdapat pada Bank Syariah. Mereka hanya memahami secara sekilas dari apa yang didengar atau diketahui tentang Bank Syariah. Faktor yang memengaruhi masyarakat Kudus untuk menabung di Bank Syariah antara lain : faktor religiusitas, promosi, pelayanan, jumlah cabang, dan kepentingan. Pendapat masyarakat menyatakan bahwa Bank Syariah dapat membantu meningkatkan perekonomian Islam. Hal ini dikarenakan adanya pembiayaan Bank Syariah untuk modal kerja UMKM. Sektor UMKM memberikan kontribusi yang sangat penting bagi perekonomian Indonesia. Kata Kunci : Persepsi, Minat, Bank Syariah
Afwan : Filosofi Budaya Lokal Tradisi Apeman Terhadap Kerukunan Masyarakat Undaan Lor
Penulis: Nadia Fathma Auliya, Nadia Umniya Qoniah
Indonesia disebut negara yang multikultural dimana terdapat berbagai macam kebudayaan didalam nya. Namun, lambat laun hal tersebut tidak dikenal masyarakat karena teknologi saat ini yang semakin berkembang. Dapat diketahui bahwa Indonesia saat ini mencapai 63 Juta orang pengguna internet. Menurut data komnas PA pada tahun 2010 jumlah kasus tawuran antar pelajar adalah 128 kasus. Alasan dari terjadinya tawuran biasanya karena masalah sepele, seperti saling ejek di media sosial. Seperti hal nya, dari permasalahan diatas hal tersebut berbeda dengan yang terjadi di Undaan dimana warga nya rukun, walaupun mereka sibuk dengan pekerjaannya, masyarakat Undaan memiliki tali persaudaraan yang kuat. Hal tersebut dilakukan dengan melestarikan tradisi, yaitu salah satunya tradisi Apeman di Undaan Lor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana tradisi sebagai upaya meningkatkan kerukunan masyarakat Undaan Lor. Bentuk penelitian yang dilakukan berupa pendekatan kualitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam adalah teknik Purposive Sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah Observasi, Wawancara dan Studi Dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah Tradisi Apeman atau pembuatan apem ini sudah ada sejak adanya walisongo atau merupakan salah satu peninggalan dari walisongo. Dilihat dari cara berdakwah walisongo, dimana menyesuaikan dengan kondisi masyarakat dengan mengakomodir tradisi yang sudah berlaku seperti menata dengan sedemikian rupa agar tradisi tersebut tidak bertentangan dengan syariat islam. Tradisi apeman tidak hanya ada di Undaan Lor saja, melainkan ada juga di desa lain. Namun, yang membedakan tradisi apeman di Undaan Lor dengan di desa lain adalah apabila di Undaan Lor ini terdapat upacara apeman nya sendiri seperti arak-arakan dimana hal ini sudah di ramaikan sejak zaman kepala desa pak Edi Pranoto dalam rangka agar budaya atau adat yang sudah ada bisa lebih disukai oleh masyarakat khususnya oleh generasi muda atau para remaja. Maka dari itu dengan adanya tradisi Apeman ini diharapkan dapat meningkatkan kerukunan masyarakat dikarenakan dalam proses pembuatan dan penataan apem melibatkan lembaga desa dan masyarakat desa Undaan Lor. Kata Kunci : Budaya Lokal, Tradisi Apeman, Kerukunan
PENGARUH MITOS SPIRITUAL AIR TIGA RASA TERHADAP MASYARAKAT SEKITAR DESA REJENU KABUPATEN KUDUS
Penulis: Muhammad Irfan Khoiru Rafi, Muhammad Taufiq Hidayat
Mitos air tiga rasa lisan diwariskan secara lisan oleh masyarakat Jepang dari generasi ke generasi selama bertahun-tahun, namun tetap dipertahankan dan masih dipercaya sampai sekarang. Air tiga rasa mempunyai tiga sumber udara, ketiga sumber air tersebut mempunyai rasa yang berbeda satu sama lain. Sumber air pertama mempunyai rasa tawar, sumber air kedua mempunyai rasa seperti sprite, dan sumber air ketiga mempunyai rasa seperti arak. Hal inilah yang memunculkan persepsi masyarakat yang berbeda dari masyarakat Desa Jepang dan sekitarnya. Terkait dengan fenomena tersebut, terdapatlah permasalahan yang menarik untuk diteliti. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah warga Desa Jepang Kabupaten Kudus dan pengunjung yang datang ke sumber air tiga rasa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pemeriksaan keabsahan data dengan menggunakan teknik triangulasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) Mitos air tiga rasa di lingkungan Makam Sunan Muria Kabupaten Kudus masih dipercaya sampai sekarang, alasan masyarakat masih percaya adalah air tiga rasa merupakan petilasan Syeh Hasan Shadily yang sudah menjadi keyakinan masyarakat mitos untuk mempercayai air tiga rasa secara turun-temurun sehingga menjadi budaya; (2) Persepsi masyarakat terhadap mitos air tiga rasa di lingkungan Makam Sunan Muria terbagi dalam kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat Jepang dan luar masyarakat Jepang yang memiliki kepercayaan pada mitos air tiga rasa yaitu laki-laki dan perempuan, dari segi usia adalah masyarakat yang sudah tua, dari segi pekerjaan adalah petani dan pedagang, dari segi pendidikan adalah tamatan Sekolah Dasar (SD); dan (3) Terdapat pengaruh mitos air tiga rasa di lingkungan makam Sunan Muria Kabupaten Kudus terhadap masyarakat sekitar baik bagi pemilik warung, penyedia jasa ojek, maupun jasa parkir. Saran yang dapat diberikan setelah dilakukan penelitian adalah: (1) Masyarakat yang masih mempercayai mitos air tiga rasa sampai sekarang, diharapkan masih tetap mempertahankan keaslian cerita sejarah tentang air tiga rasa, mempertahankan budaya secara turun temurun, dan menjadikan air tiga rasa sebagai kekayaan budaya lokal sehingga dapat diketahui oleh generasi berikutnya; (2) Persepsi setiap pengunjung yang datang ke sumber air tiga rasa dipengaruhi oleh keyakinan setiap individu masing-masing. Bagi tokoh agama di Desa Jepang dan sekitarnya diharapkan memperhatikan dan memberikan Arahan, agar masyarakat yang mempercayai mitos air tiga rasa tidak semata-mata mempercayai kekuatan air tiga rasa tersebut tetapi harus yakin bahwa air terserbut berasal dari kebesaran Allah SWT; dan (3) Pengaruh mitos air tiga rasa sangat dirasakan manfaatnya bagi pemilik usaha warung di sekitar sumber air tiga rasa. Karena letak sumber air tiga rasa di lingkungan hutan yang masih asri dan masih alami, sehingga diharapkan pemilik usaha warung bisa memperhatikan dan menjaga lingkungan sekitar sumber air tiga rasa tersebut misalnya dengan menyediakan tempat sampah dan sebagainya.