1196 Hasil Pencarian
Formulasi dan Evaluasi Paper Soap (Sabun Kertas) dengan Ekstra Eco-Enzyme
Penulis: Maulida Diva Az-Zahra, Shabrina Julia Khoirunnisa’
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi ideal Eco-Enzyme sebagai bahan dasar paper soap serta mengevaluasi hasil formulasi paper soap dari Eco-Enzyme dengan konsentrasi Eco-Enzyme yang berbeda. Penelitian ini berfokus pada karakteristik formulasi paper soap berbahan dasar Eco-Enzyme yang memiliki banyak manfaat untuk kulit dengan konsentrasi Eco-Enzyme yang berbeda. Hasil penelitian ini menunjukkan karakteristik yang berbeda dari kedua formula dan formula dengan konsentrasi Eco-Enzyme yang lebih rendah menunjukkan hasil yang lebih memuaskan. Manfaat dari penelitian paper soap dengan ekstra Eco-Enzyme antara lain mampu menciptakan produk inovasi terbaru khususnya di bidang kesehatan dengan membuat paper soap berbahan dasar Eco-Enzyme, menambah pengetahuan dalam bidang penelitian, khususnya dalam pembuatan paper soap berbahan dasar Eco-Enzyme, serta hasil penelitian dapat bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan sabun yang praktis. Penelitian ini diharapkan mampu memberi kontribusi dalam inovasi paper soap yang dapat bermanfaat bagi orang yang menginginkan sabun praktis yang dapat dibawa kemana saja tanpa memakan banyak ruang.
Pengaplikasian Limbah Kulit Pisang sebagai Bahan Utama Pembuatan Sabun Aromaterapi
Penulis: Talithayeda Alisya Pranawa, Salma Dianisila Ramadhani
Limbah adalah sisa hasil suatu proses yang tidak diinginkan. Pisang diolah dan dijadikan berbagai jenis barang konsumsi dan barang industri. Setiap mengolah buah pisang selalu menimbulkan masalah berupa limbah kulit pisang. Kulit pisang memiliki kandungan vitamin C, B, kalsium, protein dan juga lemak yang cukup. Kandungan vitamin dalam kulit pisang diketahui mempunyai manfaat untuk menutrisi kulit. Sabun merupakan campuran dari senyawa natrium atau kalium dengan asam lemak dari minyak nabati dan atau hewani berbentuk padat, lunak atau cair, berbusa yang digunakan sebagai pembersih tubuh dengan tambahan bahan pewangi, dan bahan lainnya yang tidak membahayakan kesehatan (SNI 06-3532-1994). Sabun sebagai pembersih semakin trend dan beragam. Hampir semua sabun komersial menggunakan bahan kimia dan bahan pengawet yang tentunya akan memberikan dampak negatif bagi kulit Kesehatan kulit perlu dijaga karena pada kulit terdapat banyak kotoran dan bakteri yang menempel (Zendrato, 2018). Kulit yang terpapar sinar UV berlebihan akan memberikan efek negatif pada kulit. Sinar UV bersifat oksidatif karena dapat menghasilkan suatu senyawa radikal bebas. Radikal bebas dapat dicegah dengan antioksidan (Sari, Riyanta, Wibawa, 2017). Salah satu cara menjaga dan membersihkan kulit yaitu dengan menggunakan sabun. Kata kunci : Kulit Pisang, Sabun, Antioksidan, Sinar UV
Formulasi dan Evaluasi PACKABLE: Plester Patch Penyembuh Luka Ulkus Diabetes dengan Menggunakan Kombinasi Biji Duwet (Syzigium cumini) dan Lidah Buaya (Aloe vera)
Penulis: Kayla Najma Faradiba, Sabrina Najwa Ainun Mardiya
Diabetes merupakan gangguan metabolisme yang ditandai dengan kadar gula yang melebihi batas normal akibat kerusakan pada sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Menurut WHO, 15% penderita diabetes mellitus akan mengalami komplikasi luka diabetes yang membutuhkan waktu lama untuk proses penyembuhan. Metode terbaru yang digunakan dalam menangani luka diabetes adalah dengan memberikan transdermal patch antidiabetic menggunakan bahan alam sepeti biji duwet dan lidah buaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan formulasi terbaik sesuai dengan karakteristik plester patch penyembuh luka ulkus diabetes dengan menggunakan kombinasi biji duwet (Syzigium cumini) dan daun lidah buaya (Aloe vera). Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen kuantitatif dengan pengujian fisik sediaan yang meliputi uji organoleptik, uji keseragaman bobot, uji pH, dan uji ketebalan patch. Tiga variasi kombinasi ekstrak yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 1%, 2%, dan 3% untuk masing-masing ektrak biji duwet dan lidah buaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formulasi plaster patch dapat digunakan sebagai penyembuh luka ulkus diabetes karena karakteristiknya memenuhi kriteria plaster patch yang ideal. Kata kunci : Diabetes, Ulkus Diabetes, Patch, Biji Duwet, Lidah Buaya.
Kombinasi Pupuk Organik Cair (POC) dan Pupuk NPK terhadap Pertumbuhan Tanaman Bayam Hijau (Amaranthus hybridus)
Penulis: Chika Zusrofa Farawla Virdine, Rumaisa Najla Azzahra
Bayam merupakan salah satu sayuran yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, produksi bayam di Indonesia mencapai 171.706ton pada 2021. Jumlah tersebut meningkat 9,35% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebesar 157.024 ton. Namun, kualitas dan ketahanan pangan masih menjadi masalah dalam produksi dan pemasaran sayuran segar. Salah satu metode dalam menangani permasalahan mengenai kualitas dan ketahanan pangan pada bayam adalah dengan memberi unsur hara yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan tanaman bayam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan kombinasi terbaik pupuk organik cair (poc) dan pupuk npk terhadap pertumbuhan tanaman bayam hijau (amaranthus hybridus). Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan pengujian tinggi tanaman (cm), dan jumlah daun. 5 kombinasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 20ml POC tanpa NPK, 10ml POC dengan 2 butir NPK, 10ml POC dengan 4 butir NPK, 20ml POC dengan 3 butir NPK, dan tanaman kontrol (0ml POC dan 0 butir NPK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh kombinasi pupuk cair organik dan NPK terhadap pertumbuhan bayam cukup signifikan, dengan kombinasi terbaik yaitu 10ml POC dengan 4 butir NPK. Kata kunci: Tanaman bayam, Pupuk Organik Cair (POC), Pupuk Anorganik (NPK),
Perbandingan Ekstrat Kulit Buah Naga (Hylocereus polyrhizus) dan Ekstrak Buah Bit (Beta vulgaris) sebagai Pengganti Rhodamin B pada Lip Tint
Penulis: Galang Mustofa, Revanya Irmadel Jauza Kailafirsya
Lip tint adalah barang kosmetik yang pasti dimiliki dan disukai semua wanita bahkan semua kalangan. Namun, kini banyak sekali produk kosmetik berupa lip tint menggunakan senyawa yang berbahaya. Rhodamin B merupakan peristiwa sintesis berwarna merah yang biasa digunakan pada makanan maupun kosmetik dimana dalam penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan sel tubuh. Metode yang digunakan dalam mengganti penggunaan Rhodamin B pada lip tint yaitu dengan ekstrak kulit buah naga dan ekstrak buah bit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik lip tint kulit buah naga dan buah bit dan mengetahui perbandingan aktifitas kulit buah naga dan buah bit sebagai lip tint alami. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen kuantitatif dengan pengujian fisik sediaan meliputi uji organoleptik, uji pH, uji daya oles, uji iritasi, uji perbandingan. Tiga variasi kombinasi ekstrak yang digunakan yaitu 5%, 10%, dan 15% untuk masing-masing ekstrak kulit buah naga dan buah bit. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah yang bermanfaat pada pengembangan ilmu dan teknologi di bidang kecantikan, khususnya pada manfaat ekstrak kulit buah naga dan buah bit untuk pengganti rhodamin b. Kata Kunci : Lip Tint, Rhodamin B, kulit buah naga, buah bit
TRANSESTERIFIKASI MINYAK JELANTAH MENJADI BIOFUEL MENGGUNAKAN KATALIS KARBON AKTIF KULIT UBI KAYU (Manihot esculenta)
Penulis: Varadilla Haafizha Nisa', Nur Fatma Widya Astuti
Biofuel merupakan bahan bakar alternatif yang terbuat dari minyak nabati menggantikan bahan bakar minyak bumi yang semakin langka. Bahan baku biofuel salah satunya adalah minyak jelantah yaitu limbah minyak sawit yang sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi. Minyak jelantah mengandung asam lemak bebas (FFA) dalam kadar tinggi yang diduga mempengaruhi kualitas biofuel. Pada penelitian ini dihasilkan biofuel dari minyak jelantah melalui reaksi transesterifikasi menggunakan metanol dan arang aktif dari kulit ubi kayu sebagai katalis. Nilai pH biofuel dengan sampel yang mengandung katalis sebanya 2 gram, 4 gram dan 6 gram sesuai dengan nilai pH biofuel menurut SNI 718: 2015 yaitu 6, 6, dan 7. Sedangkan untuk beberapa sampel katalis tidak semua memenuhi standar SNI yang ditetapkan, sampel dengan katalis sebanyak 0 gram dan 8 gram tidak sesuai dengan pH biofuel yang ditetapkan SNI 718: 2015 yaitu 5 dan 9. Hal ini karena jenis dan jumlah katalis yang digunakan mempengaruhi pH biofuel. Menambahkan katalis akan meningkatkan nilai pH biofuel atau menjadikannya basa. Semakin sedikit jumlah katalis yang ditambahkan maka semakin rendah dan asam pula pH yang dihasilkan biofuel tersebut. Selain itu titik nyala biofuel juga telah memenuhi standar SNI, yaitu titik nyala > 100 °C, kecuali titik nyala pada sampel dengan katalis sebanyak 0 gram. Ketika jumlah katalis meningkat, proses saponifikasi yang lebih besar terjadi, sehingga menghasilkan tingkat konversi biofuel yang lebih rendah. Proses ini meningkatkan titik nyala biofuel karena kandungan alkohol yang lebih rendah dan memerlukan suhu yang lebih tinggi untuk menyalakan biofuel. Sampel biodiesel yang mengandung 6 gram dan 4 gram katalis karbon aktif kulit ubi kayu merupakan sampel terbaik karena memenuhi kriteria SNI yang berlaku untuk semua sifat yang dijelaskan
Pengaruh Pemberian Limbah Cair Air Cucian Beras sebagai Pupuk Tambahan Terhadap Pertumbuhan Bayam Hijau (Amaranthus viridis)
Penulis: Izza Afkarina, Muthi'a Emira Azaria
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian pupuk organik cair air cucian beras terhadap laju pertumbuhan tanaman bayam hijau (Amaranthus viridis) dan untuk mengetahui konsentrasi pupuk organik cair air cucian beras yang menghasilkan pertumbuhan terbaik pada tanaman bayam hijau (Amaranthus viridis). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan perlakuan konsentrasi pupuk organik cair air cucian beras 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk organik cair air cucian beras memberikan pengaruh yang meningkatkan laju pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun terdapat pada perlakuan dengan konsentrasi 50%, selanjutnya tinggi segar tanaman terendah dicapai pada konsentrasi 75% untuk pertumbuhan tinggi dan jumlah daun pada tanaman bayam hijau (Amaranthus viridis). Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan informasi yang berguna dalam pengelolaan limbah cair air cucian beras dan meningkatkan produktivitas pertanian secara berkelanjutan.
PEMANFAATAN ECO ENZYME TERHADAP AIR LINBAH DETERJEN
Penulis: Fakhri Muhammad Akyas, Muhammad Tegar Adam Sahara
Pencemaran lingkungan adalah salah satu faktor penyebab rusaknya lingkungan. Lingkungan mampu menerima beban pencemar dalam kadar tertentu dan mampu menetralisirnya dalam rentang waktu tertentu. Tetapi seiring berkembangnya kegiatan manusia, jumlah dan tingkat zat pencemar semakin meningkat berbanding terbalik dengan daya tampung lingkungan dan kemampuan lingkungan dalam menetralisir zat pencemar. Salah satu faktor penyebab pencemaran lingkungan adalah air limbah domestik. Penelitian ini menggunakan sampah sayur untuk diolah menjadi eco enzyme. Pembuatan eco enzyme berlangsung selama 3 bulan. Eco enzyme dibuat dengan menggunakan sampah sayur, gula merah, air dengan perbandingan 3 : 1 : 10 dan lama fermentasi 3 bulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah eco enzyme sampah sayur dapat digunakan untuk menurunkan konsentrasi deterjen pada air limbah domestik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan skala laboratorium. Dari eksperimen yang dilakukan akan diperoleh data primer. Berdasarkan karakterisasi eco enzyme sampah sayur yang digunakan, diketahui konsentrasi deterjen 0,2535 mg/L. Konsentrasi deterjen pada limbah domestik 2,13045 mg/L. Konsentrasi deterjen pada limbah domestik setelah ditambahkan eco enzyme sampah sayur bayam 5% menjadi 0,68 mg/L dan 10% menjadi 0,30 mg/L dengan waktu detensi 7 hari.
Ekstraksi Pestisida dari Putung Rokok Sebagai Pembasmi Hama Kutu Putih pada Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum )
Penulis: mahandaru sinubo a, Muh. Khubba A
Penggunaan pestisida kimia dalam pertanian telah meningkatkan kekhawatiran terhadap dampak negatifnya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Sebagai alternatif, biopestisida semakin diminati karena sifatnya yang ramah lingkungan. Salah satu sumber potensial untuk biopestisida adalah limbah puntung rokok. Puntung rokok mengandung senyawa-senyawa yang dapat memiliki efek pestisidal terhadap organisme pengganggu tanaman.Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi, mengidentifikasi, dan menguji potensi biopestisida dari puntung rokok untuk mengendalikan hama pada tanaman tomat. Metode ekstraksi menggunakan pelarut organik dilakukan untuk mengisolasi senyawa aktif dari puntung rokok. Selanjutnya, senyawa-senyawa tersebut diidentifikasi menggunakan teknik analisis kimia seperti spektroskopi UV-Vis dan GC-MS.Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa-senyawa tertentu dari puntung rokok memiliki aktivitas pestisidal terhadap hama tanaman tomat yang signifikan. Uji coba lapangan juga dilakukan untuk menguji efektivitas biopestisida ini dalam mengendalikan hama pada tanaman tomat secara praktis.Dengan demikian, biopestisida dari puntung rokok memiliki potensi sebagai alternatif yang ramah lingkungan dalam pengendalian hama tanaman tomat, sehingga dapat membantu mengurangi penggunaan pestisida kimia yang berpotensi merusak lingkungan dan kesehatan manusia. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme kerja serta efek jangka panjang dari penggunaan biopestisida ini dalam pertanian.
Biopestisida Dari Putung Rokok Bekas Untuk Membasmi Hama Kutu Putih (Phenacoccus manihoti) Pada Tumbuhan Jeruk Purut(Citrus hystrix)
Penulis: Hamid Awaluddin Fazabih, Mokhammad Haizal Ummam
Pestisida Dari Putung Rokok Bekas Untuk Membasmi Hama Kutu putih (Phenacoccus manihoti) pada tumbuhan jeruk purut(Citrus Hystrix) Oleh: Mokhammad Haizal ummam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan puntung rokok sebagai pestisida untuk membasmi hama jamur putih. Puntung rokok mengandung nikotin yang dapat digunakan sebagai insektisida alami. Peptisida dari putung rokok bekas telah dipertimbangkan sebagai alternatif pestisida nabati untuk mengendalikan hama kutu putih pada tanaman. Putung rokok mengandung bahan aktif seperti nikotin, fenol, dan eugenol yang dapat mengendalikan hama dan patogen tanaman. Dalam penelitian ini, peptisida dari putung rokok akan digunakan untuk membasmi hama kutu putih pada tanaman jeruk purut (Citrus hystrix).Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi dan pengaplikasian pestisida dari putung rokok yang efektif sebagai pembasmi kutu putih, serta mengevaluasi efektivitasnya pada tanaman jeruk purut. Metode penelitian yang digunakan menggunakan analisis statistik untuk menentukan konsentrasi dan pengaplikasian pestisida yang tepat. Hasil penilitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang relevan tentang penggunaan peptisida dari putung rokok bekas sebagai alternatif pestisida nabati untuk mengendalikan hama kutu putih pada tanama jeruk purut, serta memberikan wawasan tentang efektivitas dan keterdapatan peptisida ini pada lingkungan tanaman.