1196 Hasil Pencarian
Penggunaan Lidah Buaya (Aloe vera) dan Daun Sirih (Piper betle) sebagai Bahan Aditif Alami dalam Pembuatan Biodergadible Paper Soap Berbahan Dasar Lidah Mertua (Sansevieria Sp.)
Penulis: Kholifah Zaitun Muna, Latifah Insani
Kebersihan merupakan esensi yang sangat penting disebabkan oleh bakteri dan kuman yang mudah menular. Hygiene dan sanitasi merupakan suatu tindakan atau upaya untuk meningkatkan kebersihan dan kesehatan melalui pemeliharaan dini setiap individu dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya, agar individu terhindar dari ancaman kuman penyebab penyakit (Depkes RI, 2005). Lidah buaya dan daun sirih dipilih karena keduanya memiliki potensi untuk memberikan manfaat tambahan seperti sifat antibakteri, antijamur, dan antiinflamasi. Metode penelitian meliputi ekstraksi bahan, pengolahan lidah mertua, pencampuran minyak, proses pembentukan soap, pengeringan, dan pengemasan. Penelitian ini menghasilkan soap berbahan dasar lidah mertua. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penggunaan lidah buaya dan daun sirih sebagai bahan aditif alami dalam pembuatan biodegradable paper soap berbahan dasar lidah mertua dengan tambahan lidah buaya dan daun sirih yang diharapkan memiliki kinerja yang lebih baik serta ramah lingkungan. Dua variasi sample yang digunakan yaitu, sample A dengan konsentrasi (50% lidah buaya dan 70% ekstrak daun sirih) serta sample B (70% lidah buaya dan 30% ekstrak daun sirih) untuk diuji klinis, dan diuji coba terhadap konsumen. Hasil penelitian menunjukkan sample B (70% lidah buaya dan 30% daun sirih) mendapatkan hasil akhir paling baik dalam uji organoleptik oleh panelis hingga 80%.
Ekstraksi Pektin dari Kulit Jeruk (Citrus Sinensis) sebagai Aplikasi Pelapis Buah Apel Fuji (Malus Domestica) Edible Coating Berbahan Dasar Pati Bekatul
Penulis: REGIZZA JUNNA BAHIRA, FIRDA AYU DIAH FITRI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat dan efektivitas pektin yang diekstraksi dari kulit jeruk untuk aplikasi pelapisan pada apel Fuji menggunakan pelapis makanan tepung dedak padi. Studi ini berfokus pada potensi pelapisan buah dengan bahan yang dapat dimakan dan menyelidiki masalah utama kualitas buah pasca panen dan perubahan warna serta perlunya solusi ramah lingkungan. Dapat meningkatkan pemahaman kita mengenai ekstraksi pektin dari kulit jeruk dan kemampuannya sebagai pelapis buah. Manfaatnya antara lain peningkatan wawasan peneliti di bidang ekstraksi pektin, kontribusi lingkungan, dan kemungkinan penerapan hasil penelitian ke dalam program dan pengembangan ilmu pengetahuan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam menyelesaikan permasalahan besar dalam industri pohon buah-buahan dan hortikultura, berdasarkan hipotesis bahwa pelapisan pati dedak padi dengan pektin kulit jeruk akan menjaga kualitas dan warna apel Fuji selama penyimpanan. Kata kunci : Edible Coating, Bekatul, Ekstraksi, Pektin, Apel Fuji, Kulit Jeruk
Uji Efektivitas Plester Patch Penyembuh Luka Ulkus Diabetes dengan Menggunakan Kombinasi Biji Duwet (Syzigium Cumini) dan Lidah Buaya (Aloe Vera)
Penulis: Fanisa Cita Arum, Cindy Aulia Rosada
Diabetes merupakan gangguan metabolisme yang ditandai dengan kadar gula melebihi batas normal akibat kerusakan pada sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Menurut WHO, 15% penderita diabetes mellitus mengalami komplikasi luka diabetes yang membutuhkan waktu lama untuk proses penyembuhan. Metode terbaru yang digunakan dalam menangani luka diabetes adalah dengan memberikan transdermal patch antidiabetic menggunakan bahan alam sepeti biji duwet dan lidah buaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dan formula terbaik plester patch penyembuh luka ulkus diabetes dengan menggunakan kombinasi serbuk biji duwet dan lidah buaya. Tiga variasi kombinasi ekstrak yang digunakan yaitu 1%, 2% dan 3% untuk masing-masing ektrak biji duwet dan lidah buaya. Induksi diabetes menggunakan sukrosa pada mencit. Pengamatan waktu penyembuhan dilakukan selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan formula F3 (3% biji duwet dan 1% lidah buaya) dapat menyembuhkan luka ulkus diabetes hingga 100% dalam 12 hari dan menurunkan kadar glukosa darah hingga 50%. Kata kunci : Diabetes, Ulkus Diabetes, Patch, Biji Duwet, Lidah Buaya
FITOREMEDIASI MENGGUNAKAN KIAMBANG (Salvinia molesta) DALAM MENURUNKAN KADAR BOD, COD, TSS, DAN NH3 PADA LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU
Penulis: Nadia Maulina 'Aisyah, Aulia Restu Jayanti
Limbah tahu merupakan sisa pengolahan kedelai yang terbuang karena tidak terbentuk menjadi tahu. Industri tahu menghasilkan limbah cair yang mengandung banyak komponen organic dan anorganik yang dapat mengganggu ekosistem perairan dan menyebabkan pencemaran lingkungan. Teknik pengolahan limbah cair yang tepat sebelum dialirkan secara langsung ke perairan perlu dilakukan untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan. Teknik fitoremediasi merupakan salah satu alternatif untuk pengolahan limbah cair dengan menggunakan tanaman atau mikroorganisme hiperakumulator, seperti Kiambang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas tanaman Kiambang dapat menurunkan kadar BOD, COD, TSS, pH, suhu, dan NH3 pada limbah cair industris tahu. Media yang digunakan yaitu 3 L limbah dengan perbandingan 2:1 (2 L limbah cair tahu:air) dalam wadah. Variasi jumlah tanaman yang digunakan yaitu F1 (10 tanaman) dan F2 (20 tanaman) dengan waktu pengamatan 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa F2 menaikkan pH air limbah menjadi 8, menurunkan nilai BOD sebesar 95%, COD hingga 81%, TSS 100 mg/L,dan NH3 0,015 mg/L dalam waktu 14 hari pengamatan. Penggunaan Kiambang sebanyak 20 tanaman efektif dalam menurunkan kadar BOD, COD, TSS, dan NH3 pada limbah cair industri tahu.
Produksi Protein Sel Tunggal Thalassiosira sp. Termutasi HNO2 sebagai Superfood Menuju Sustainable Development Goals (SDGs) 2030
Penulis: Malinda Khilma Harlin, Alya Hamrarose Hidayah
Hasil Survei Status Gizi Indonesia mengenai prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2022 mengalami penurunan menjadi 21,6%, namun nilai tersebut masih diatas standar yang ditetapkan WHO yaitu 20%. Pemenuhan kebutuhan zat gizi makro seperti protein merupakan salah satu fokus utama upaya penanggulangan masalah gizi buruk. Mikroalga yang merupakan salah satu jenis protein sel tunggal merupakan kandidat yang sangat menjanjikan untuk dijadikan sumber pangan pemenuhan zat gizi makro seperti protein, apalagi di Indonesia yang 75% wilayahnya berupa air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mutagen dan konsentrasi HNO2 sebagai mutagen kimia yang berfungsi meningkatkan produktivitas sel mikroalga optimum terhadap peningkatan pertumbuhan Thalassiosira sp., subjek yang digunakan dalam penelitian ini. Sampel yang digunakan adalah F0, F1, F2, dan F3, dengan perbedaan konsentrasi HNO2 masing-masing. Hasil penelitian berupa uji pH, suhu, salinitas, warna, biomassa, kepadatan sel, dan protein. Uji pH menunjukkan rentang angka yang dapat didefinisikan sebagai rentang pH netral yaitu 6-7 untuk seluruh sampel, mengalami fluktuasi pada kisaran suhu 27–28?C untuk seluruh sampel, salinitas mengalami peningkatan selama 7 hari pengamatan dimulai dari 3 hingga 50 ppt menunjukkan rata-rata salinitas optimal sebesar 41 ppt, menghasilkan warna hijau tua pekat pada media uji warna Thalassiosira sp. Pada hari ketujuh HNO2 menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan Thalassiosira sp. pada uji kepadatan sel, dan juga kandungan protein pada mikroalga mengalami peningkatan yang signifikan. Kata Kunci: HNO2, Protein Sel Tunggal, SDGs 2030, Superfood, Thalassiosira sp.
Efektivitas Satu Buah Mengkudu (Morinda citrifolia) dan Lidah Buaya (Aloe vera) Sebagai Antibakteri Pada Toner Terhadap Bakteri Penyebab Jerawat
Penulis: Irma Camilla Shabrina, Aliyya Hidayati
Zaman sekarang para wanita ingin mempunyai kulit wajah yang terawat, halus, tidak berjerawat dan glowing. Kulit wajah memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda dalam menggunakan skincare. Untuk menggunakan skincare, para pengguna skincare harus selalu waspada terhadap kulitnya yang sensitif. Salah satu skincare yang sering digunakan para wanita adalah toner wajah. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan proses pembuatan toner wajah menggunakan sari buah mengkudu, serta memanfaatkan lidah buaya sebagai alternatif antibakteri bakteri jerawat. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah sari buah Mengkudu akan diekstraksi dengan etanol 96%, kemudian ekstraknya akan diujikan kepada bakteri penyebab jerawat (Staphylococcus epidermidis) diketahui aktivitas antimikrobanya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah yang bermanfaat pada pengembangan ilmu dan teknologi dibidang kecantikan, khususnya tentang manfaat sari buah mengkudu (Morinda citrifolia) dan lidah buaya (Aloe vera)sebagai toner wajah sehingga dapat diaplikasikan masyarakat sebagai alternatif antibakteri bakteri jerawat. Kata Kunci : Jerawat, Lidah buaya, Mengkudu, Toner.
Perubahan Kekeruhan pada Minyak Jelantah dengan Arang Aktif dari Kulit Buah Matoa (Pometia pinnata)
Penulis: Bestari Ayla Ramadhani, Tseni Rahma Junalia
Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang digunakan sebagai media bahan pengolahan makanan. Masyarakat seringkali menggunakan minyak goreng sebagai media bahan pangan yang digunakan berulang kali. Minyak goreng yang biasanya digunakan berulang kali disebut minyak jelantah. Minyak goreng yang digunakan berulang kali bisa menghasilkan sisa atau serbuk penggorengan yang dapat memicu kolesterol. Minyak sisa juga mengandung lemak jenuh berlebih yang bisa meningkatkan risiko obesitas. Salah satu upaya meminimalkan kekeruhan minyak jelantah adalah menggunakan filtrasi minyak jelantah dengan arang aktif. Pemanfaatan kulit buah matoa sebagai bahan dasar organik aktif dapat digunakan sebagai arang aktif. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui massa arang aktif dari kulit buah matoa yang paling efektif sebagai adsorben minyak jelantah. Pembuatan arang aktif dilakukan dengan memasukkan bahan baku kulit buah matoa kedalam kaleng dan dilakukan proses pembakaran selama ± 45 menit. Proses aktivasi dilakukan menggunakan larutan CaCl2 dengan perbandingan air dan CaCl2 3:1. Larutan CaCl2 dicampurkan pada arang aktif kulit buah matoa yang sudah melalui proses pembakaran dengan perbandingan 2:1. Analisis data dilakukan dengan filtrasi minyak jelantah pada arang aktif berbahan dasar kulit buah matoa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arang aktif kulit buah matoa dengan massa 2,5 sdm lebih efektif untuk menjernihkan minyak jelantah daripada arang aktif kulit buah matoa dengan massa 1 sdm. Disimpulkan bahwa semakin banyak massa arang aktif sebagai adsorben, semakin jernih pula minyak jelantah yang difiltrasi. Penggunaan arang aktif dari kulit buah matoa sebagai adsorben minyak jelantah dapat mengurangi kekeruhan minyak jelantah.
Pemanfaatan Zeolit Teraktivasi Asam (HCl) dan Basa (NaOH) pada Filter Air Sederhana
Penulis: Ahmad Ananda Daffa Pratama, Syahda Iqbal Maulana
Pencemaran air merupakan salah satu permasalahan penting dalam ketersediaan air bersih, terutama di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Penyebabnya bermacam-macam yaitu limbah rumah tangga, sampah masyarakat, limbah pertanian, dan limbah industri. Limbah yang menimbulkan pencemaran air yang sangat besar yaitu limbah industri. Berdasarkan masalah tersebut, maka masyarakat perlu solusi dari permasalahan yang dihadapi. Solusi yang diperlukan masyarkat adalah bagaimana ketersediaan air yang bersih dan layak digunakan. Masyarakat juga memerlukkan solusi yang mudah didapatkan dan bisa digunakan banyak orang. Salah satu bahan yang mudah didapatkan dan mudah pengaplikasianya yaitu zeolite yang teraktivasi. Zeolite dapat diaktivasi dengan cara pemanasan dan penambahan larutan asam (HCl) dan larutan basa (NaOH). Zeolite yang telah teraktivasi diaplikasikan ke dalam filter air sederhana. Filter air sederhana yang telah dilakukan proses pencampuran dengan zeolite teraktivasi dapat digunakan untuk menyaring air kotor seperti air kolam, air sungai, dan air selokan. Zat-zat dalam air kotor yang dilakukan proses filtrasi dapat terikat oleh zeolite teraktivasi yang terdapat dalam filter air sederhana. Hasil dari air yang telah difiltrasi terjadi perubahan kejernihan, pH, dan bau pada air kolam. Kata Kunci : Aktivasi Zeolite, Filtrasi, Larutan Asam (HCl), Larutan Basa (NaOH).
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL KOMBINASI DAUN KIRINYUH (Eupatorium odoratum) DAN BAWANG DAYAK (Eleutherine bulbosa) TERHADAP BAKTERI Bacillus subtilis PENYEBAB MENINGITIS
Penulis: Kun Nadwa Failusufa, Rosalina Azizah
Meningitis merupakan peradangan pada meningen, yaitu sistem membran yang bertugas melindungi sistem saraf pusat. Meningitis bakterial adalah penyakit meningitis yang disebabkan oleh bakteri Bacillus subtilis. Indonesia juga merupakan negara dengan kasus dan kematian tertinggi penyakit meningitis. Penyakit meningitis pada umumnya ditangani dengan menggunakan antibiotik. Namun, sayangnya ada beberapa efek samping atau alergi yang bisa saja timbul akibat mengkonsumsinya. Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati. Kita dapat memanfaatkan keanekaragaman hayati tersebut salah satunya adalah dengan memanfaatkan daun kirinyuh dan bawang dayak. Daun dari tanaman kirinyuh dapat dimanfaatkan untuk obat herbal, karena mengandung senyawa antibakteri. Sedangkan, bawang dayak adalah tanaman obat yang mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin, yang berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antibakteri dari ekstrak kombinasi daun kirinyuh dan bawang dayak terhadap bakteri Bacillus subtilis. Ekstraksi kombinasi daun kirinyuh dan bawang dayak dilakukan dengan menggunakan metode maserasi dengan perbandingan konsentrasi ekstraksi 2:1, 1:1, dan 1:2. Analisis aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram kertas dengan berbagai konsentrasi. Kontrol positif yang digunakan adalah Amoxicillin dan kontrol negatif yang digunakan adalah akuades. Pengukuran diameter zona hambat diukur menggunakan penggaris. Hasil rerata ukur diameter zona hambat aktivitas antibakteri Bacillus subtilis menunjukkan bahwa pada perbandingan konsentrasi ekstrak etanol kombinasi daun kirinyuh dan bawang dayak 1:1 memiliki daya hambat aktivitas antibakteri yang efektif karena memiliki ukuran diameter zona hambat 20mm.
PEMANFAATAN SAWI HIJAU (Brassica chinensis var. parachinensis) UNTUK MEMPERPANJANG UMUR SIMPAN MIE BASAH
Penulis: Nadia Atikah Dewi, Raissa Arum Aminah Putri
Menurut Singarimbun, kadar air mie basah mencapai 20%-32% sehingga umur simpannya relatif singkat. Salah satu upaya untuk memperpanjang umur simpan mie basah yaitu dengan menggunakan bahan alami sawi hijau (Brassica rapa var. parachinensis). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi larutan sawi hijau terhadap umur simpan mie basah, tingkat kesukaan, serta mengetahui nilai pH pada mie basah dengan umur simpan terlama. Sebelum penyimpanan dilakukan uji kesukaan terhadap mie basah. Pengukuran umur simpan pH dilakukan dengan cara mengamati perubahan kualitas fisik pada mie basah. Hasil dari penelitian menggunakan uji one way anova menunjukkan mie basah dengan umur simpan terlama diperoleh dari penggunaan larutan sawi hijau 75% selama 48 jam pada suhu ruang. Penggunaan larutan sawi hijau dapat memberikan pengaruh terhadap peningkatan umur simpan mie basah. Akan tetapi, dengan konsentrasi larutan yang semakin meningkat akan mempengaruhi bau dan rasa pada mie basah.