1196 Hasil Pencarian

CITRUS MOUTHWASH: Ekstrak Kulit Semangka Merah (Citrullus lanatus) sebagai Obat Kumur Penghambat Bakteri Streptococcus mutans Penyebab Karies Gigi

Penulis: Sajid Suhla Amilul Haq, Puspita

Penyakit gigi dan mulut menduduki 10 penyakit tertinggi di Indonesia. Streptococcus mutans merupakan mikroorganisme penyebab utama karies gigi. Umumnya, orang menggunakan klorheksidin untuk menjaga kebersihan mulut, tetapi penggunaanya memiliki efek samping seperti pewarnaan pada gigi dan lidah serta pengurangan sensasi rasa pada lidah dan juga bahaya alkohol dalam obat kumur yang dapat menyebabkan kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi terbaik dan efektivitas ekstrak kulit semangka merah dalam membunuh bakteri Streptococcus mutans. Selanjutnya dilakukan pengujian sediaan yang meliputi uji organoleptik, uji pH, uji viskositas dan uji aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans. Hasil penelitian menunjukkan Fotus Mouthwash dapat diformulasikan menjadi sediaan obat kumur dan memenuhi persyaratan uji fisik pada pH, uji viskositas, dan uji organoleptik untuk kejernihan dan warna. Terdapat perbedaan aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans pada sediaan obat kumur dengan variasi konsentrasi ekstrak yaitu formula (1) 1% pada 0.75 mm, formula (2) 3% pada 4 mm, dan formula (3) 5% pada 6 mm yang menjadi formulasi terbaik yang dapat digunakan untuk menghambat bakteri Streptococcus mutans karena kandungan flavonoid, alkaloid, dan tanin sebagai antibakteri. Kata Kunci:Kulit semangka merah, Streptococcus mutans, Obat kumur

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

ANALISIS PENGARUH PUPUK ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SAYURAN

Penulis: Akbar Fahmi, Muhammad Rifqi Rafa Rosyadi

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pupuk organik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman sayuran. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen di mana tanaman sayuran diberi perlakuan pupuk organik dan kelompok kontrol tanpa pupuk organik. Parameter pertumbuhan tanaman seperti tinggi tanaman, jumlah daun, dan luas daun diukur dan hasil produksi tanaman, seperti jumlah dan berat buah, juga dicatat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik secara signifikan meningkatkan pertumbuhan tanaman sayuran dan juga berdampak positif terhadap produksi tanaman sayuran. Pupuk organik memberikan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman secara bertahap dan meningkatkan kondisi tanah. Selain itu, penggunaan pupuk organik juga memiliki implikasi positif terhadap keberlanjutan dan kelestarian lingkungan. Pupuk organik bersifat ramah lingkungan dan dapat memperbaiki struktur tanah serta mengurangi risiko pencemaran lingkungan. Kesimpulannya, penggunaan pupuk organik dapat menjadi alternatif yang efektif dan ramah lingkungan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman sayuran.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

UJI EFEKTIVITAS HIDROGEL EKSTRAK DAUN KEMANGI (Ocimum basilicum) SEBAGAI PLESTER LUKA PENYEMBUH LUKA BAKAR

Penulis: Baasith Nailal Muuna, Muhammad Hammam Shidqi

Daun kemangi (Ocimum basilicum L) merupakan tanaman yang mudah didapatkan di Indonesia. Tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai antipiretik, antifungi, analgesik, antiseptik, antibakteri, hepatoprotektor, imunomodulator, antireppelent dan antiekspektoran. Kandungan kimia yang terdapat pada tumbuhan ini mempunya peran dalam memberi aktivitas farmakologi sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan pemanfaatan daun kemangi sebagai obat alami. Transdermal patch adalah salah satu sediaan lokal yang dapat menghantarkan obat ketempat luka. Sistem penghantaran obat transdermal mempunyai banyak keuntungan yaitu memberikan pelepasan yang konstan, mudah digunakan, mengurangi frekuensi pemberian obat, mengeliminasi first-pass metabolism, serta mengurangi efek samping iritasi lambung dan meningkatkan kebutuhan pasien. Daun kemangi dapat membantu dalam proses penyembuhan luka. Daun kemangi mengandung flavonoid yng bersifat sebagai antibakteri dan antioksidan yang dapat meningkatkan kerja sistem imun dan membantu proses penyembuhan luka yang membantu dalam proses penyembuhan luka. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ekstrak daun kemangi dapat diformulasikan sebagai sediaan patch transdermal dan hasil sediaan yang paling baik dari segi evaluasi. Formulasi sediaan patch transdermal menggunakan zat aktif ekstrak bonggol pisang ambon dengan konsentrasi 10% dengan mengubah basis konsentrasi HPMC dan PVP yang digunakan sebagai polimer dengan perbandingan yaitu formula 1 (100;300), formula 2 (200;200), dan formula 3 (300;100) kemudian dilihat kualitas sediaan dengan dilakukannya uji evaluasi. Dapat disimpulkan bahwa hasil evaluasi sediaan menunjukan bahwa F2 merupakan sediaan yang paling baik karena dari uji organoleptik memiliki warna kuning pucat, tekstur lembut dan elastis.F2 memiliki keseragaman bobot seberat 0,013. F2 memiliki pH 5, F2 memiliki ketebalan patch yaitu 0,16 mm dan memiliki ketahanan lipatan sebanyak lebih dari 300 kali lipatan.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Formulasi Hair Tonic Ekstrak Daun Sirsak dan Daun Sirih Merah Berbasis Nanopartikel sebagai Penghilang Kutu pada Kucing

Penulis: Risyda Hidayah Hikmawati, Meitha Wila Roseyani

Masalah kesehatan yang sering terjadi pada kucing yaitu munculnya kutu pada bulu. Menghilangkan kutu dapat dicegah dengan menggunakan hair tonic berbasis nanopartikel dari ekstrak daun sirsak dan daun sirih merah. Hair tonic ini merupakan hair tonic pertama yang menggunakan teknologi nanopartikel hingga saat ini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas hair tonic berbasis nanopartikel dari ekstrak daun sirsak dan daun sirih merah serta mengetahui harga produk Cat-Murum. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Pembuatan nanopartikel dilakukan menggunakan metode gelas ionik dengan kitosan dan NaTPP. Pengujian dilakukan menggunakan hair tonic nanopartikel ekstrak daun sirsak dan daun sirih merah dengan volume 1,5 ml dan 2 ml serta massa kitosan 0,08 dan 0,1 pada 8 sampel kutu. Parameter yang diamati adalah karakteristik nanopartikel, uji fitokimia, uji organoleptik, uji pH, uji homogenitas, dan uji anti kutu pada kucing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hair tonic nanopartikel ekstrak daun sirsak dan daun sirih merah pada volume 2 ml dan massa kitosan 0,1 lebih efektif dan efisien dalam membasmi kutu kucing.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pemanfaatan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) sebagai Plester Luka Sayat (Vulnus insivum) pada Mencit (Rattus norvegicus)

Penulis: Faticha Isla, Lu'lu'a Lim'a Laila

Indonesia kaya akan sumber bahan obat tradisional yang telah digunakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia secara turun temurun. Sebagai salah satu contoh bahan obat yang bisa dimanfaatkan yaitu tanaman jambu biji (Psidium guajava L.). Ekstrak daun jambu biji mampu menghambat perkembangan bakteri Staphylococcus aureus pada luka. Kemampuan ekstrak daun jambu biji dalam menghambat bakteri Staphylococcus aureus disebabkan oleh adanya senyawa aktif yang terkandung dalam daun jambu biji. Salah satu pengobatan luka adalah menggunakan plester luka. Banyaknya jenis penutup luka (plester) yang beredar hingga kini dirasakan masih memiliki beberapa efek samping yang cukup sensitif bagi kulit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memodifikasi menggunakan bahan dasar alami yang lebih ramah terhadap kulit. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental. Plester daun jambu biji akan dibandingkan dengan plester biasa sebagai pembanding. Hasil penelitian pada hari keriga menunjukkan luka sayat pada plester daun jambu biji dan plester Hansaplast sama-sama bisa menutup luka sayat pada mencit. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa plester daun jambu biji dapat menghambat perkembangbiakan bakteri Staphylococcus aureus yang merupakan penyebab infeksi pada luka. Kata kunci : Daun Jambu Biji, Luka Sayat, Plester, Staphlococcus aureus

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Inovasi Tisu Basah Antibakteri Ekstrak Etanol Pelepah Daun Pisang (Musa paradisiaca) untuk Mencegah Infeksi Kulit Akibat Bakteri Staphylococcus aureus

Penulis: Muhammad Mulzam Ali, Kanahaya Ale Sulaiman

Penelitian kami didasari oleh pernyataan Septiani dkk (2017) yang menyatakan bahwa Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri penyebab infeksi tersering di dunia dan oleh Huda (2013) bahwa salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada masyarakat Indonesia adalah penyakit pada kulit. Seiring dengan perkembangan industri farmasi dan kosmetika muncul produk tisu basah yang dijadikan sebagai alternatif pencuci tangan yang dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun. Melihat masalah di atas, peneliti ingin membuat inovasi tisu basah antibakteri yang berbahan dasar alami yaitu pelepah daun pisang karmilin (Musa paradisiaca). Pelepah daun pisang merupakan bahan alami yang umum ditemukan di berbagai tempat di negara tropis Indonesia, salah satunya di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Kami telah melakukan uji skrining fitokimia didapatkan data bahwa pelepah daun pisang karmilin mengandung senyawa saponin, polifenol, flavonoid, tanin, dan steroid yang merupakan senyawa yang bersifat antibakteri Selain digunakan untuk formulasi cairan tisu basah antibakteri peneliti juga menggunakan pelepah pisang karmilin ini sebagai bahan dasar.pembuatan tisu basah. hasil yang kami temukan menunjukkan bahwa ekstrak pelepah pisang dapat digunakan sebagai anti bakteri dengan kadar tertentu.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Efektivitas Ekstrak Daun Rambutan (Nephelium lappaceum L) Sebagai Inhibitor Terhadap Laju Korosi pada Besi dalam Media Air Payau dan Air Sumur

Penulis: Silvia Rochmatul Ujma, Inarotudduja

Korosi merupakan penurunan mutu logam akibat adanya reaksi elektrokimia dengan lingkungannya. Korosi dapat menimbulkan kerugian biaya yang sangat besar terutama pada konstruksi yang terbuat dari logam. Korosi tidak dapat dicegah namun lajunya dapat dikurangi. Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengurangi laju korosi, salah satunya adalah penggunaan inhibitor. Terdapat dua jenis inhibitor yang beredar di masyarakat, yakni inhibitor organik dan anorganik. Inhibitor organik terbuat dari bagian tumbuhan seperti daun dan buah yang mengandung tannin. Kandungan tannin inilah yang dapat menurunkan laju korosi pada logam besi. Pada penelitian ini dilakukan penambahan inhibitor ekstrak daun rambutan dengan konsentrasi 0% dan 6% terhadap laju korosi pada paku besi daalm media air sumur dan air laut. Dari hasil pengamatan, didapatkan hasil bahwa penggunaan ekstrak daun rambutan sebagai inhibitor dapat menurunkan laju korosi terhadap paku besi. Paku besi dalam media air sumur kehilangan berat sebesar 0,23 gram tanpa inhibitor, dan hanya 0,18 gram dengan pemberian inhibitor. Dalam media air payau, paku besi tanpa inhibitor kehilangan berat sebesar 0,45 gram, sedangkan yang sudah diberi inhibitor hanya kehilangan berat 0,36 gram. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan ekstrak daun rambutan sebagai inhibitor efektif dalam menurunkan laju korosi pada besi. Kata kunci: Korosi, Inhibitor, Daun Rambutan, Air Payau, Air Sumur

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

SMART TIPE-X : Alat Deteksi Cepat untuk Merkuri dan Timbal Pada Kosmetik

Penulis: Nilna Fadla, Ifa Fauziah Maula

Produk kosmetik sangat digemari oleh berbagai kalangan masyarakat khususnya krim pemutih wajah. Namun, banyak oknum yang tidak bertanggung jawab menambahkan beberapa bahan kimia yang berbahaya seperti merkuri dan timbal dengan kadar yang berlebihan tidak sesuai dengan batas yang telah ditentukan oleh BPOM RI. Sehingga menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan konsumen. Daun ketapang, jeruk nipis dan belimbing wuluh berpotensi sebagai reagen alami detektor timbal dan merkuri. Berdasarkan kandungan senyawa metabolit sekunder yang mampu mendeteksi adanya mekuri dan timbal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan bahan kimia berbahaya seperti merkuri dan timbal pada krim pemutih wajah dan membuktikan bahwa ketiga bahan mampu digunakan sebagai detektor alami. Dalam penelitian ini, metode pembuatan reagen melalui tahapan ekstraksi, homogenasi, dan biosintesis nanopartikel. Dari hasil uji sebagian sampel menunjukkan bahwa sampel A mengandung merkuri dan timbal. Dari hasil pengamatan krim pemutih wajah diketahui mengalami perubahan warna dari warna awal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa daun ketapang, jeruk nipis dan belimbing wuluh efektif digunakan sebagai detektor alami yang efisien dan ramah lingkungan. Kata Kunci : Belimbing Wuluh, Daun Ketapang, Jeruk Nipis, Merkuri, Timbal

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Math Adventure Map: Game Edukasi Berbasis Android untuk Meningkatkan Minat dan Kemampuan Menghitung Angka Sederhana Anak Usia 6-8 Tahun

Penulis: Faza Amalia Rizqi

ABSTRAK Matematika merupakan ilmu dasar yang menjadi sarana pemecahan masalah sehari hari, serta dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga matematika mempunyai peranan penting dalam kehidupan. Bagi anak usia 6 sampai 8 tahun mata pelajaran matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit, terutamanya bagi anak yang baru belajar menghitung. Untuk meningkatkan kemampuan menghitung anak diperlukan upaya membuat mata pelajaran matematika menjadi menyenangkan dengan cara pemanfaatan media pembelajaran yang menarik seperti pengembangan game edukasi. Oleh karena itu peniliti mengembangkan game edukasi yang berjudul “Math Adventure Map” yang dibuat menggunakan construct 2, game Math Adventure Map dapat diakses melalui android. Penilitian ini menggunakan metode penelitian RnD (Research and Development) dengan model pengembangan ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, Evaluation). Penilitian ini menggunakan uji compatibility, usability, dan kelayakan ahli media. Berdasarkan uji yang telah dilakukan game Math Adventure Map bisa tergolong layak digunakan dan dapat meningkatkan minat anak usia 6 sampai 8 tahun dalam belajar menghitung angka sederhana. Kata kunci(keywords) : belajar menghitung, construct 3, android

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Uji Efektifitas Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya L.) sebagai Pestisida Alami Pembasmi Kutu pada Beras Pandan Wangi (Oryza sativa L. var.Aromatica)

Penulis: Queen Bilqis Rizqina, Erina Nur Azizah

Beras merupakan makanan utama penduduk Indonesia. Namun, banyak orang mengeluhkan kualitas dari beras raskin, seperti beras mulai busuk karena ada ulatnya ataupun karena banyak kutunya. Kutu beras (Sitophylus oryzae L.) merupakan jenis hama gudang yang dapat merugikan. Beras pandan wangi (Oryza sativa L. var.Aromatica) merupakan salah satu beras unggulan lokal dari Cianjur yang banyak diminati masyarakat. Beras yang aromanya wangi ini apabila terdapat kutu Sitophylus oryzae ini mengakibatkan beras menjadi tidak enak dan bau yang akan menurunkan kualitas beras. Tanaman papaya (Carica papaya L.) berpotensi sebagai biopestisida nabati. Berdasarkan penelitian Juliantara (2010), menyatakan bahwa pestisida nabati daun papaya efektif dalam pengendalian ulat dan hama penghisap. Kemudian penelitian dari Mawuntu, Daun papaya yang baik digunakan sebagai pestisida nabati ialah daun papaya yang sudah tua karena didalam getah daun papaya yang sudah tua terdapat lebih banyak kandungan metabolit sekunder papain yang bermanfaat sebagai pengendalian hama. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan, yaitu : A: Kontrol 0 : 250 ml ekstrak daun papaya murni; B: Perlakuan I: 250 ml ekstrak + 5gr deterjen + 5ml minyak tanah; C: Perlakuan II: 250 ml ekstrak + 10gr deterjen + 10ml minyak tanah; D: Perlakuan III: 250 ml ekstrak + 15gr deterjen + 15ml minyak tanah. Dari hasil penelitian ini kesimpulan diperoleh, yaitu : campuran ekstrak daun papaya dengan 15gr deterjen dan 15 ml minyak tanah bekerja optimal dalam ketahanan hidup kutu beras. Kata kunci : Beras pandan wangi, kutu beras, daun papaya, biopestisida.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail