1196 Hasil Pencarian

EFEKTIVITAS EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) TERHADAP HAMA Formicidae DALAM SEDIAAN PESTISIDA

Penulis: Nabila Aisya Putri Pramono, Ardelia Salma Azzahra

Serangga hama merupakan masalah yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari. Cara mengatasi hama juga bisa dengan banyak cara. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan pestisida nabati memanfaatkan ekstrak bawang putih. Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi tentang potensi tanaman bawang putih sebagai pestisida nabati dalam mengendalikan hama. Penelitian ini menemukan golongan senyawa yang terkandung dalam Bawang putih yang bersifat racun bagi hama antara lain, allicin, alkaloid, saponin, minyak atsiri, flavonoid, tanin, dan sulfur. Flavonoid mempunyai efek toksik, anti mikroba atau sebagai pelindung tanaman dari patogen dan antifeedant atau racun penghambat nafsu makan serangga. Kata kunci : Bawang putih (Allium sativum L.), Serangga hama Formicidae, Pestisida, Flavonoid.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Ecojena : Ekoenzim dari Kulit Buah Jeruk (Citrus reticulata) dan Nanas (Ananas comosus) sebagai Sabun Cuci Piring Alami

Penulis: Amira Salma Salsabila, Anisa Hanifah Kusuma Wardani

Sampah domestik atau limbah rumah tangga merupakan bahan buangan yang timbul karena adanya aktivitas manusia. Sampah rumah tangga terdiri dari sampah organik dan sampah anorganik. Pengelolaan sampah organik di Indonesia masih tergolong rendah dikarenakan persentase yang melakukan daur ulang hanya mencapai 1,2 persen. Limbah organik perlu diadakan pengolahan agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan maupun lingkungan. Salah satunya dengan dibuat menjadi ekoenzim. Sampah organik kulit buah terutama kulit jeruk keprok (Citrus reticulata) dan nanas (Ananas comosus) banyak dihasilkan terutama di pasar atau toko buah. Oleh karena itu, sampah kulit buah tersebut dapat dimanfaatkan untuk membuat ekoenzim sebagai sabun cuci piring yang alami dan ramah lingkungan. Karena sabun cuci berfungsi sebagai penghilang kotoran dan lemak pada peralatan makan dan masak dan sebagai salah satu kebutuhan utama termasuk dalam kebutuhan pokok, tetapi sabun cair cuci piring tidak termasuk dalam kebutuhan primer. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah mengetahui formulasi ekoenzim dari kulit jeruk keprok dan nanas yang terbaik sebagai sabun cuci piring alami, mengetahui efektivitas ekoenzim dari kulit jeruk keprok dan nanas sebagai sabun cuci piring, dan mengetahui pengaruh ekoenzim dari kulit jeruk keprok dan nanas terhadap lingkungan. Hasil penelitian ini adalah pada uji fitokimia positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin; pada uji organoleptik semua variabel ekoenzim memberikan aroma asam dan berwarna cokelat; pada uji pH menunjukkan bahwa ekoenzim memiliki nilai pH 3 sedangkan sabun cuci piring memiliki pH 8; dan pada uji LC50 didapatkan nilai sebesar 1,71 ppm. Kata kunci (keyword) : Ecojena , Ekoenzim, Kulit Jeruk Keprok (Citrus reticulata), Kulit Nanas (Ananas comosus), Sabun Cuci Piring.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

CITRUS MOUTHWASH: Ekstrak Kulit Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) sebagai Obat Kumur Penghambat Bakteri Streptococcus mutans Penyebab Karies Gigi

Penulis: Hanif Fadlilatul Husna, Yadira Pradnya Eksanta

Penyakit gigi dan mulut termasuk dalam 10 penyakit dengan penderita terbanyak di Indonesia. Streptococcus mutans merupakan mikroorganisme penyebab utama karies gigi. Umumnya, orang menggunakan klorheksidin untuk menjaga kebersihan mulut. Penggunaan klorheksidin dalam obat kumur memiliki efek samping seperti pewarnaan pada gigi dan lidah, pengurangan sensasi rasa pada lidah, dan bahaya alkohol di dalamnya yang dapat menyebabkan kanker. Salah satu bahan alami yang bermanfaat sebagai antibakteri adalah kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia). Ekstrak kulit tersebut memiliki kandungan utama flavonoid dan tanin yang merupakan senyawa polifenol terbesar sebagai antibakteri. Formulasi obat kumur ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia) bertujuan untuk mengetahui formulasi terbaik dan efektivitas ekstrak tersebut dalam membunuh bakteri Streptococcus mutans. Ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia) yang diformulasikan menjadi sediaan obat kumur divariasikan dalam konsentrasi ekstrak 1%, 3%, dan 5%. Selanjutnya, dilakukan pengujian sediaan yang meliputi uji organoleptik, uji pH, uji viskositas dan uji aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dapat diformulasikan menjadi sediaan obat kumur dan memenuhi persyaratan uji fisik pada pH, uji viskositas, dan uji organoleptik untuk kejernihan dan warna. Terdapat perbedaan aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans pada sediaan obat kumur dengan variasi konsentrasi ekstrak dan besar zona bening yaitu formula 1 konsentrasi 1% sebesar 0.75 mm, formula 2 konsentrasi 3% sebesar 4 mm, dan formula 3 konsentrasi 5% sebesar 6 mm sebagai formulasi obat kumur terbaik yang dapat digunakan untuk menghambat bakteri Streptococcus mutans karena kandungan flavonoid, alkaloid, dan tanin sebagai antibakteri. Kata Kunci: kulit jeruk nipis, Strepcoccus mutans, obat kumur

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

UJI EMULSI PEMBUATAN ES KRIM DENGAN PENGGUNAAN KUNING TELUR AYAM KAMPUNG

Penulis: Natasya Wahyu Arthameivia

Es krim merupakan produk yang berasal dari olahan susu dan mempunyai tekstur semi padat dan dikonsumsi dalam keadaan beku. Salah satu bahan yang terpenting di dalam pembuatan es krim adalah pengemulsi atau emulsifier. Penggunaan kuning telur dengan konsentrasi yang tepat mampu meningkatkan kekentalan, tekstur serta daya suka konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis tentang uji pengemulsi pada pembuatan es krim dengan pengemulsi kuning telur ayam kampung terhadap kualitas warna, aroma, tekstur, dan rasa es krim. Proses pengambilan data sampel menggunakan jenis metode Indepth Interview (wawancara) kepada 10 orang reponden. Hasil wawancara mengatakan bahwa es krim dengan pengemulsi kuning telur ayam kampung memiliki karakteristik es krim yang bertekstur lembut dan halus, pertumbuhan kristal es yang minim, aroma dan rasa yang khas ditimbulkan dari kuning telur ayam kampung, serta warna yang ditimbulkan cerah alami dari susu. Sedangkan, untuk hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa informan memberikan respon positif dari es krim dengan pengemulsi kuning telur ayam kampung.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

SACATIVE (Mimosa Pudica Natural Preservative) Sebagai Pengawet Alternatif Alami Daging Sapi

Penulis: Noviana Saskia Sabrina, Najwa Khilda Safira

Daging sapi merupakan sumber protein hewani yang sering di konsumsi masyarakat. Mahalnya harga daging sapi membuat konsumen untuk lebih bijak menyimpan atau mengawetkan daging agar tidak mudah busuk ketika daging dikonsumsi sehingga bermanfaat bagi tubuh. Di sisi lain, potensi tumbuhan putri malu di Indonesia masih kurang termanfaatkan dengan optimal, dapat terlihat dari keberadaannya di lingkungan lebih dipandang masyarakat sebagai tumbuhan pengganggu atau gulma. Kandungan senyawa saponin dari daun putri malu berpotensi digunakan sebagai antibakteri yang dapat dikembangkan dalam bentuk produk pengawet alami, salah satunya untuk pengawet daging sapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa pada tumbuhan putri malu dan mengetahui efektivitas ekstrak tumbuhan putri malu sebagai pengawet daging sapi. Proses ekstraksi daun putri malu menggunakan metode maserasi. Dilakukan dengan cara pembersihan, pengeringan, penghalusan, perendaman dan penyaringan hasil ekstraksi. Kesimpulan yang diperoleh setelah melakukan penelitian pembuatan SACATIVE adalah (1) Berdasarkan hasil pengujian skrinning fitokimia tumbuhan Putri Malu mengandung senyawa Flavonoid, Alkaloid, dan Saponin. (2) Berdasarkan hasil pengamatan dengan variasi semprot SACATIVE dengan waktu perlakuan selama 6 jam, (a) kontrol, (b) 4 kali semprot, (c) 6 kali semprot, (d) 8 kali semprot. Kata Kunci : Daun Putri Malu, Daging Sapi, Ekstraksi, Maserasi

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Efektivitas Flavonoid pada Daun Salam (Syzygium polyanthum)

Penulis: Widya Hestyaningrum, Mutia Suci Hafidha

Identifikasi flavonoid pada daun salam (Syzygium polyanthum) adalah sebuah penelitian yang bertujuan untuk menentukan komposisi flavonoid yang terkandung dalam tumbuhan ini. Flavonoid merupakan senyawa kimia yang memiliki potensi farmakologis dan dapat memberikan manfaat kesehatan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis kimia yang meliputi ekstraksi dan uji fitokimia untuk mencari senyawa flavonoid pada daun salam. Metode ekstraksi menggunakan pelarut organik seperti etanol 96% untuk mengambil senyawa-senyawa flavonoid dari daun salam. Ekstrak yang diperoleh kemudian dipisahkan menggunakan teknik maserasi. Metode ini dipilih karena pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diperoleh maseratnya, serta proses perendaman yang cukup lama diharapkan dapat menarik lebih banyak zat aktif yang terkandung di dalam simplisia. Pemisahan ini bertujuan untuk memisahkan senyawa flavonoid individual dan mengidentifikasi jenis flavonoid yang hadir dalam daun salam. Hasil identifikasi flavonoid pada daun salam memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang komposisi kimia tumbuhan ini. Informasi ini dapat digunakan untuk penelitian lebih lanjut mengenai potensi farmakologis daun salam, aktivitas biologisnya, serta pengembangan potensi penggunaannya dalam bidang farmasi atau suplemen kesehatan. Dengan demikian, identifikasi flavonoid pada daun salam memberikan kontribusi penting dalam memahami kandungan kimia tumbuhan ini dan potensi manfaatnya. Penelitian ini memberikan landasan ilmiah yang solid untuk pengembangan lebih lanjut dalam bidang farmasi dan kesehatan terkait dengan tumbuhan daun salam (Syzygium polyanthum).

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pengaruh Kepekatan Limbah Cair Air Cucian Beras Sebagai Air Penyiram Terhadap Pertumbuhan Tanaman Bayam

Penulis: Yovie Indra Brilianto, Muhammad Ilham Alfatah

Abstrak: Limbah air cucian beras dapat mencemari lingkungan dan mempengaruhi kualitas tanahserta pertumbuhan tanaman.Padahal,limbah cucian beras dapat digunakan sebagai pupuk untukmempercepat proses pertumbuhan berbagai jenis tanaman. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuanuntuk mengevaluasi pengaruh kepekatan limbah cair air cucian beras terhadap pertumbuhantanaman bayam/Amaranthus tricolor.Penelitian dilakukan menggunakan limbah cair air cucianberas dengan konsentrasi 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100%.Parameter yang diamatiadalah panjangtanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepekatan limbah cair air cucian beras berpengaruhsignifikan terhadap tinggi segar tanaman bayam /Amaranthus tricolor.Tinggi tanaman dan beratsegar tertinggi dicapai pada konsentrasi 50% limbah cair air cucian beras, sedangkan tinggi segartanaman terendah dicapai pada konsentrasi 75%, sementara pada konsentrasi 100% tidakmengalami pertumbuhan dikarenakan tidak ada tambahan air tawar. Kesimpulannya, limbah air cucian beras dapat mempengaruhi pertumbuhan tanamanbayam /Amaranthus tricolor. Konsentrasi limbah cair air cucian beras yang tepat untukmeningkatkan pertumbuhan tanaman adalah 50%. Diharapkan hasil penelitian ini dapatmemberikan informasi yang berguna dalam pengelolaan limbah cair air cucian beras danmeningkatkan produktivitas pertanian secara berkelanjutan. Kata Kunci:Bayam,Air Cucian Beras,Pertanian

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

PEMANFAATAN SAMPAH ORGANIK RUMAH TANGGA MENJADI CAIRAN ECO-ENZYME UNTUK TANAMAN KANGKUNG AIR (Ipomoea aquatic)

Penulis: Zaskia Ardia Meta, Lintang Hanun Nisa

Keberadaan sampah rumah tangga yang berlebihan dapat berdampak buruk terhadap keseimbangan ekosistem lingkungan dan menyebabkan munculnya penyakit bagi masyarakat. Perlu adanya pengelolaan terhadap sampah rumah tangga tersebut supaya tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Selain itu jumlah penduduk Indonesia yang bertambah tiap tahunnya menyebabkan meningkatnya aktivitas manusia, sehingga semakin banyak sampah domestik dan sampah padat (sampah organik dan sampah anorganik) yang dihasilkan. Untuk mengatasi masalah tersebut sampah organik rumah tangga dapat dimanfaatkan menjadi cairan eco-enzyme yang digunakan sebagai cairan pestisida alami bagi tanaman. Disamping itu untuk menjaga kesehatan masyarakat salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengonsumsi makanan yang bergizi seperti sayur-sayuran. Kangkung adalah sayur yang banyak digemari masyarakat Indonesia dan memiliki kandungan gizi yang bermanfaat untuk tubuh, kangkung juga mudah ditanam tidak membutuhkan lahan yang luas dan biaya mahal. Oleh karena itu memanfaatkan sampah organik rumah tangga sebagai cairan eco-enzyme, tanaman kangkung dapat dengan mudah dibudidayakan masyarakat Indonesia. Sehingga tercipta keseimbangan ekosistem lingkungan dan kesehatan.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Formulasi Obat Kumur Ekstrak Daun Kersen (Muntinga calabura L) sebagai Pereda Gusi Bengkak akibat Dental Calculus dari Bakteri Streptococcus mutans

Penulis: Shelia Dewi Masithoh, Itsna Azzahra Setyahadi

Gusi bengkak merupakan masalah pada gusi yang sering dialami banyak orang, hal tersebut dikarenakan terdapat sisa-sisa makanan, hormon kehamilan, konsumsi obat-obatan, iritasi, penumpukan plak, karang gigi (kalkulus), dan kekurangan vitamin C. Streptococcus sanguinis dan Streptococcus mutans adalah mikroorganisme yang menjadi penyebab utama karies gigi. Salah satu tumbuhan yang bermanfaat sebagai antimikroba adalah daun kersen (Muntingia calabura L). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi yang paling efektif dari gel ekstrak daun Kersen (Muntinga Calabura L) sebagai pereda gusi akibat dental calculus dari bakteri Streptococcus mutans. Daun Kersen disortasi terlebih dahulu untuk memisahkan kotoran, kemudian daun dicuci dengan air bersih mengalir kemudian di keringkan di dalam oven dengan suhu 100oC selama sekitar 60 menit lalu dihaluskan dengan blender hingga menjadi serbuk daun kersen. Serbuk daun kersen diberi cairan etanol dan di diamkan 2 hari dengan cara 1 hari di aduk 2 kali, setelah 2 hari campuran tersebut saring menggunakan kertas saring yang di bawah nya ada corong dan toples kaca. Lalu keringkan dengan hair dryer sampai menjadi ekstrak kental, ketika sudah mengental, ekstrak kental tersebut dilarutkan dengan aquades. Lalu pengujian pH dilakukan untuk mengetahui kadar keasaman Obat kumur dari buah Kersen untuk Gusi Bengkak akibat Dental Calculus, dan pengujian organoleptik formulasi yang telah dibuat kemudian dilakukan pengamatan secara kualitatif terhadap bau, warna, dan rasa. Uji organoleptik dilakukan pada setiap formula yang disimpan selama 5 hari pada suhu kamar, kemudian dilakukan pengamatan selama 5 hari. Keyword: Antimikroba, daun kersen, gusi bengkak, Strepcoccus mutans.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Daun Pepaya (Carica Papaya L.) Terhadap Sifat Fisik Pada Pembuatan Sabun Mandi Padat

Penulis: Akhadil Alya Safina, Inas Nur Halimatus Salima

Kulit adalah bagian penting dari tubuh manusia yang melindungi bagian dalam tubuh dari gangguan fisik maupun mekanik, panas atau dingin, gangguan kuman, bakteri, jamur, dan virus. Oleh karena itu, manusia membutuhkan sediaan untuk menjaga kulit, salah satunya menggunakan sediaan sabun mandi padat. Akhir akhir ini, sabun mandi antibakteri sangat diminati oleh masyarakat. Salah satu bahan alam yang sering dimanfaatkan adalah daun pepaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak daun papaya terhadap sifat fisik sabun mandi padat dan untuk mengetahui konsentrasi ekstrak daun papaya yang tepat terhadap sifat fisik sabun mandi padat. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Metode yang dilakukan yaitu pemurnian minyak jelantah dimana minyak jelantah di adsorbsikan menggunakan arang kayu. Pengambilan ekstrak etanol daun pepaya menggunakan metode maserasi. Adonan sabun dituang pada cetakan dan didiamkan selama 1 hari. Sabun yang kering dipisahkan dari wadahnya, kemudian masuk proses curring dan didiamkan selama 12 hari. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan meliputi warna, aroma, tekstur, busa, dan kelembapan, serta uji pH. Hasil dari pengamatan selama 2 minggu, sabun tidak memiliki perubahan yang signifikan. Semakin tinggi ekstrak daun pepaya yang ditambahkan, semakin tinggi tingkat kelembapan sabun dan semakin pekat warna sabun mandi tersebut. Akan tetapi, hal ini nampaknya tidak berpengauh terhadap busa yang dihasilkan. Sabun mandi padat memiliki rentang pH yang aman yaitu antara 9-11 dimana memenuhi standar yaitu antara 8-11.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail