1196 Hasil Pencarian

Efektivitas Serat Daun Sirsak (Annona muricata L.) dan Ekstrak Daun Mint (Mentha piperita L.) sebagai Pembalut Wanita

Penulis: Zuhriya Firdausi, Iffana Alayya Novida

Masalah pembalut sekali pakai menjadi permasalahan terutama dalam hal sampah plastik yang sulit terurai. Pembalut sekali pakai yang mengandung bahan yang kurang ramah lingkungan dan memperbanyak sampah plastik, sehingga muncul terobosan untuk kembali menggunakan pembalut berbahan kain yang dapat dicuci ulang. Tanaman disekitar mempunyai potensi sebagai pengganti pembalut yaitu daun sirsak yang memiliki kandungan fitokimia. Selain itu, ekstrak daun mint dapat memberikan sensasi dingin karena mengandung minyak atsiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kandungan senyawa ekstrak daun sirsak dan mengetahui pengaplikasian serat daun sirsak dan ekstrak daun mint pada pembalut wanita. Daun sirsak dibuat dengan cara pengeringan menggunakan oven dan dicetak menggunakan cetakan. Pada Ekstrak daun mint dibuat dengan cara maserasi dengan pelarut aceton. Kemudian ekstrak kental daun mint ditambahkan dalam serat daun sirsak, dibalut menggunakan kassa dan dimasukkan kedalam pembalut kain. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa daun sirsak mempunyai kandungan fitokimia yaitu flavonoid, saponin, dan tanin. Pengaplikasian daun sirsak dan ekstrak daun mint pada pembalut dibuat dalam bentuk serat yang dibalut dengan kassa.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Samafoam : Biodegradable Foam Ampas Tebu (Saccharum officinarum L.) dan Tepung Ferkusi sebagai Kemasan Makanan Ramah Lingkungan

Penulis: Muhammad Rafiqul Maajid, Ersya Khairun Nisya

Styrofoam adalah salah satu jenis plastik yang digunakan sebagai kemasan sekali pakai. Penggunaan styrofoam menyebabkan peningkatan jumlah sampah yang tidak dapat terdegradasi. Salah satu pilihan pengganti styrofoam adalah menggunakan biofoam. Biofoam adalah bahan organik ramah lingkungan yang dapat terdegradasi. Biofoam dapat dibuat dari tepung ferkusi dan serat selulosa ampas tebu. Tepung ferkusi adalah tepung kulit singkong yang difermentasi menggunakan angkak. Kulit singkong dipilih karena memiliki kandungan pati yang cukup tinggi yaitu sebesar 44%-59%. Proses fermentasi bertujuan untuk meningkatkan protein dan menghilangkan HCN. Ampas tebu merupakan limbah sisa penggilingan tanaman tebu. Ampas tebu mengandung 37,7% serat sehingga berpotensi sebagai sumber serat dalam pembuatan biodegradable foam. Biofoam dibuat dengan variasi B0(0%:100%), B1(25%:75%), B2(50%:50%), dan B3(75%:25%). Biofoam yang dihasilkan ternyata belum dapat digunakan sebagai pembungkus makanan. Nilai daya serap air cukup besar yaitu 116,102% - 220,488%, nilai biodegradasi yang bernilai negatif, dan terjadi peluruhan biofoam pada makanan.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

BIOPLASTIK DARI PATI TALAS (Colocasia esculenta) DAN RUMPUT LAUT (Eucheuma spinosom)

Penulis: Muh Fairuz Luthfi Hukama, Dzikri Maula Salam

ABSTRAK Maraknya penggunaan plastik saat ini memiliki dampak yang cukup berbahaya bagi lingkungan. Tak hanya lingkungan, dampak sampah plastik juga dapat memengaruhi kondisi kesehatan. Hal ini perlu diperhatikan karena kehidupan manusia tidak terlepas dari penggunaan plastik di dalamnya. Oleh karena itu, diperlukan cara tepat untuk mengurangi dampak buruk yang ditimbulkan sampah plastik. Banyak jenis tumbuhan yang bisa menjadi bahan dasar pembuatan bioplastik, salah satu tumbuhan yang bisa dijadikan bahan dasar adalah umbi talas (Colocasia esculenta). Pemilihan umbi Talas (Colocasia esculenta) dimaksudkan karena umbi talas memliki kadar pati 80% dan kadar amilopektin 74,45%. Pengambilan umbi pati dari talas adalah dengan cara pemarutan talas dan mengendapkannya dengan air selama 24 jam, pati dikeringkan dalam oven pada suhu antara 60-70°C. Konsentrasi pati dari talas yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah 60 gram dan 30 gram yang akan dipakai untuk variabel I dan variabel II. Bioplastik yang akan dibuat memiliki 3 variabel. Variabel pertama hanya dengan menggunakan pati talas 60 gram dicampur dengan variabel kontrol, yaitu gliserol 5 ml, asam asetat 5 ml, dan aquades 680 ml. Variabel kedua dengan mencampurkan pati talas 30 gram dan karagenan dari eucheuma 30 gram serta variabel kontrol, dan variabel ketiga yaitu hanya dengan menggunakan karagenan dari eucheuma 60 gram yang akan dicampur dengan variabel kontrol. Dari hasil pengujian didapatkan variabel III lebih unggul dalam beberapa pengujian, seperti uji tensile strength dan uji warna. Kata kunci: bioplastik, umbi talas, pati, amilopektin, karagenan, variabel.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Analisis Toksisitas Kandungan Senyawa Ekstrak Akar Tuba (Derris elliptica B.) dan Batang Serai (Cymbopogon citratus) sebagai Biofungisida terhadap Jamur Colletotrichum capsici Penyebab Penyakit Antraknosa pada Tanaman Cabai Merah (Capsicum annuum L.)

Penulis: Karina Sekar Aji, Arly Aullia Azka

Masalah serius yang sering dihadapi para petani cabai di Indonesia adalah penyakit antraknosa (patek) yang disebabkan oleh infeksi jamur Colletotrichum capsici. Para petani mengalami kerugian hasil panen hingga 90% terutama jika terjadi pada musim penghujan. Masalah ini biasanya diatasi dengan fungisida sintetik yang menyebabkan pencemaran lingkungan serta menimbulkan dampak negatif pada masyarakat. Akar tuba dan batang serai berpotensi digunakan sebagai biofungisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat toksisitas kandungan senyawa ekstrak akar tuba dan batang serai dan untuk mengetahui kemampuan ekstrak akar tuba dan batang serai terhadap pengendalian penyakit antraknosa. Pada penelitian ini ekstraksi akar tuba dan batang serai dilakukan dengan metode maserasi. Berdasarkan uji fitokimia, ekstrak akar tuba dan batang serai terbukti mengandung senyawa golongan alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid. Berdasarkan uji GC-MS, ekstrak akar tuba dan batang serai mengandung senyawa yang berpotensi digunakan sebagai biofungisida seperti 1-naphthalenol, 2-naphthalenol, torreyol, damascenone dan octahydrophenanthrene. Kemampuan biofungisida diuji dengan menggunakan metode BSLT dan diperoleh nilai LC50 sebesar 37,56 ppm, sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak akar tuba dan batang serai efektif digunakan sebagai fungisida ramah lingkungan.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

PEMANFAATAN LIMBAH POPOK BAYI DAN SERASAH JAGUNG SEBAGAI BAHAN TAMBAHAN PEMBUATAN GENTENG BETON

Penulis: Aina Ismiyatul Maula, Anas Zaskia Athaya Putri

Genteng beton merupakan penutup atap yang baik namun cukup berat, sehingga berpengaruh terhadap ukuran reng yang semakin besar dan kokoh namun diperlukan biaya yang lebih mahal. Di sisi lain banyaknya sampah popok bayi dan serasah jagung yang belum banyak dimanfaatkan menarik peneliti untuk meneliti tentang pemanfaatan limbah popok bayi dan serasah jagung sebagai bahan tambah untuk genteng beton ramah lingkungan yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas genteng beton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisis, mekanis, dan termal dari genteng beton termodifikasi limbah popok bayi dan serasah jagung. Penelitian ini dimulai dengan preparasi limbah popok bayi, preparasi serasah jagung, dan pembuatan spesimen uji yang dilanjutkan dengan pengujian yang terdiri dari uji kerapatan, penyerapan air, impermeabilitas, impak dan termal. Hasil penelitian menunjukkan spesimen uji genteng beton variasi 1 memiliki kerapatan 1,96g/cm3, daya serap air 12,6%, tidak rembes air, kekuatan impak 3,81KJ/m2 dan kemampuan nyala 0mm/s. Variasi 2 memiliki kerapatan 1,27g/cm3, daya serap air 38,9%, rembes air, kekuatan impak 2,34 KJ/m2 dan kemampuan nyala 0,166mm/s. Variasi 3 memiliki kerapatan 1,65g/cm3 , impermeabilitas 14,9 %, tidak rembes air, memiliki kekuatan impak 25,45KJ/m2 dan kemampuan nyala 0.053mm/s. Variasi 4 memiliki kerapatan 0,99g/cm3, impermeabilitas 64%, rembes air, memiliki kekuatan impak 1,91KJ/m² dan kemampuan nyala 0,32mm/s. Variasi 5 memiliki kerapatan 1,31g/cm3, impermeabilitas 31,8%, tidak rembes air, memiliki kekuatan impak 22,07KJ/m2 dan kemampuan nyala 0mm/s. Variasi 6 memiliki kerapatan 1,25g/cm3, impermeabilitas 32,3%, rembes air, memiliki kekuatan impak 9,55KJ/m² dan kemampuan nyala 0mm/s. Kata Kunci: Genteng Beton, Limbah Popok Bayi, Serasah Jagung

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pemanfaatan Sintesis Carbon Dots Terdoping Dalam Bidang Forensik Untuk Deteksi Sidik Jari Berbasis Spray

Penulis: SURYA ADITYA, ABDURRAHMAN RIZQY FATIHA

Kriminalitas merupakan tindakan pelanggaran norma hukum yang menimbulkan kerugian bagi manusia. Kriminalitas di Indonesia meningkat sebanyak 19,72 persen selama pandemi corona. Banyak metode yang digunakan untuk meminimalisir kasus kriminalitas, Salah satunya adalah analisis sidik jari. Oleh karena itu, peneliti ingin melakukan sebuah penelitian tentang pemanfaatan sintesis carbon dots terdoping untuk deteksi sidik jari. Mekanisme doping diharapkan mampu meningkatkan performa carbon dots. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik carbon dots terdoping yang digunakan untuk mendeteksi sidik jari dan mengetahui efektivitas sintesis carbon dots terdoping dalam mendeteksi sidik jari. Carbon dots yang digunakan disintesis dari dua bahan dasar yang berbeda yaitu asam sitrat dan sekam padi. Sementara doping yang digunakan adalah unsur Nitrogen serta unsur Sulfur. Metode yang digunakan dalam sintesis carbon dots terdoping adalah radiasi microwave. Dari masing- masing bahan dasar, dibuat dua jenis sampel yaitu carbon dots murni dan carbon dots terdoping. Sampel carbon dots yang telah diperoleh menjalani berberapa pengujian yaitu uji spektrum absorbansi, uji particle size analyzer, uji perpendaran sampel carbon dots, dan uji perpendaran pada pola sidik jari. Hasil pengujian absorbansi dan particle size analyzer menunjukkan bahwa sampel carbon dots asam sitrat terdoping Nitrogen dengan perbandingan konsentrasi 1:6 memiliki hasil absorbansi terbaik dan memiliki ukuran partikel yang lebih kecil. Sampel carbon dots tersebut juga merupakan sampel yang paling efektif untuk mendeteksi sidik jari karena memiliki perpendaran pola sidik jari yang mudah diamati ketika diaplikasikan pada permukaan kertas HVS.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pemanfaatan Ekstrak Buah Kepel (Stelechocarpus Burahol) sebagai Deodorant Spray Alami Pencegah Bau Badan

Penulis: Nazara Syita Anahda, Zahra Aulia

Masalah bau badan di kalangan masyarakat cukup membuat pengaruh deodorant ini sangat dibutuhkan. Kerugian yang ditimbulkan dari bau badan cukup mempengaruhi aktifitas dan bahkan lingkungan. Bau badan biasanya ditimbulkan adanya bakteri (staphylococcus epidermidis). Bau badan yang berlebih dapat membuat lingkungan sekitar menjadi terganggu. Maka diperlukannya deodorant untuk mengatasi hal tersebut, banyaknya deodorant yang tersebar dipasaran merupakan deodorant berbahan kimia. Deodorant alami kini jarang digunakan di kalangan masyarakat, padahal banyak nya penggunaan deodorant kimia dapat memberikan efek samping yang cukup merugikan. Dengan adanya deodorant alami maka dapat menjadi salah satu solusi mengurangi bau badan dengan bahan yang natural tanpa memberikan efek samping. Dengan bahan dasar ekstrak daun kepel (Stelechocarpus Burhaol) yang memiliki kandungan senyawa flavonoid sebagai antibakteri, antioksidan, antiinflamasi, dan antikanker. Ekstrak kepel dapat berpotensi dijadikan deodorant alami. Peneliian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan daun buah kepel sebagai deodorant alami. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi daun buah kepel, pelarut etanol, propilen glikol, dan alcohol 95%. Metode yang digunakan adalah penelitian eksperimental, yaitu pembuatan daun buah kepel menjadi ekstrak yang akan digunakan sebagai bahan baku deorant alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun kepel yang dijadikan ekstrak untuk pembuatan deodorant alami berpengaruh pada pengujian iritasi kulit, organoleptik, dan hasilnya memiliki kualitas yang baik. Maka dari itu, penelitian ini aktif dapat digunakan. Kata kunci: bau badan, deodorant alami, buah kepel.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pemanfaatan Arang Aktif dari Sekam Padi sebagai Adsorben dalam Pemurnian Minyak Jelantah

Penulis: Rani Nabila Fauzi, Salsabila Intan Ardianti

Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, sebagai bahan pengolahan makanan. Ini memiliki fitur media penggorengan yang penting dan meningkat, dan umumnya merupakan produksi sampingan yang penting yang disebut minyak limbah. Penelitian ini akhirnya mengusulkan persentase bilangan peroksida dan penurunan bilangan yodium dalam minyak bekas setelah absorben digunakan. Tujuan lainnya adalah untuk mengukur konsentrasi cairan KOH pada arang untuk menyerap limbah minyak juga. Arang padi yang diaktivasi dalam cairan aktivator KOH dengan konsentrasi KOH 10%, 15%, dan 20%. Disaring dengan kertas saring kemudian dicuci dalam aquadest level PH 7. Dikeringkan dalam oven pada suhu kamar pada suhu 4000C selama 2 jam. Langkah selanjutnya adalah limbah minyak dan arang aktif yang telah dicampurkan dalam beaker glass yang kemudian diserap dalam 24 jam dengan Erlenmeyer setelahnya, disaring dan dianalisis bilangan peroksida dan bilangan yodium. Penelitian yang dilakukan adalah limbah minyak menggunakan arang aktif alde padi untuk menurunkan kadar peroksida sebesar 66,67% dan yodium sebesar 57,17%. Perendaman terendam dan kadar aktivator arang aktif berpengaruh terhadap hasil furifikasi minyak . Berdasarkan hasil penelitian telah dibuktikan bahwa waktu optimal adalah 24 jam dengan konsentrasi KOH 15% dan 20 % . Kata kunci : absorbsi, minyak jelantah, arang aktif.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

S-Brick (Soundproofing Brick): Batu Bata Komposit Pereduksi Kebisingan sebagai Material Green Building SDGs Construction

Penulis: Puspita, Sajid Suhla Amilul Haq

Pertumbuhan dan perkembangan industri konstruksi di Indonesia berkembang sangatlah pesat dengan meningkatkan kualitas dari konstruksi pada green building atau bangunan ramah lingkungan yang berkorelasi erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Kebisingan adalah bunyi yang tidak dikehendaki oleh telinga dalam jangka panjang bunyi tersebut dapat mengganggu ketenangan bekerja, merusak pendengaran, danmenimbulkan kesalahan komunikasi. Batu bata adalah bahan konstruksi paling mudah dan sering diterapkan di bangunan dengan konsep baru yaitu Bata Beton Sistem Interlock sebagai pasangan dinding dengan kuncian dalam. Penelitian pengembangan S-Brick (Soundproofing Brick): Batu Bata Beton Pereduksi Kebisingan sebagai Material Green Building SDGs Construction dengan tiga material limbah yaitu Terak Tembaga, Serbuk Cangkang Kerang, dan Karet Vulkanisir harus dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Mengetahui cara pembuatan S-Brick (Soundproofing Brick). 2) Menganalisis sifat fisis dan mekanik dari S-Brick (Soundproofing Brick). 3) Menganalisis sifat Pereduksi Kebisingan atau Soundproofing Noise dari S-Brick (Soundproofing Brick). Hasil pengujian menunjukkan sampel terbaik adalah C20 dengan kandungan 40% terak tembaga dan 20% karet vulkanisir. Metode pengujian terdiri atas Uji sifat fisis dan mekanik melalui Uji Kerapatan (JIS A 5417-1992) dengan hasil 3,45 gr/cm3, Uji Daya Serap Air (SNI 15-2094-2000) dengan hasil 0,05% dan Uji Impact (ASTM-D638) dengan hasil 160kJ/m2. Uji sifat pereduksi kebisingan menggunakan Soundproofing Test (ISO 16283-3)dengan hasil 10,08 db. Berdasarkan hasil diatas S-Brick dapat mereduksi kebisingan di atas 10 dB dan lebih kuat tiga kali dari bata tanah liat merah biasa. Kata kunci: S-Brick, Bata Beton, Pereduksi Kebisingan, Green Building

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pengaruh Lama Perendaman Menggunakan Cuka Saguer Terhadap Peningkatan Kualitas Fisik Daging Kelinci

Penulis: Rizal Anugera Naufala, Rafif Raissa Widyanto

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kualitas sifat fisik daging kelinci setelah perendaman menggunakan cuka saguer. Cuka saguer yang digunakan untuk merendam daging dalam penelitian ini adalah hasil fermentasi dari cairan pohon enau selama 2 minggu. Daging yang digunakan untuk direndam adalah daging kelinci yang diambil pada bagian dada. Percobaan ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan yang terdiri dari perlakuan R0 daging kelinci tanpa direndam, R1 daging kelinci yang direndam dengan cuka saguer selama 20 menit, R2 daging kelinci yang direndam dengan cuka saguer selama 40 menit, R3 daging kelinci yang direndam dengan cuka saguer selama 60 menit, dan R4 daging kelinci yang direndam dengan cuka saguer selama 80 menit. Setiap perlakuan dilakukan tiga kali ulangan. Apabila terdapat perbedaan yang nyata dalam analisis varian maka pembanding rata-rata dilakukan dengan menggunakan uji DMRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman dengan cuka saguer pada daging kelinci memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pH, sedangkan tekstur dan warna daging tidak signifikan. Kesimpulannya adalah perendaman selama 20 menit dengan cuka saguer dapat digunakan untuk merendam daging entok karena secara kualitas dapat mempertahankan tekstur daging dan warna daging pada kondisi pH daging yang normal. Kata kunci: daging kelinci, cuka saguer, kualitas fisik daging

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail