1196 Hasil Pencarian
Potensi Biji Jagung Manis (Zea mays saccharata) sebagai Alternatif Media Pertumbuhan Jamur Pengurai Plastik LDPE Aspergillus niger
Penulis: Nafilah Salsabila Al Qudsyyah
Material plastik LDPE yang berupa polimer kompleks menjadikannya sebagai material yang sulit terurai, LDPE membutuhkan waktu sampai ratusan tahun untuk dapat terurai sempurna secara alami, penelitian terbaru membuktikan bahwa jamur Aspergillus niger dapat membantu dalam proses penguraian plastik, tetapi media yang umumnya digunakan untuk pertumbuhan jamur yaitu PDA memiliki harga yang sangat mahal di pasaran, berbagai penelitian dilakukan untuk mendapatkan media dengan komposisi yang murah dan lebih efektif dalam mempercepat pertumbuhan Aspergillus niger. Biji jagung dipilih untuk bahan baku media pertumbuhan karena kandungan karbohidrat dan airnya yang tinggi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan nutrisi jamur untuk tumbuh. Modifikasi formula lain dalam pembuatan media biji jagung ini adalah dengan menggunakan cairan hasil sintesis carbon nanodots (CDs) dari biji jagung dengan bentuk nanopartikel sehingga lebih memudahkan jamur untuk menyerap sumber nutrisinya. Kandungan glukosa yang paling tinggi adalah CDs Jagung Agar (CJA) dengan persentase 3,6 – 4,0% sedangkan Biji Jagung Dextrose Agar (IJDA) hanya berkisar 2,6 – 3,5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media CJA lebih efektif dan efisien untuk pertumbuhan Aspergillus niger dibanding dengan media IJDA dan PDA, CJA memiliki rata-rata pertumbuhan diameter sebesar 41,360 mm dengan bentuk miselium sangat lebat dan spora berwarna hijau kehitaman yang lebat. Kata kunci : Media jamur, biji jagung, Aspergillus niger, Carbon Dots (CDs), pengurai plastik
PENGARUH PENAMBAHAN DAUN MINT (Mentha piperita L.) PADA MINUMAN TEH HIJAU
Penulis: MUHAMMAD FAWWAZ AKBAR, MUHAMMAD IZZADDIN ALI
Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh penambahan daun mint (Mentha piperita L.) pada minuman teh hijau. Daun mint yang kaya akan menthol menjadi populer karena memiliki berbagai manfaat kesehatan dan digunakan dalam bidang pengobatan, kosmetik, dan makanan. Minyak atsiri dari daun mint mengandung senyawa monoterpenoid yang memiliki sifat insektisida, anti jamur, dan anti mikroba. Teh hijau sendiri dikenal karena kandungan antioksidan yang tinggi, tetapi konsumsinya masih rendah karena rasanya yang pahit dan sepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi rasa pahit dan sepat pada teh hijau dengan menambahkan daun mint, sehingga memberikan kesegaran, citarasa mint, dan peningkatan antioksidan. Studi ini akan melibatkan analisis organoleptik, termasuk warna, aroma, dan rasa teh hijau setelah penambahan daun mint pada dua tahap. Tujuan akhir dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efektivitas penambahan daun mint pada minuman teh hijau.
Biofoam dari Pati Singkong dan Jerami Padi Sebagai Pengganti Kemasan Makanan Ramah Lingkungan
Penulis: Atina Khusna, Istna Choiriyah
Penggunaan styrofoam sebagai kemasan makanan secara terus menerus berdampak buruk bagi kesehatan makanan dan lingkungan, untuk mengatasi dampak tersebut, diperlukan kemasan makanan yang ramah lingkungan dan dapat didaur ulang sebagai pengganti styrofoam. Biofoam merupakan kemasan alternatif pengganti styrofoam berbahan dasar pati dengan tambahan serat untuk memperkuat struktur fisis mekanis. Jerami padi dan pati singkong merupakan bahan dasar dalam pembuatan biodegradable foam. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah produk biofoam dengan bahan baku jerami padi dan pati singkong dapat menjadi alternatif penggunaan styrofoam. Variasi komposisi pada penelitian ini yaitu komposisi jerami padi (3%, 5%, 7%) dilakukan dengan metode baking process. Kemudian dilakukan dengan karakterisasi biofoam yang dilakukan. Hasil biofoam dengan penambahan jerami padi yang optimal dalam penelitian ini adalah dengan penambahan konsentrasi 3% dengan masing-masing hasil uji daya serap air bernilai 32,2%, uji ketebalan bernilai 1,53 mm, dan uji kerapatan bernilai 1,792 g/cm3. Kata kunci : baking process, biofoam, jerami padi, pati singkong, styrofoam
Ekstrak Daun Kluwih (Artocarpus Camansi) Sebagai Obat Diabetes Mellitus
Penulis: Laila Maulina Salma, Hanna Anifa
Penelitian ini dilatarbelakangi tidak optimalnya pemanfaatan sumber daya alam hayati dan kekayaan alam di Indonesia, untuk merespon hal tersebut maka peneliti melakukan penelitian yang bertujuan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia, yaitu dengan membuat olahan kluwih sebagai obat diabetes melitus. Tujuan yang hendak dicapai antara lain : 1.Untuk mengetahui apakah ekstrak daun kluwih dapat menurunkan glukosa dalam tubuh manusia. 2.Untuk mengetahui apakah ekstrak air daun kluwih dapat meningkatkan enzim antioksidan. Penelitian dilakukan dengan melalui tiga tahap, yaitu pengeringan daun, filtrasi, dan uji coba. Berdasarkan hasil, penelitian ini dinilai bermanfaat untuk membantu mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam di Indonesia. Kata Kunci : Sumber daya alam, kluwih, diabetes melitus.
Pengolahan Ampas Tebu Menjadi Papan Partikel
Penulis: Akmal Katsirun Nawal, Firman Putra Dewanta
Tebu merupakan salah satu komoditi pertanian yang ada di Indonesia. Pada tahun 2012, luas area perkebunan di Nusantara seluas 451.255. ha dengan produksi tebu sebanyak 2.591.687 ton. Tebu dimanfaatkan dengan berbagai cara. Ada yang memanfaatkan tebu sebagai bahan pembuatan gula aren dan juga lain lain. Di kota Kudus yang paling banyak dijumpai pembuatan gula aren adalah bagian utara (perdesaan) dari kota Kudus.Dalam pembuatan gula aren tebu digiling untuk menghasilkan air gula atau sari dari tebu kemudian tebu tersebut menjadi ampas atau limbah Ampas tebu yang dihasilkan dari proses pembuatan gula harus dimanfaatkan sebisa mungkin. Ampas tebu mengandung lignoselulosa yang berpotensi dalam pembuatan papan partikel Pembuatan papan partikel berbahan baku ampas tebu telah dilakukan oleh Iswanto.,dkk (2009). Tebu memiliki kandungan zat ekstraktif terutama gula atau pati sehingga dapat menghambat proses perekatan dan akan menurunkan sifat papan partikel yang dihasilkan.Bahan perekat yang biasanya digunakan dalam pembuatan papan partikel dari ampas tebu ini adalah Urea Formaldehida. Namun pada riset ini akan menggunakan campuran tepung tapioka. Berdasarkan uraian di atas, maka akan dilakukan penelitian mengenai pembuatan papan partikel dari ampas tebu dengan menggunakan tepung tapioka sebagai campuran dalam pembuatan bahan perekat.
Pemanfaatan Senyawa Metabolis Sekunder Tanaman dalam Mengurangi Emisi Metana Ruminansia
Penulis: Amaludien Rizqi Mulyafi, Dwiki Aditya Rabbani
Metana adalah gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global lebih tinggi daripada karbon dioksida. Emisi metana yang signifikan dari sistem pencernaan hewan ruminansia telah menjadi perhatian utama dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Dalam penelitian ini, kami melakukan analisis terhadap berbagai jenis tanaman yang mengandung tanin dan saponin, seperti tanaman leguminosa dan beberapa tumbuhan liar. Kandungan tanin dan saponin dalam tanaman tersebut telah diketahui memiliki potensi dalam mengurangi produksi metana dalam sistem pencernaan hewan ruminansia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pengujian in vitro menggunakan teknik fermentasi rumen buatan untuk mengevaluasi efek tanin dan saponin terhadap produksi metana. Selain itu, kami juga melakukan uji kecernaan pakan dan analisis kualitas nutrisi untuk memahami interaksi antara tanin, saponin, dan pencernaan hewan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tanin dan saponin dalam pakan ternak dapat mengurangi produksi metana secara signifikan. Efek ini diduga terjadi karena tanin dan saponin menghambat aktivitas mikroba metanogenik dalam sistem pencernaan hewan ruminansia. Selain itu, tidak terlihat adanya dampak negatif pada kecernaan pakan dan kualitas nutrisi yang signifikan. Penelitian ini memberikan wawasan baru dalam upaya pengurangan emisi metana dari sektor peternakan. Pemanfaatan tanin dan saponin sebagai aditif pakan dapat menjadi salah satu solusi yang berpotensi dalam mengurangi dampak negatif sektor peternakan terhadap perubahan iklim. Selanjutnya, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengoptimalkan dosis dan formulasi pemanfaatan tanin dan saponin dalam pakan ternak guna mencapai hasil yang lebih maksimal dalam pengurangan emisi metana. Kata Kunci: Pengurangan emisi metan, Ruminansia, Pemanfaatan Tanin dan Saponin
Serai Wangi (Cymbopogon nardus) sebagai Obat Nyamuk Semprot terhadap Kematian Nyamuk Aedes aegypti
Penulis: Dayu Puspita Rani, Ardhia Pramesti Regita Cahyani
Nyamuk merupakan serangga yang dapat menimbulkan gangguan pada manusia dan hewan melalui gigitannya, antara lain penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Vektor utama (95%) penyebaran DBD adalah Nyamuk Aedes aegypti. Pada umumnya obat nyamuk semprot banyak mengandung zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan jika digunakan telalu berlebihan. Untuk itu perlu dilakukan inovasi dalam pembuatan obat nyamuk semprot, yaitu dengan menggunakan bahan dasar alami, seperti tanaman serai. Tanaman serai mengandung 3 komponen utama yaitu Citronelol, Citronellal, dan Geraniol yang merupakan bahan aktif yang tidak disukai dan sangat dihindari serangga, termasuk nyamuk sehingga penggunaan bahan- bahan ini sangat bermanfaat sebagai bahan pengusir nyamuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas obat nyamuk semprot dari tanaman serai terhadap kematian nyamuk Aedes aegypti. Penelitian dilakukan dengan membandingkan 3 dosis campuran ekstrak serai dan aquades 1 : 1, 3 : 1, 1 : 3 terhadap masing-masing 30 nyamuk dengan pengamatan 1 jam dan 24 jam setelah penyemprotan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis dengan perbandingan 3 : 1 memiliki persentase kematian paling tinggi yaitu 63,33 % (19 nyamuk mati). Hal ini menunjukan bahwa semakin tinggi dosis ekstrak serai pada obat nyamuk semprot, semakin tinggi pula angka kematian pada nyamuk Aedes aegypti.
Pemanfaatan Senyawa Metabolis Sekunder Tanaman dalam Mengurangi Emisi Metana Ruminansia
Penulis: Dwiki Aditya Rabbani, Amaludien Rizqi Mulyafi
Metana adalah gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global lebih tinggi daripada karbon dioksida. Emisi metana yang signifikan dari sistem pencernaan hewan ruminansia telah menjadi perhatian utama dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Dalam penelitian ini, kami melakukan analisis terhadap berbagai jenis tanaman yang mengandung tanin dan saponin, seperti tanaman leguminosa dan beberapa tumbuhan liar. Kandungan tanin dan saponin dalam tanaman tersebut telah diketahui memiliki potensi dalam mengurangi produksi metana dalam sistem pencernaan hewan ruminansia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pengujian in vitro menggunakan teknik fermentasi rumen buatan untuk mengevaluasi efek tanin dan saponin terhadap produksi metana. Selain itu, kami juga melakukan uji kecernaan pakan dan analisis kualitas nutrisi untuk memahami interaksi antara tanin, saponin, dan pencernaan hewan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tanin dan saponin dalam pakan ternak dapat mengurangi produksi metana secara signifikan. Efek ini diduga terjadi karena tanin dan saponin menghambat aktivitas mikroba metanogenik dalam sistem pencernaan hewan ruminansia. Selain itu, tidak terlihat adanya dampak negatif pada kecernaan pakan dan kualitas nutrisi yang signifikan. Penelitian ini memberikan wawasan baru dalam upaya pengurangan emisi metana dari sektor peternakan. Pemanfaatan tanin dan saponin sebagai aditif pakan dapat menjadi salah satu solusi yang berpotensi dalam mengurangi dampak negatif sektor peternakan terhadap perubahan iklim. Selanjutnya, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengoptimalkan dosis dan formulasi pemanfaatan tanin dan saponin dalam pakan ternak guna mencapai hasil yang lebih maksimal dalam pengurangan emisi metana.
PENGARUH KANDUNGAN SAPONIN PADA DAUN BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi) SEBAGAI SPRAY PESTISIDA NABATI TERHADAP HAMA KUTU PUTIH (Paracoccus marginatus) PADA PEMBUDIDAYAAN TANAMAN PEPAYA (Carica papaya L.)
Penulis: Alya Zahra Hanifah, Alifia Najwa Abidah
Pestisida nabati semakin mendapatkan perhatian sebagai alternatif yang ramah lingkungan dalam pengendalian hama pada pertanian. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai sumber pestisida nabati adalah daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) yang mengandung senyawa saponin dengan sifat insektisida. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh kandungan saponin pada daun belimbing wuluh sebagai spray pestisida nabati terhadap hama kutu putih (Paracoccus marginatus) pada pembudidayaan tanaman pepaya (Carica papaya L.). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan konsentrasi saponin yang berbeda (0%, 20%, 50%, 70%, dan 100%) kemudian dilanjutkan dengan Lather time 50. Pengamatan dilakukan terhadap parameter populasi hama kutu putih pada tanaman pepaya setelah perlakuan spray pestisida, yaitu jumlah kutu putih yang ada pada daun pepaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan spray pestisida berbasis saponin dari daun belimbing wuluh memiliki pengaruh signifikan terhadap populasi hama kutu putih pada tanaman pepaya. Semakin tinggi konsentrasi saponin yang digunakan, semakin efektif mengurangi jumlah kutu putih. Berdasarkan temuan ini, dapat disimpulkan bahwa kandungan saponin pada daun belimbing wuluh memiliki potensi sebagai bahan aktif dalam pengendalian hama kutu putih pada pembudidayaan tanaman pepaya. Dengan penerapan pestisida berbasis saponin, petani dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengoptimalkan formulasi pestisida nabati ini dan mempertimbangkan efek samping terhadap tanaman dan organisme non-target. Kata kunci: pestisida, saponin, daun belimbing wuluh, hama kutu putih, tanaman pepaya
PEMANFAATAN EKSTRAK SERAI SEBAGAI ISI ULANG OBAT NYAMUK MAT ELEKTRIK
Penulis: Athaya Jasmine Sudarto, Adinda Khanza Maylida
-