1196 Hasil Pencarian
Pembuatan Biodegradable Film Polybag Berbahan Dasar Tepung Kulit Pisang Kepok (Musa paradisiaca L.) dengan Penambahan Campuran Plasticizer dalam Meningkatkan Efektivitas Pertumbuhan Tanaman Sawi (Brassica juncea L.)
Penulis: Cindy Noor Laila Zahirotul Hikmah, Nabila Novita Rahma
Plastik bekas berupa polybag menjadi salah satu penyebab meningkatnya jumlah limbah plastik di Indonesia dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai secara alami oleh mikroorganisme tanah. Diperlukan lebih dari 7.100 ton polybag untuk 2.8 miliar bibit tanaman. Dari permasalahan tersebut diperlukan inovasi baru untuk mengatasinya, dengan membuat plastik terbuat dari bahan alam sehingga mudah terdegradasi. Bahan alam yang digunakan biasanya yang mengandung selulosa, kitosan, dan pati. Limbah kulit pisang menjadi salah satu solusi bahan penggantinya. Seratnya mempunyai kekuatan dan durabilitas yang tinggi. Bahkan dalam keadaan basah, serat selulosa alami tidak kehilangan kekuatannya. dalam penelitian ini menggunakan bahan tambahan berupa plasticizer berupa gliserol sebanyak 3 ml dan CMC 75 ml. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi terbaik kulit pisang kepok dan campuran plasticizer, dalam memenuhi sifat fisis dan mekanis polybag, serta pengaruhnya terhadap kenaikan pertumbuhan produksi tanaman sawi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan tiga tahap, yaitu pembuatan serbuk, pembuatan biodegradable film, dan pembuatan polybag. Terdapat empat kelompok benda uji dengan kadar tepung kulit pisang kepok yang berbeda-beda; yaitu 5 gram, 10 gram, 15 gram, dan 20 gram. Semua kelompok benda uji dilakukan dengan perlakuan yang sama yaitu karakterisasi secara visual (warna dan tekstur), uji kuat tarik beban, uji daya serap air, uji biodegradable, penanaman bibit sawi. Semakin tinggi kandungan pati, maka semakin tinggi kuat tarik, cepat terdegradasi, dan semakin banyak gliserol semakin kecil nilai ketahanan airnya. Berdasarkan hasil uji, variasi 1 dengan 5 gram tepung merupakan variasi terbaik, dengan nilai uji kuat tarik mampu menahan beban sampai 1053 gram, persen daya serap air sebesar 62,37 %, dan persen biodegradabilitas sebesar 60 %. Kata Kunci : Biodegradable film polybag, kulit pisang kepok, plasticizer, tanaman sawi
Karakteristik Biokomposit Berbasis Mycellium Rhyzopus oligosporus dengan Limbah Serbuk Kayu Jati, Kulit Kacang Tanah, dan Sekam Padi sebagai Penguat
Penulis: Muhammad 'Athaya Satria Siswandono
Limbah organik di Indonesia mencapai 64 juta ton setiap tahunnya, dengan sebagian besar terdiri dari sampah organik. Daur ulang, salah satu cara yang umum dikenal untuk mengurangi sampah, memiliki kekurangan seperti biaya tinggi dan meningkatkan polusi. Oleh karena itu, alternatif lain diperlukan, seperti mengubah sampah organik menjadi pupuk, membuat komposit mycelium, dan mengubur sampah organik. Komposit mycelium adalah material yang dibuat dari campuran bahan organik sebagai penguat dan ragi sebagai pengisi. Ragi digunakan karena kemampuannya untuk menghasilkan jamur ketika tumbuh, yang merupakan salah satu jenis fungi. Penelitian ini akan membuat tiga jenis komposit mycelium dengan menggunakan tiga jenis bahan penguat yang berbeda: serbuk kayu pohon jati, kulit kacang tanah, dan sekam padi. Uji sifat seperti daya serap, biodegradasi, impak, dan massa akan dilakukan untuk membandingkan kualitas antara komposit-komposit tersebut. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang sifat-sifat komposit mycelium yang menggunakan berbagai bahan penguat. Dengan demikian, akan memungkinkan untuk mengidentifikasi material yang paling efektif dalam pengurangan limbah organik dan pembuatan material yang ramah lingkungan.
Formulasi dan Evaluasi Sifat Fisik Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) dan Daun Mint (Mentha piperita L.) sebagai Sampo Herbal
Penulis: Nabil Hibban Hardian, Muhammad Alvin Hamid
Sebagai negara yang padat dan bersuhu tinggi, kondisi berkeringat sudah menjadi hal yang lumrah bagi warga Indonesia. Rambut merupakan salah satu bagian vital pada tubuh yang ektoderm di kulit dan juga sebagai pelengkap pelindung pada tubuh dari panas matahari. Iklim Indonesia yang panas dan lembab membuat infeksi jamur pada kepala sangat mudah terjadi, salah satunya adalah ketombe. Ketombe sendiri disebabkan oleh jamur pityrosporum ovale. Jamur ini dianggap sebagai flora normal kulit kepala. Namun, dengan adanya pemicu dapat meningkatkan pertumbuhan jamur ini secara pesat. Salah satu Solusi dari masalah ketombe adalah dengan menggunakan sampo yang berbahan antijamur, seperti ketoconazole. Pengobatan ketombe menggunakan bahan sintetis ketoconazole ini dinilai belum cukup mengatasi ketombe karena menimbulkan efek samping yang tidak nyaman seperti, mual, muntah, serta kerusakan jangka panjang yang lain. Oleh sebab itu digunakanlah sampo yang terbebas dari bahan kimia seperti ketoconazole. Penelitian ini bertujuan untuk membahas formulasi dan evaluasi sifat fisik sampo herbal berbahan daun jambu biji dan daun mint untuk mengatasi ketombe. Metode yang digunakan adalah ekstraksi larutan daun jambu biji dan daun mint sebagai bahan utama sampo herbal. Mekanisme herbal dalam menyembuhkan ketombe yaitu dengan saponin, flavonoid dan likopen yang terkandung di dalam daun jambu biji dan daun mint. Hasil penelitian menunjukan berbagai macam perbedaan formula yang berpengaruh terhadap hasil evaluasi fisik sampo herbal. Penilaian sampo didasarkan pada uji organoleptik, uji pH dan uji kesukaan. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa formula terbaik sampo herbal adalah formula sampo yang memiliki karakteristik tekstur yang tidak terlalu encer, serta memiliki pH aman sekitar 5-6. Kata kunci : Sampo Herbal, Ketombe, Formulasi dan Evaluasi Fisik, Uji Organoleptik, Uji PH.
INDUKSI MUTASI KROMOSOM DENGAN ETHYL METHANE SULPHONATE (EMS) TERHADAP FISIOLOGI DAN MORFOLOGI BENIH TANAMAN KACANG POLONG (Pisum sativa L.)
Penulis: Farda Zahrotul Fithri, Izzatin Nisa
ABSTRAK Kacang ercis atau lebih dikenal masyarakat dengan kacang polong adalah salah satu tanaman yang sering dikonsumsi oleh masyarakat sehari hari. Kacang ercis baik dikonsumsi untuk diet, dikarenakan kacang ini mengandung banyak vitamin, seperti vitamin C, vitamin A, vitamin B1. Selain itu, kacang ini mengandung protein sebesar 21, 2% - 32, 9% dan karbohidrat sebesar 36, 9% - 39%. Namun, terjadi penurunan pasokan dan kontinuitas pada tahun 2008, sehingga menyebabkan jumlah ekspor menurun. Untuk mempertahankan kualitas dan jumlah produksi kacang polong, upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memperbaiki kualitas fisiologi dan morfologi tanaman kacang polong. Upaya ini dapat dilakukan melaui teknik pemuliaan tanaman. Pemuliaan tanaman adalah ilmu dan seni yang mempelajari bagaimana memperoleh atau menciptakan suatu tanaman menjadi lebih baik dan menguntungkan. Tujuannya adalah untuk memperbaiki sifat sifat tanaman baik kuantitatif dan kualitatif. Mutasi yang disebabkan oleh mutagen bisa terjadi melalui paparan bahan kimia reaktif seperti ethyl metane sulphonate (CH3SO3C2H5) yang dapat bereaksi dengan DNA ataupun protein penting dalam regulasi materi genetic. Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui konsentrasi larutan ethyl metane sulphonate yang tepat untuk perubahan fisiologi dan morfologi tanaman kacang polong (Pisum sativum L.). Analisis data dilakukan dengan mengamati tingi tanaman, lebar batang, jumlah daun, dan lebar daun. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi yang paling tepat yaitu pada K2 dengan EMS sebanyak 0,5%. K2 berdampak positif pada daya kecambah benih, tinggi batang, diameter batang, jumlah daun. Ethyl methane sulphonat berpengaruh baik pada kacang polong di dosis yang tepat dan akan membrikan dampak nnegatif saat kelebihan atau kekurangan dosis. Kata kunci : Induksi Mutasi, Ethyl Methane Sulphonate, Fisiologi dan Morfologi, Kacang Polong.
Efektifitas Lilin Aromaterapi Ekstrak Kapulaga (Amomum compactum) Terhadap Lalat Hijau (Lucilia sericata) dengan Aroma Kopi Robusta
Penulis: Ahmad Ilham Mujib, Ilham Firmansyah
Lalat hijau adalah salah satu vektor utama dalam penyebaran berbagai jenis penyakit seperti: diare, tifus, dan virus penyakit saluran pencernaan. Kebanyakan bakteri dan kuman penyakit berada pada sayap dan kaki-kaki lalat. Walaupun lalat hanya menghinggapi makanan selama 1-2 detik, makanan tersebur sudah terkontaminasi kuman penyakit. Selama ini banyak produsen yang membuat produk yang mengandung insektisida sintesis untuk membunuh lalat hijau (Lucilia sericata). Insektisida sintesis tersebut dapat mengganggu kesehatan manusia. Beberapa tumbuhan berpotensi sebagai insektisida karena mengandung beberapa senyawa bioaktif, seperti saponin, flavonoid, tanin, dan alkenil fenol. Salah satu cara pengendalian vektor pada lalat yaitu menggunakan lilin. Selain sebagai penerang lilin juga berguna untuk pengusir lalat dikarenakan panas dan aroma yang dihasilkan lilin tidak disukai lalat. Oleh karena itu, peneliti akan membuat lilin aromaterapi ekstrak kapulaga (Amomum compactum) dan ampas kopi robusta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik lilin aromaterapi yang terbuat dari ekstrak kapulaga (Amomum compactum) dan limbah ampas kopi. Metode dalam penelitian ini yaitu dengan menyiapkan 3 buah kandang, kandang ke-1, kandang ke-2, kandang ke-3, dimasukkan ke dalam masing-masing kandang satu jenis lilin aromatik kopi robusta dengan ekstrak kapulaga dengan formula yang berbeda (F1, F2, F3). Lilin aromatik yang sudah ada dalam kandang dinyalakan, lalu umpan diletakkan ke dalam kandang uji dan 10 ekor lalat rumah ke dalam setiap kandang yang telah disiapkan. Selanjutnya dihitung jumlah hinggapan lalat pada makanan di kandang ke-1, ke-2, ke-3, dicatat setiap menit mulai dari menit ke-2 sampai menit ke-10. Dalam setiap menit dilakukan 3x pengusikan masing-masing10 detik. Hasil penelitian menunjukkan berbagai macam perbedaan formula berpengaruh terhadap hasil evaluasi fisik lilin. Penilaian lilin didasarkan pada uji organoleptik, uji waktu bakar, uji kesukaan, dan uji daya tolak. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa lilin aromaterapi ekstrak kapulaga (Amomum compactum) dan ampas kopi robusta mempunyai daya tolak sebesar 82,1% terhadap lalat hijau (Lucilia sericata). Kata kunci : lalat hijau, lilin aromatik, ekstrak kapulaga, uji daya tolak
Analisis Kandungan Asam Sianida pada Tanaman Rebung Betung (Dendrocalamus asper) sebagai Pendeteksi Merkuri pada Kosmetik
Penulis: Mayya Sya Salsabila, Ifanny Ulima Sasikirana
Merkuri merupakan bahan kimia berbahaya yang sering ditambahkan pada kosmetik dengan tujuan untuk memutihkan kulit. Untuk mendeteksi adanya merkuri pada kosmetik dibutuhkan tes laboratorium atau menggunakan alat spektrofotometer serapan atom (SSA). Agar memudahkan masyarakat untuk mendeteksi adanya kandungan merkuri pada kosmetik yang digunakan, maka penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi adanya kandungan merkuri pada kosmetik dengan menggunakan kandungan asam sianida (HCN) yang terdapat pada rebung betung. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan melakukan uji kualitatif dan uji kuantitatif terhadap rebung betung untuk mengetahui adanya kandungan asam sianida pada rebung betung. Uji kualitatif pada rebung betung dilakukan dengan identifikasi adanya kandungan asam sianida pada rebung betung menggunakan metode kertas pikrat. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan warna kertas pikrat yang semula kuning menjadi merah bata, itu menandakan bahwa rebung betung mengandung asam sianida. Penentuan kadar asam sianida pada rebung betung menggunakan uji kuantitatif dengan metode destilasi dan titrasi. Berdasarkan perhitungan didapatkan kadar asam sianida (HCN) sebanyak 0,0305%. Pada penelitian ini juga melakukan aplikasi menggunakan beberapa variasi rebung betung. Hasil dari penelitian ini adalah variasi yang paling optimal untuk mendeteksi adanya kandungan merkuri pada kosmetik adalah variasi yang memiliki kandungan rebung betung terbanyak.
Inovasi Material Bio-Base Insulasi dari Limbah Kulit Jagung (Zea mays) dan Serbuk Kayu Mahoni (Swietenia mahagoni) dengan Perekat Miselium Rhizopus oligosporus untuk Menjaga Kesegaran Ikan
Penulis: Bunga Alfiratul Fauziah, Haniya Nafisatunaja
Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan banyak kepulauan. Dengan kondisi geografis tersebut banyak masyarakat Indonesia berprofesi sebagai nelayan ikan. Ikan tongkol menjadi salah satu hasil tangkapan nelayan yang melimpah dikarenakan kandungan gizinya yang melimpah dan minat konsumsi masyarakat yang tinggi. Dalam menentukan harga jual tangkapan ikan, kualitas ikan menjadi hal yang sangat dipertimbangkan. Sejauh ini digunakan styrofoam sebagai cool box, yang mana styrofoam adalah material yang tidak ramah lingkungan karena sulit terdegradasi oleh tanah. Dengan demikian, dibutuhkan material insulasi ramah lingkungan untuk mengurangi penggunaan styrofoam, salah satunya dengan pembuatan material komposit berbahan dasar limbah organik yang ramah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui karakteristik dari sintesis bio-base insulasi dari serat kulit jagung dan serbuk kayu mahoni dengan perekat miselium jamur dan dampaknya dalam menjaga kesegaran ikan tongkol. Dilakukan penelitian terhadap 3 variasi komposisi bio-base insulasi. Berdasarkan hasil uji karakteristik, variasi 3 dengan perbandingan kulit jagung dan serbuk kayu mahoni (0:8) merupakan variasi dengan kerapatan terbaik sebesar 0,30 gr/cm3. Berdasarkan hasil pengukuran daya serap air menghasilkan data yang menunjukkan bahwa serbuk kayu menyerap sedikit air yaitu sebesar 0,031%, sedangkan pada data uji biodegradasi variasi 2 dengan perbandingan kulit jagung dan serbuk mahoni sebesar (2:8) menjadi komposit yang paling cepat terdegradasi oleh mikroorganisme dalam tanah. Adapun untuk uji dampak material komposit terhadap kualitas kesegaran ikan tongkol, kemampuan insulasi kotak komposit dalam mempertahankan suhu dan kesegaran pada ikan tongkol cukup baik karena terhadap kualitas dan kesegaran ikan menggunakan kotak styrofoam. pada kondisi fisik pada ikan, cenderung masih segar dengan tidak terdapat banyak perubahan dibandingkan pada ikan segar. Kata Kunci : Bio-Base, Ikan Tongkol, Insulasi, Kulit Jagung, Serbuk Kayu Mahoni
Pengaruh Ekstrak Biji Duwet (Syzygium cumini) Dengan Teknik Maserasi Terhadap Jentik-Jentik Nyamuk (Aedes aegypti)
Penulis: Dzy Karimul Aisy, Hafidh Falahul Fikri
Kata kunci: biji duwet, hama nyamuk, maserasi, observasi Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi ekstrak biji duwet dalam mengatasi masalah nyamuk Aedes aegypti, vektor penyakit demam berdarah. Ekstrak biji duwet diperoleh melalui metode maserasi dan diuji terhadap jentik nyamuk dengan teknik observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak biji duwet mampu membasmi jentik nyamuk, dengan efek yang mulai terlihat pada malam kedua dan mencapai keseluruhan subjek pada malam ketujuh. Analisis data mengungkapkan adanya perbedaan signifikan dalam jumlah jentik nyamuk yang mati akibat paparan ekstrak biji duwet. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman karakteristik ekstrak biji duwet dan efeknya terhadap nyamuk Aedes aegypti. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa ekstrak biji duwet berbentuk bubuk dapat menjadi alternatif efektif untuk mengatasi hama jentik nyamuk. Penelitian ini juga mencatat beberapa kendala, termasuk kesulitan dalam pencarian subjek penelitian dan kurangnya variasi dalam penelitian. Oleh karena itu, direkomendasikan agar penelitian selanjutnya dapat mengembangkan aspek-aspek tersebut untuk mendapatkan hasil yang lebih komprehensif.
FITOREMEDIASI LIMBAH CAIR BATIK MENGGUNAKAN SIRIH GADING (Epipremnum aureum) SEBAGAI UPAYA UNTUK MEMPERBAIKI KUALITAS AIR
Penulis: Vinesa Kayla Azzahro, Falina Apriliana Shinta
Perindustrian pembuatan kain batik di berbagai daerah Indonesia mengalami kemajuan yang sangat pesat. Namun dalam proses produksinya, industri batik banyak digunakan bahan kimia yang biasanya digunakan pada proses pewarnaan atau pencelupan. Penggunaan bahan kimia yg berlebihan dapat memicu masalah karena menghasilkan limbah cair hasil industri yang langsung dibuang ke lingkungan tanpa diolah terlabih dulu Upaya mengolah limbah cair dengan menerapkan fitoremediasi menggunakan Sirih Gading dapat menjadi solusi karena diketahui tumbuhan air tersebut memiliki keunggulan dalam fitoremediasi Penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan rancangan desain pre and post test. Tanaman air yang dipilih adalah Sirih Gading dengan menggunakan 2 faktor yaitu berat tanaman gading sirih yaitu 250 gr, 500 gr, 750 gr dan faktor waktu pemaparan yang dilakukan pengamatan pada hari ke-0, 4, 8, dan 12. dengan perbandingan air limbah dan air 2 : 1 di semua perlakuan, perbandingan air limbah dan air 2 : 1 serta pada penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 4 perlakuan, yaitu P0 : tanpa tumbuhan Sirih Gading (kontrol) ; P1 : Sirih Gading 250 gr ; P2 : Sirih Gading 500 gr dan; P3 : Sirih Gading 750 gr Data kuantitatif akan ditampilkan dalam bentuk tabel dan efektivitas fitoremediasi, perubahan morfologi Sirih Gading, TSS, pH dan suhu dianalisis menggunakan analisis varian dengan membandingkan hasil penelitian dari setiap perlakuan.
Sintesis Membran Selulosa Asetat Termodifikasi Silika dari Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) sebagai Adsorben Logam Timbal (Pb)
Penulis: Nony Salsabila Brilliant, Devi Winanda Putri
Salah satu logam berat yang memiliki tingkat toksisitas tinggi adalah timbal (Pb). Konsentrasi timbal yang melampaui ambang batas mengakibatkan pencemaran lingkungan. Salah satu cara untuk mengurangi kadar timbal (Pb) yaitu dengan adsorpsi menggunakan membran selulosa asetat yang termodifikasi silika dari eceng gondok. Penelitian ini bertujuan agar mengetahui kadar selulosa asetat dan silika dari eceng gondok yang tepat untuk menghasilkan karakteristik serta efektivitas terbaik pada membran selulosa asetat yang termodifikasi silika sebagai adsorben logam timbal (Pb). Proses pembuatan membran diawali dengan preparasi bahan, ekstraksi selulosa asetat dari eceng gondok, isolasi silika eceng gondok dan pembuatan larutan natrium silikat, pembuatan larutan selulosa asetat, pembuatan membran selulosa-silika, karakterisasi membran selulosa-silika, pembuatan larutan baku Pb, pembuatan larutan deret standar Pb, dan adsorpsi ion logam Pb dengan membran selulosa-silika. Hipotesis penelitian menunjukan bahwa eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai membran selulosa asetat yang termodifikasi silika. Hipotesis dari hasil analisis FT-IR menunjukan bahwa terdapat interaksi antara membran dengan ion timbal, selain itu terbentuknya diasetat dengan pita serapan pada gugus karbonil (C=O) dengan bilangan gelombang sekitar 1749,12 cm^-1. Hipotesis hasil analisis SEM menunjukan bahwa morfologi permukaan membran yang diduga porinya terisi dengan ion logam timbal (Thaiyibah, dkk, 2016). Hipotesis hasil adsorpsi ion logam Pb dengan membran selulosa-silika menggunakan spektrofotometer UV-Vis menunjukan terjadinya pergeseran panjang gelombang maksimum antara membran dengan ion logam timbal (Pranoto, dkk, 2023).