1196 Hasil Pencarian
Uji Efektivitas Campuran Biosolar B30 dengan Alkil Benzena Sulfonat dan Natrium Karbonat sebagai Pembersih Kerak pada Kendaraan
Penulis: Fawwaz Atha Yossifa, Brillian Iqbal Arrafi
Indonesia yang padat penduduk terdapat banyak kendaraan di setiap sudut kota, kendaraan yang semakin banyak tersebut menyebabkan banyaknya keluhan terhadap kerak noda aspal yang sering kali menempel di kendaraan yang sulit untuk dihilangkan jika hanya dicuci menggunakan sabun cuci kendaraan yang dijual di pasaran. Biosolar B30 dianggap ramah lingkungan dan aman untuk membersihkan kerak noda aspal. Alkil Benzena Sulfonat dan Natrium Karbonat adalah bahan aktif yang biasa digunakan untuk sabun atau deterjen, fungsi senyawa tersebut adalah meningkatkan tingkat kebersihan atau untuk mengangkat kotoran. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian tentang bagaimana efektivitas campuran biosolar B30 dengan Alkil Benzena Sulfonat dan Natrium Karbonat terhadap kerak pada kendaraan. Dalam karya tulis ilmiah ini metode yang digunakan peneliti adalah eksperimental melalui uji perbandingan dan uji hedonik. Berdasarkan eksperimen dari beberapa formulasi yang telah dilakukan, peneliti menyimpulkan bahwa campuran biosolar B30 dengan Alkil Benzena Sulfonat dan Natrium Karbonat dapat membersihkan kerak atau noda pada kendaraan. Campuran ini dapat membersihkan kerak atau noda pada kendaraan dengan sangat sempurna bahkan lebih bersih dari produk yang dijual di pasaran.
Formulasi Bedak Tabur dari Ekstrak Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) Sebagai Alternatif Penyembuhan Luka
Penulis: Rosalba Sirly Najia, Admira Naira Ramadhani
Tanaman mengkudu (Morinda citrifolia L.) berasal dari Asia Tenggara dan tergolong dalam famili Rubiaceae. Buah mengkudu merupakan bahan makanan dan obat herbal. Buah mengkudu telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional karena kandungan nutrisi dan senyawa bioaktifnya melimpah. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa buah mengkudu mengandung polifenol, flavonoid, dan asam lemak essensial yang memiliki sifat antiinflamasi, antioksidan, dan antimikroba. Senyawa-senyawa ini dapat membantu mengurangi peradangan, meningkatkan proses regenerasi sel-sel kulit, dan melindungi dari kerusakan radikal bebas. Penelitian ini terfokuskan untuk mengurangi peradangan pada luka, atau yang biasa disebut inflamasi. Inflamasi adalah respon protektif setempat yang ditimbulkan oleh kerusakan pada jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik, zat kimia yang merusak, atau zat mikrobiologik. Inflamasi dapat terjadi secara akut maupun kronis. Respon inflamasi akut dimulai dari berbagai rangsangan endogen dan eksogen yang mengakibatkan cedera pada jaringan vaskularisasi. Respon terhadap cedera dimulai dari hiperemi aktif dengan peningkatan aliran darah ke jaringan luka atau cedera dan diikuti dilatasi arteri dan kapiler. Pembuatan bedak tabur dari ekstrak buah mengkudu bertujuan untuk memanfaatkan potensi penyembuhan alami. Penggunaan buah mengkudu dalam produk kosmetik seperti bedak tabur membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memvalidasi efektivitasnya secara klinis dan mengidentifikasi dosis yang optimal dan metode aplikasi yang tepat
Pengaruh Kombinasi Ekstrak Batang Brotowali(Tinospora cordifolia) dan Daun Kemangi (Ocimum basilicum)Terhadap Kutu Putih (Phenacoccus manihoti) pada Tanaman Mangga(Mangifera indica)
Penulis: Haidar Rafi Irfan, Abiyyu Daffa Hidastya
Hama kutu putih (Phenacoccus manihoti) merupakan salah satu hama yang menyerang tanaman mangga yang mengakibatkan adanya potensi kerugian ekonomis pada produksi mangga. Kutu putih (Phenacoccus manihoti) menghasilkan embun madu sehingga menimbulkan kehadiran penyakit embun jelaga yang dua spesies diantaranya berperan sebagai vector penyakit. Hama kutu putih juga menyerang 53 jenis tanaman lainnya. Dari berbagai jenis tanaman yang dihinggapi menjadi inang, mangga adalah inang yang paling sesuai bagi perkembangan dan pertumbuhan hama kutu putih (Phenacoccus manihoti). Salah satu cara alternatif yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama kutu putih adalah dengan pemberian insektisida nabati. Batang brotowali (Tinospora cordifolia) dan daun kemangi (Ocimum basilicum) merupakan contoh tanaman yang memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan insektisida nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak batang brotowali (Tinospora cordifolia) dan daun kemangi (Ocimum basilicum) sebagai pestisida nabati terhadap kutu putih (Phenacoccus manihoti) pada tanaman mangga (Mangifera indica) dengan melakukan uji laboratorium. Penelitian ini menggunakan konsentrasi ekstrak batang brotowali dan daun kemangi 100 ppm, 500 ppm, dan 1000. Analisis data menggunakan uji toksisitas LC50. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak batang brotowali dan daun kemangi dapat digunakan sebagai insektisida nabati terhadap hama kutu putih dan berpengaruh efektif terhadap mortalitas hama kutu putih pada tanaman mangga. Kata Kunci : , Batang Brotowali, Daun Kemangi, Kutu Putih, Mangga
Analisis Konduktivitas Tanah Untuk Membantu Implementasi IoT pada Smart Farming Sebagai Peningkat Kualitas Hasil Panen Cabai Rawit (Capsicum frutescens L)
Penulis: Rasyiid Nurrahmaan, Zinaddin Hari Fikri
Penelitian ini merupakan rangkaian penelitian terapan yang bertujuan untuk merancang dan membantu kalibrasi sensor ataupun sistem IoT pada smart farming. Parameter yang diukur difokuskan hanya untuk meneliti kesuburan tanah yang ditanami tanaman cabai, yaitu konduktivitas listrik dan resistensi. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mencari hubungan nilai konduktivitas listrik dan resistensi yang ada di dalam tanah. Nilai resistensi pada tanah diukur dengan menggunakan multimeter yang diuji dalam tiga sampel, yaitu tanah tanpa pupuk, tanah dengan pupuk anorganik, dan tanah dengan pupuk organik. Dengan menggunakan perhitungan, nilai resistensi pada tanah digunakan untuk mencari nilai konduktivitas pada tanah. Selanjutnya, penelitian dilanjutkan dengan menggunakan metode univariate untuk mengolah data, yaitu konduktivitas tanah, resistensi tanah, dan pertumbuhan dari tanaman cabai, yang digunakan untuk membuat grafik dan diagram yang memperlihatkan tren dan pola dari data tersebut. Selain itu, data yang telah diolah juga dapat digunakan untuk membantu pembuatan alat berbasis IoT dalam bidang pertanian.
Uji Organoleptik dan Daya Kembang Kue Bolu Kukus dengan Substitusi Tepung Biji Mangga (Mangifera indica L.)
Penulis: Alifa Ichtirosa Zakia, Syifa Aulia Rahma
Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen mangga terbesar di dunia dengan beragam varietas yang ada seperti manga mana lagi, harum manis, manga gadung, kuweni dll. Tingginya konsumsi masyarakat terhadap mangga menjadi penyebab mangga banyak diproduksi. Namun tingginya tingkat produksi buah mangga tersebut tidak diimbangi dengan pemanfaatan biji mangga. Biji mangga seringkali dianggap sebagai limbah dalam proses produksi buah mangga. Pada penelitian ini, akan dilakukan substitusi tepung biji mangga terhadap kue bolu kukus guna lebih mengoptimalkan pemanfaatan dari biji mangga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh substitusi tepung biji mangga terhadap kualitas bolu kukus. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif diterapkan pada saat uji sifat organoleptik kue bolu kukus dengan data yang berasal dari 20 orang panelis yang mengirimkan jawaban dari angket yang berisi beberapa pertanyaan. Sedangkan, metode kuantitatif diterapkan pada saat uji daya kembang kue bolu kukus. Nilai rasa manis, tekstur lembut, dan araoma khas bolu kukus tertinggi diperoleh kue bolu kukus dengan perlakuan X0 (disubstitusi tepung biji mangga 0%). Sedangkan, untuk parameter warna, perlakuan X2 (disubstitusi tepung biji mangga 30%) mendapatkan nilai paling tinggi karena warnya coklat muda yang memikat.Perlakuan terbaik untuk menghasilkan daya kembang kue bolu kukus adalah perlakuan X0 (disubstitusi tepung biji mangga 0%). Dari penelitian yang telah kami lakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa, penambahan tepung biji mangga terhadap adonan kue bolu kukus akan mempengaruhi karakteristik organoleptik dan daya kembangnya. Formulasi konsentrasi terbaik tepung biji mangga yaitu sebanyak 0% (X0) karena konsentrasi tersebut memberikan hasil terbaik pada parameter organoleptik dan daya kembang kue bolu kukus.
Uji Efektivitas Kandungan Antioksidan Ekstrak Kulit Lemon (Citrus limon) terhadap Penurunan Indeks Enzim Polifenol Oksidase (PPO) Penyebab Reaksi Browning pada Buah Pir (Pyrus sp.)
Penulis: Intan Desty Amalia, Oktavia Nur Ramadhani
Pir adalah pohon asli daerah beriklim tropis di Eropa Barat, Asia, dan Afrika Utara. Pohon berukuran sedang, tingginya bisa mencapai 10-17 meter, namun beberapa jenis merupakan pohon pendek dengan daun lebat. Pir (Pyrus) merupakan buah yang banyak mengandung nutrisi seperti vitamin, niasin, asam pantotenat dan folacin. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berupa pengambilan data melalui eksperimen dan pengamatan tingkat browning pada permukaan buah pir (Pyrus sp.). Dari penelitian yang telah kami lakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa kandungan antioksidan pada ekstrak kulit lemon mampu menghambat reaksi oksidasi oksigen dengan enzim polifenol oksidase yang mengakibatkan peristiwa pencoklatan (browning) pada buah pir. Kandungan antioksidan pada ekstrak kulit lemon dinilai efektif dalam menghambat reaksi browning. Perlakuan paling efektif ditunjukkan oleh perlakuan pada variabel P2. Terlihat bahwa permukaan buah pir pada perlakuan tersebut cenderung tidak berubah atau tetap mempertahankan warna putih segar khas buah pir. Efisiensi waktu perendaman ekstrak kulit lemon pada buah pir ditunjukkan oleh perlakuan P2C dalam durasi waktu perendaman 20 menit.Penelitian ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian selanjutnya dengan melakukan pemisahan kandungan antioksidan dari vitamin C pada kulit lemon untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat dalam mengetahui efektivitas dan efisiensi ekstrak kulit lemon dalam mencegah proses browning pada buah pir.
Uji FTIR pada Zeolit Sintetis dari Kulit Salak
Penulis: Enzilirrahma Aleina, Lydia Rahma Zulva
Indonesia, yang merupakan negara penghasil sampah sekitar 64 juta ton per tahun, memiliki 60% sampah organik, termasuk kulit buah salak. Keberlimpahan buah salak di Indonesia membuat kulitnya menjadi bahan ekonomis dan efisien untuk zeolit sintetis, terutama karena mengandung 10% silika, bahan baku utama zeolit. Penelitian ini menjelaskan potensi penggunaan kulit salak sebagai bahan baku dalam sintesis zeolit, sebuah material alam dengan berbagai aplikasi industri. Proses isolasi silika dari kulit salak melibatkan pencucian, pengeringan, pengarangan, dan pengabuan, diikuti dengan pencucian menggunakan larutan HCl. Natrium silikat dan natrium aluminat dihasilkan dari reaksi dengan larutan NaOH. Sintesis zeolit dilakukan melalui metode hidrotermal, menghasilkan zeolit putih yang kemudian dikarakterisasi menggunakan uji FTIR. Hasil karakterisasi menunjukkan kemiripan spektrum FTIR zeolit kulit salak dengan penelitian sebelumnya. Serapan pada bilangan gelombang tertentu mengindikasikan keberhasilan sintesis zeolit, dengan vibrasi –OH, tekuk –OH, ulur simetri Si-O, vibrasi rentang asimetri TO4, dan keberadaan cincin ganda Si-O-Si. Penelitian ini memiliki implikasi pada pengelolaan limbah pertanian dan pemanfaatan bahan baku alternatif, mendukung konsep berkelanjutan dan ramah lingkungan. Kesimpulan dari karakterisasi zeolit sintetis kulit salak dapat memberikan wawasan mendalam tentang potensinya dalam aplikasi katalisis atau adsorpsi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan solusi berkelanjutan dalam pengolahan limbah pertanian dan memperluas pemahaman tentang zeolit yang dihasilkan dari bahan baku alam Indonesia. Kata kunci : kulit salak, zeolite
PEMANFAATAN LIMBAH KULIT BAWANG MERAH SEBAGAI PUPUK ORGANIK CAIR PADA PEMBIBITAN TANAMAN SAWI (Brassica juncea L.)
Penulis: Fauzia Rahma, Galuh Safitri
Pertambahan angka pertumbuhan penduduk di Indonesia dan bertambahnya wawasan tentang gizi membuat daya beli konsumen meningkat terhadap sawi . Sawi menyuplai kandungan gizi pada saat dikonsumsi cukup tinggi. Kandungan gizi dalam 100 g sawi terdapat karbohidrat 4,00 g, protein 2,30 g, lemak 0,30 g, Ca 220,00 mg, P 38,00 mg, Fe 2,90 mg, vitamin A 1,94 mg, C 102 mg dan B 0,09 mg (Novianto et al., 2018). Pernyataan dari Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat (2016), hasil sawi di Indonesia selama periode tiga tahun terakhir terjadinya penurunan hasil 635.728 ton pada tahun 2013 dan 600.188 ton pada tahun 2015. Pemupukan merupakan salah satu upaya intensifikasi untuk menambah kesuburan tanah melalui kegiatan ekstensifikasi yaitu perluasan area tanam sehingga mampu meningkatkan produksi sawi. Sementara itu menurut (Effendy et al., 2019) salah satu upaya menambah hasil tanaman yaitu dengan cara memperbaik kesuburan tanah melalui pemberian pupuk organik. Pemupukan yang tepat sesuai anjuran pemerintah dengan membudidayakan tanaman secara kontemporer melalui program supra insus yang dicanangkan beberapa waktu yang lalu memiliki target untuk meningkatkan produksi tanaman dalam waktu yang singkat. Kebijakan ini menggunakan cara dan inovasi yang secara instan dalam penggunaan sarana produksi seperti penggunaan pupuk anorganik dan pestisida anorganik pada wilayah pertanian secara terus menerus sehingga berakibat rusaknya kesuburan tanah dimasa yang akan datang dan menurunnya produktivitas tanah Jenis penelitian ini termasuk dalam bidang lingkungan dan dilakukan dengan metode eksperimental yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh limbah kulit bawang merah pada proses pertumbuhan tanaman. Pemberian pupuk organik cair limbah kulit bawang merah memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan bibit tanaman sawi. Dimana pada variasi tanaman sawi dengan perlakuan ekstrak 6% menunujukkan perbedaan nyata dibanding variabel kontrol tanpa pemberian pupuk organik cair limbah kulit bawang merah. Perbedaan nyata tersebut terjadi pada tinggi bibit tanaman sawi, jumlah daun tanaman sawi, dan ph tanah. Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan pupuk organik cair baik dan bisa digunakan sebagai alternatif pupuk tambahan dalam proses pembibitan tanaman.
Biokomposit Polimer dari Serat Kulit Akasia (Acacia crassicarpa) Sebagai Material Body Kapal Pengganti Komposit Sintetis Fiberglass dengan Getah Pinus (Colophony) sebagai Matriks
Penulis: Intana Aji Safrima, Fathir Kusuma Agung Winnara
Indonesia merupakan negara maritim. Tercatat bahwa kecelakaan transportasi pelayaran sangat tinggi. Oleh sebab itu diperlukan pengembangan material yang dapat memiliki ketahanan yang kuat dengan biaya produksi yang terjangkau yakni komposit. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui prosedur dan karakteristik dari sintesis biokomposit polimer dari serat kulit kayu akasia sebagai bahan dasar pengganti komposit sintetis untuk pembuatan fiberglass dan getah pinus sebagai matriks. Berdasarkan hasil karakteristik didapatkan data bahwa variasi E3 merupakan variasi impak terbaik yaitu sebesar 17,90 KJ/m2. Berdasarkan hasil dari uji kekerasan didapatkan rata – rata nilai kekerasan terbaik ada pada komposit E3 dengan nilai kekerasan 497 N/mm2. Berdasarkan hasil uji konduktivitas termal, diketahui bahwa E3 memiliki tingkat konduktivitas termal paling rendah, yaitu 43,20 W/m°C. Berdasarkan pengaruh getah pinus, untuk nilai daya serap air didapatkan data bahwa komposit dengan variasi terbaik G0 yakni tidak menyerap air. Selanjutnya, didapatkan data impermeabilitas untuk semua variasi menunjukkan tidak terjadi rembesan. Adapun kerapatan didapatkan data bahwa variasi A1 merupakan variasi terbaik dengan nilai kerapatan terendah atau paling ringan yaitu 0,677 gr/cm3. Kesimpulan dari hasil penelitian ini komposit menggunakan serat kulit akasia menghasilkan material yang kuat dan merupakan isolator terbaik. Di sisi lain, getah pinus memiliki keunggulan dalam menahan air karena getah pinus memiliki ikatan matriks yang kuat. Kata Kunci : Akasia, Biokomposit, Fiberglass, Getah Pinus
Inovasi Thin Film berbasis Sintesis Carbon Dots (CDs) dari Limbah Daun Bambu (Bambusoideae) sebagai Anti UV pada Gadget
Penulis: Risqa Rachmawati, Farhatun Rizqiyah
Pandemi Covid-19 mengharuskan masyarakat untuk melakukan social distancing dan mengalihkan aktivitas secara online dengan menggunakan gadget. Hal ini menyebabkan bahaya yang disebabkan oleh paparan sinar radiasi elektromagnetik, salah satunya pantulan sinar UV. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui karakteristikdan efektivitas CDs dari limbah daun bambu dengan variasi etanol (CDs E) dan akuades (CDs A) sebagai thin film anti UV. Pembuatan CDs dari limbah daun bambu dilakukan dengan metode microwave. CDs yang berhasildisintesis kemudian diuji karakteristiknya melalui uji spektrofotometer Ultraviolet Visible (UV-Vis),Photoluminescence (PL), dan Particle Size Analyzer (PSA). Hasil pengujian sampel melalui Uji UV-Vismenunjukkan bahwa sampel CDs E dan CDs A terbukti memiliki rentang panjang gelombang sesuai dengan panjang gelombang sinar UV. CDs limbah daun bambu yang telah diuji karakteristiknya kemudian dibuat thin film dengan metode drop casting dan diuji efektivitasnya dalam mengurangi efek paparan sinar UV menggunakanpenguji radiasi elektromagnetik KKMOON GM3120. Pembuatan thin film menggunakan larutan CDs E dengan variasi 80µl , 90µl, 100µl yang kemudian dituangkan ke atas kaca preparat berukuran 18 mm x 18 mm yang berada di dalam cawan, kemudian dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 60°C selama 15 menit. Pembuatan CDs sebagai thin film Anti UV telah berhasil melalui metode drop casting dengan menghasilkan variasi terbaik yaitu 100µl larutan CDs E. Hal ini terbukti terbentuknya lapisan tipis pada kaca preparat dengan luas permukaanterbesar dibandingkan variasi lainnya. Pengujian menggunakan alat penguji radiasi elektromagnetik menunjukkan bahwa CDs dapat menyerap gelombang elektromagnetik namun tidak signifikan.