1196 Hasil Pencarian
Pengaruh Puasa Bagi Kesehatan Fisik dan Mental Remaja
Penulis: Rusydatun Nisa', Zidna Zakia Dzihna
Sebagai umat Islam, kita harus tahu bahwa Islam memiliki 5 rukun yang harus ditaati, salah satunya adalah puasa. Tujuan dari puasa sendiri adalah untuk mengendalikan nafsu-nafsu yang menguasai diri manusia, baik nafsu jasmani maupun rohani dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan baik jasmani maupun rohani bagi manusia khususnya remaja yang sedang mengalami masa perubahan jasmani dan rohani. Oleh karena itulah penulis tertarik untuk mengangkat judul “Pengaruh Puasa Terhadap Kesehatan Fisik dan Mental Remaja”. Adapun penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bahwasannya ibadah puasa dilaksanakan tidak hanya untuk memenuhi kewajiban sebagai umat Islam. Namun, dibalik perintah kewajiban berpuasa tersebut terdapat manfaat bagi kesehatan mental dan fisik terutama untuk remaja. Penelitian ini diadakan di MAN 2 Kudus tahun pelajaran 2023/2024. Populasi penelitian ini adalah kelas XII yang berjumlah 406 orang dan mengambil sampel sebanyak 80 orang. Penelitian ini bersifat kuantitatif, instrumen yang digunakan berupa angket online, dan hasilnya menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara puasa terhadap kesehatan fisik dan mental bagi remaja.
Keteladanan Ratu Kalinyamat dalam Konsep Kesetaraan Gender Ditinjau dari Perspektif Al-Qur'an dan Hadits
Penulis: Zaskia Silviani Faradila, Muhammad Kamal Yusuf
Isu kesetaraan gender masih menjadi topik yang banyak diperbincangkan dan diperdebatkan oleh kalangan masyarakat. Gender bukanlah sekedar perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan. Namun, lebih pada bagaimana laki-laki dan perempuan dibedakan dari karakternya, peran sosialnya, atau identitasnya dalam masyarakat. Islam tidak mengajarkan diskriminasi antara laki-laki dan perempuan sebagai manusia. Hal mendasar yang menjadi pembeda antara kaum laki-laki dan perempuan menurut Islam adalah terletak pada kualitas iman dan takwanya. Mengenai kepemimpinan terhadap suatu pemerintahan identik dengan seorang laki-laki. Namun, seorang perempuan juga mampu untuk menjadi pemimpin yang berhak ikut andil dalam suatu perjuangan dan pemerintahan. Salah satu tokoh perempuan yang ikut andil dalam pemerintahan di Pulau Jawa adalah Ratu Kalinyamat. Penelitian tentang keteladanan Ratu Kalinyamat dalam konsep kesetaraan gender ditinjau dari perspektif Al-Qur’an dan Hadis ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konsep kesetaraan gender dalam perspektif Al-Qur’an dan Hadis serta bagaimana bentuk keteladanan Ratu Kalinyamat dalam konsep kesetaraan gender perspektif Al-Qur’an dan Hadis. Jenis penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak keteladanan yang dapat diambil dari Ratu Kalinyamat. Beliau merupakan sosok yang tangguh, berani, serta pantang menyerah. Terdapat beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bagaimana Islam dalam mengatur kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Ayat Al-Qur’an dan Hadis yang membahas mengenai kesetaraan gender sebagaimana kepemimpinan Ratu Kalinyamat. Kepemimpinan Ratu Kalinyamat menurut perspektif Al-Qur’an dan Hadis dikaitkan dengan peristiwa kepemimpinan para sahabat perempuan Rasulullah SAW zaman dahulu. Dalam kepemimpinannya, Ratu Kalinyamat mampu mendirikan kerajaan maritim yang kuat. Layaknya pemimpin pada umumnya, hal demikian dilakukan oleh seorang pemimpin laki-laki. Adapun mengenai pemimpin perempuan, dalam Al-Qur’an Surah An-Naml ayat 23 bahwa, Islam tidak melarang perempuan untuk mengambil peran menjadi seorang pemimpin dalam sebuah komunitas publik.
Fikih Nadzar menurut Mazhab Syafi'i (Studi Kasus Pemenuhan Nadzar di Desa Tigajuru Kabupaten Jepara)
Penulis: Nuris Salima, Shafwatul A'izzah Shabrina
Shafwatul A’izzah Shabrina, Nuris Salima. 2023. “Fikih Nadzar Menurut Mazhab Syafi'i (Studi Kasus Pemenuhan Nadzar di Desa Tigajuru Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara )”. XII Program Keagamaan. MAN 2 Kudus. Shobah Muqorrobien Dirjani, S.Pd.I, M.S.I Nadzar adalah mewajibkan diri sendiri untuk melakukan suatu perbuatan yang tidak diwajibkan syariat, jika suatu peristiwa yang disebutkan terjadi. Nadzar itu pada umumnya dilakukan baik itu nadzar dengan ibadah puasa, sholat, maupun sedekah. Asalkan tidak bermaksiat kepada Allah. Fenomena tentang masyarakat yang melakukan nadzar tanpa tanpa mengetahui kafaratnya jika tidak memenuhi nadzar tersebut. Fenomena ini terjadi kepada beberapa masyarakat Desa Tigajuru. Berdasarkan fenomena tersebut peneliti akan mengkaji bagaimana pemahaman nadzar dan pemenuhannya dalam masyarakat Desa Tigajuru. Ada beberapa alasan atau motivasi seseorang melakukan nadzar. Salah satunya yaitu agar keinginan atau hajat cepat dikabulkan. Sebagian orang memilih melakukan jalan ini. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pemahaman nadzar dalam masyarakat Desa Tigajuru, kemudian untuk mengetahui motivasi melakukan nadzar dan cara pemenuhan nadzar itu. Dalam hal pemenuhan nadzar tidak ditemukan syarat syarat tertentu ketika memenuhi nadzar tersebut dalam masyarakat Desa Tigajuru. Kata Kunci: nadzar, kafarat, Tigajuru
Pendidikan Jasmani Dalam Perspektif Islam
Penulis: Muhammad Alif Abdurrazak, Rois Faisal Amin
Pendidikan jasmani merupakan bagian dari tujuan pendidikan Islam. Karena tujuan pendidikan Islam mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Islam memandang bahwa jasmani merupakan struktur kepribadian manusia dalam bentuk potensial. Aspek ini tercipta bukan dipersiapkan untuk membentuk tingkah laku tersendiri, melainkan sebagai wadah atau tempat singgah struktur ruh. Kedirian dan kesendirian struktur jasmani tidak akan mampu membentuk suatu tingkah laku lahiriah, begitu pula sebaliknya ruh tidak akan berfungsi apabila tidak ada jasmani sebagai wadah ruh, misalnya berkaitan dengan tingkah laku batiniah yang diekspresikan dengan perbuatan pada tingkah laku yaitu gerak badan. Struktur kepribadian tersebut mencerminkan bahwa manusia adalah makhluk yang termulia dan terindah dari pada makhluk-makhluk ciptaan Allah SWT yang lain. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pendidikan jasmani dalam perspektif Al-Qur'an. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana Pendidikan Jasmani Dalam Al- Qur'an ? 2) Relevansi Pendidikan Jasmani Dalam Sistem Pendidikan Islam? Adapun tujuan penelitian ini adalah 1) Untuk mengetahui Pendidikan Jasmani Dalam Al-Qur'an 2) Untuk mengetahui relevansi Pendidikan Jasmani dalam dunia pendidikan Islam. Jenis penelitian penulis menggunakan deskriptif kualitatif yaitu mengkaji ayat-ayat al-Qur'an yang mempunyai maksud tentang pendidikan jasmani. Sumber data penelitian ini menggunakan data sekunder dan data primer. Metode pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode Conten Analysis dan kajian Naskah. Sedangkan teknik pengolahan data penelitian menggunakan Content Analysis dan Pengkajian Literatur. Adapun hasil penelitian ini adalah 1) pendidikan jasmani dalam al-Qur'an yaitu 1. Menjaga kebersihan (Al-Maidah: 6, An-Nisaa: 43, Al-Baqarah: 222). 2. Mengatur pola makan (Al-A'raf: 31, Al- Mukmin: 43, Al-Maidah: 5). 3. Istirahat serta olahraga teratur (Al-Furqan: 47, Al- Qashahs: 73, An-Naba': 9. Ar-Rum: 23). 2) Relevansi Pendidikan Jasmani Dalam Dunia Pendidikan. Pendidikan jasmani merupakan suatu hal yang terintegrasi dengan tujuan pendidikan Islam yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sulam Alis Menurut Perspektif Islam Dalam Surat At-tin Ayat 4
Penulis: Hana Aliyya Lail, Nahriya Mahmudatun Nisa'
Penelitian ini bertujuan untuk membahas sulam alis dalam perspektif Alqur’an surat at-tin ayat 4. Penelitian ini merupakan jenis kualitatif dengan menerapkan studi pustaka. Hasil dan pembahasan penelitian ini mencakup tinjauan umum sulam alis, tinjauan Alqur’an tentang nama? (mencukur atau mencabut bulu alis) dan hukum-hukum tentang mencukur alis terkait dengan realitas konkrit saat ini. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa mencukur bulu alis adalah haram jika mempunyai tujuan untuk mempercantik diri dan agar dipandang oleh laki-laki yang bukan mahram. sulam alis atau tato alis bisa menghilangkan struktur asli pada alis dan berdampak buruk bagi Kesehatan selain itu sulam alis juga menyakiti diri sendiri karena ada tahapan sulam yang membuat sakit. Hal tersebut yang dikatakan Alqur’an merubah ciptaan Allah. Tetapi apabila ada sesuatu hal yang mendesak untuk melakukan sulam seperti sakit tumor yang mengakibatkan harus mencukur alis sampai habis maka hal tersebut diperbolehkan asalkan menggunakan bahan herbal yang sudah dipastikan kehalalanya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi khalayak luas umat Islam, khususnya perempuan. Diakui penelitian ini memiliki keterbatasan dalam penyajian hadits yang berkaitan dengan Sulam Alis. Penelitian ini merekomendasikan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai dalil Al-qur’an tentang Sulam Alis yang memiliki kolerasi dengan konsep kekinian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya bersifat deskriptif, seperti transkripsi wawancara, catatan lapangan, gambar, foto, rekam vidio dan lain sebagainya. Penulis memilih metode kualitatif karena menginginkan penelitian dengan hasil yang mendalam dan menyeluruh atas peristiwa yang terjadi. Setelah dilakukan penelitian maka menghasilkan kesimpulan bahwa sulam alis merupakan perilaku yang dilarang oleh Allah Swt dan Rasul-Nya, karena dianggap merubah ciptaan Allah Swt tanpa adanya udzur syar’i. Dengan catatan apabila sulam alis tersebut dalam prosesnya dilakukan pencabutan terhadap bulubulu alis hingga tipis dan atau tinta yang digunakan dapat menghalangi syarat sah nya wudhu serta membahyakan bagi kesehatan
Analisis Hadits Tentang Larangan Laki-Laki Memakai Cincin Emas
Penulis: Naufal Bahri Al Fawwaz, Muhammad Kamal Yusuf
ABSTRAK Analisis Hadits Tentang Larangan Laki-Laki Memakai Cincin Emas Emas merupakan salah satu perhiasan yang paling diminati, terutama oleh kaum wanita dengan fungsi yang beraneka ragam. Selain digunakan sebagai mahar dalam acara pernikahan, emas juga bisa dijadikan asset untuk menyimpan harta agar tidak terjadi inflasi, sehingga nilai harta tidak akan berkurang dikarenakan harga emas yang cenderung stabil. Pada umumnya perhiasan emas yang berbentuk anting-anting, kalung, gelang, maupun cincin, sering dipakai oleh kaum wanita, karena hal tersebut bisa menjadikan penampilan lebih menarik ketika dipakai. Akan tetapi hal demikian tidak dianjurkan oleh laki-laki dengan alasan laki-laki tidak layak seperti kaum wanita dan bisa merugikan kesehatan bagi laki-laki ketika memakai emas. Dalam hadis Nabi banyak sekali redaksi yang memberitakan tentang larangan memakai cincin emas bagi laki-laki. Seperti yang telah diketahui bersama bahwa para ulama? memiliki perbedaan pendapat tentang cara memahami hadis Nabi. Ada yang memahami hadis Nabi secara tekstual, dan ada yang memahaminya secara kontekstual. Dalam karya tulis ilmiah ini akan membahas hadis yang berkaitan dengan larangan laki-laki memakai cincin emas dan kemudian memahami hadis tersebut. Penelitian ini bersifat kualitatif berdasarkan kajian kepustakaan. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan tematik (maudhu’i), yaitu menelusuri hadis berdasarkan tema. Sedangkan metode yang digunakan untuk pengelolaan data, penulis menggunakan metode deskriptif, yaitu memaparkan seluruh hadis lengkap dengan sanad, matan, asbabul wurud hadis (jika ada).
ANALISIS PERBEDAAN NAJIS URIN BAYI LAKI – LAKI DAN BAYI PEREMPUAN PERSPEKTIF KITAB FATHUL QARIB DAN TINJAUAN MEDIS
Penulis: Muhammad Aqyla zyan Asshofwa, M. Jefri Ananta
Dalam kehidupan saat ini banyak orang tidak mengetahui tentang perbedaan urin bayi laki-laki maupun bayi perempuan baik dari segi pensucian maupun penelitian secara ilmiah,oleh karena itu kami menyadari betul akan hal tersebut,dengan menggunakan metode penelitian studi pustaka,kami mencari berbagai informasi dari beberapa kitab kuning,buku serta jurnal-jurnal untuk mengetahui apa yang melandasi perbedaan urin bayi laki-laki dan bayi perempuan baik dari segi agama maupun medis,banyak para ulama berpendapat bahwa perbedaan antara urin bayi laki-laki dan bayi perempuan terletak pada tingkat kekentalan urin,dimana urin bayi perempuan lebih kental dibandingkan dengan urin bayi laki-laki,para ahli medis juga mengungkapkan bahwa perbedaan urin bayi laki-laki dan bayi perempuan di pengaruhi oleh kandungan bakteri yang dikandung keduanya,dimana kandungan bakteri yang terkandung dalam urin bayi perempuan lebih tinngi di banding kandungannya di bandingkan dengan urin bayi laki-laki, dengan ini perbedaan antara urin bayi laki-laki dan bayi perempuan tidak hanya berbeda dalam pensuciannya namun juga kandungan yang dimiliki keduanya.
Aktivitas Menghafal Alquran dan Pengaruhnya terhadap Prestasi Akademik Santri Pondok Pesantren Yasin
Penulis: Lubna Permata, Indah Nailatul Fadilah
Tulisan ini membahas tentang aktivitas menghafal Al-Qur’an pengaruhnya terhadap prestasi hasil studi santri. Penelitian dilakukan di Pondok Pesantren Yasin sebagai tempat pendidikan bagi santri yang berlokasi di Desa Sunggingan Kecamatan Kota Kudus Kabupaten Kudus Jawa Tengah. Peneliti mengidentifikasi terkait aktivitas menghafal Al-Qur’an dan pengaruhnya terhadap prestasi akademik santri. Pendekatan yang dilakukan adalah kuantitatif dengan metode kuesioner, melalui teknik pengumpulan data melalui angket terhadap 10 santri yang menghafal dan 10 santri yang tidak menghafal sebagai sampel objek penelitian. Skor yang diambil adalah skor rata-rata sikap dan prestasi antara santri yang menghafal dan tidak menghafal. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik editing, coding, skoring. Dari hasil penelitian teridentifikasi bahwa aktivitas menghafal Al-Qur’an berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap akademi santri. Untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan program takhfidz bagi santri, maka peneliti merekomendasikan beberapa masukan, antara lain; (1) para pembimbing takhfidz diharapkan semakin meningkatkan perhatiannya terhadap santri dalam menghafal dan mempelajari Al-Qur’an, (2) pengaturan jadwal belajar yang proporsional dengan menyesuaikan pada taraf kemampuan santri .
Hukum Meng-Ghasab Barang Menurut Kitab Fathul Qarib Dan Penerapan Di Pondok Pesantren Yasin
Penulis: Nihal Wafda Salsabila, Ikrima Maziyatal Laeli
Dikutip dari buku “fikih muamalah” karya dr. Suhendi. Pondok pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan islam tradisional yang para siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan kiai. Biasanya di dalam pondok pesantren sering kali para santri meng-gashab barang milik orang lain karena merasa bahwa barang tersebut milik bersama, padahal di dalam pondok pesantren sendiri sudah di beri peringatan tertulis maupun secara lisan tentang ghasab. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif, yaitu penelitian yang bersifat deskriptif, dalam penelitian ini cenderung menggunakan observasi dan dilakukan dengan wawancara. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa santri di Pondok Pesantren Yasin Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan beberapa santri di Pondok Pesantren Yasin, kami menyimpulkan bahwa pengertian ghasab adalah memakai atau mengambil manfaat barang orang lain tanpa seizin orang yang memiliki barang tersebut dan tidak ada maksud untuk mencuri. Ghasab ini berbeda dengan pencurian, jika pencurian dilakukan secara diam-diam maka, ghasab dilakukan secara terang-terangan. Namun, keduanya sama-sama tanpa diketahui oleh sang pemilik barang. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui pendapat beberapa santri mengenai ghasab di Pondok Pesantren Yasin, ghasab adalah memakai atau mengambil manfaat barang orang lain tanpa seizin orang yang memiliki barang tersebut. Mereka berpendapat bahwa ghasab termasuk perbuatan tercela dan hukumnya haram. Asal muasal perilaku ghasab ini terjadi ketika terdapat santri yang membutuhkan suatu barang tetapi ia tidak memiliki barang tersebut, sehingga ia mengambil barang orang lain tanpa izin. Kata kunci : Ghasab, Santri
Childfree Life-free: Penerapan Childfree dalam Menekan Angka Kemiskinan
Penulis: Dea Inggrita Mugiharso, Hana Fitri Lisdanta
Childfree merupakan salah satu pilihan dalam kehidupan rumah tangga yang berarti “bebas dari anak” dan sering dikaitkan dengan “wanita yang malas” dalam mengurus anak, padahal tidak semua orang yang memutuskan untuk childfree memiliki alasan tersebut. Terdapat berbagai faktor yang mendukung seseorang untuk memilih childfree. Salah satunya yaitu faktor ekonomi. Sebagian orang menikah karena ingin menghindari zina atau stigma masyarakat mengenai umur yang terlalu tua untuk menikah sehingga mereka terkadang tidak memperhatikan kondisi ekonomi. Hal ini sangat memengaruhi kehidupan rumah tangga, apalagi ketika pasangan tersebut telah memiliki anak. Pasangan mungkin akan menghadapi masalah keuangan yang serius apabila tidak memiliki persiapan yang cukup. Masalah-masalah tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai keterkaitan antara keputusan memilih childfree dengan proses atau implikasinya untuk menurunkan angka kemiskinan.