1196 Hasil Pencarian

Pemanfaatan Ampas Kelapa dan Sekam Padi sebagai Media Tanam Komposit Berbasis Miselium

Penulis: Luthfi Arroyan, Kelvin Oktama Ramadhan

Media tanam yang efektif dan ramah lingkungan sebagai alternatif dari media tanam konvensional sedang dicari dan diteliti untuk budidaya tanaman kangkung. Penelitian yang dilakukan pada Januari hingga Mei 2024 ini mengevaluasi efektivitas media tanam komposit dari sekam padi dan ampas kelapa berbasis miselium terhadap pertumbuhan tanaman kangkung. Media tanam komposit menawarkan solusi berkelanjutan. Pemanfaatan limbah pertanian seperti sekam padi dan ampas kelapa mengurangi penggunaan rockwool yang tidak ramah lingkungan dan mahal. Miselium, jaringan jamur, berfungsi sebagai perekat dan meningkatkan struktur serta nutrisi media tanam. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL). Para peneliti membuat tiga formulasi media tanam komposit: F1 (34% sekam padi, 66% ampas kelapa), F2 (50% sekam padi, 50% ampas kelapa), dan F3 (66% sekam padi, 66% ampas kelapa). Formulasi tersebut dibandingkan dengan rockwool sebagai kontrol. Hasil penelitian yang dilakukan selama 15 hari menunjukkan bahwa media tanam komposit F2 menghasilkan performa terbaik untuk pertumbuhan kangkung. Rata-rata tinggi tanaman kangkung di media F2 mencapai 8,9 cm dengan 6 helai daun dan panjang daun 6 cm. Dengan ini formulasi media tanam komposit yang paling optimal untuk pertumbuhan tanaman kangkung adalah F2. Temuan penelitian ini memberikan harapan baru bagi para petani kangkung. Media tanam komposit F2 berpotensi menjadi alternatif yang efektif dan ramah lingkungan dibandingkan dengan rockwool. Pemanfaatan limbah pertanian dalam pembuatan media tanam dapat mengurangi jejak lingkungan dan memberikan nilai tambah bagi petani. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menguji efektivitas media tanam komposit F2 dalam skala yang lebih besar dan pada varietas kangkung yang berbeda. Kata kunci : Media Tanam Komposit, Sekam Padi, Ampas Kelapa, Miselium, Pertumbuhan Tanaman, Rockwool.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pemanfaatan Eco Enzim Berbahan Dasar Limbah Kubis (Brassica oleracea) dan Sawi Hijau (Brassica juncea L.) sebagai Pupuk Organik Cair Tanaman Kangkung Darat (Ipomoea reptans Poir.)

Penulis: A'yun Syifana Josinawa, Indra Kumala

Sawi merupakan salah satu jenis sayuran yang cukup digemari masyarakat, baik dari kalangan bawah maupun menengah ke atas, hal ini karena mudah dibudidayakan dan dapat dikonsumsi segar maupun diolah ke dalam makanan. Eco Enzyme merupakan larutan fermentasi dari sampah organik seperti sisa buah dan sayuran, gula dan air. Enzim ramah lingkungan ini adalah cairan yang memiliki banyak manfaat dari pertanian, rumah tangga dan ternak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh Eco Enzyme terhadap pertumbuhan tanaman sawi dan menentukan dosis yang menunjukkan hasil terbaik. Metode yang digunakan adalah Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Pupuk Organik Cair (POC) dari eco enzim ini mempunyai pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan tanaman sawi tumbuhan hijau ditinjau dari tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun, panjang daun, berat basah dan berat kering pada perlakuan P4 yaitu penggunaan Pupuk Organik Cair dosis ( POC) eco-enzyme 30ml. Kata kunci : Eco Enzim, Pupuk Organik Cair (POC) Sawi Hijau (Brassica Juncea L.)

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Kombinasi Daun Kirinyuh (Eupatorium Odoratum) dan Bawang Dayak (Eleutherine Bulbosa) terhadap Bakteri Bacillus Subtilis Penyebab Diare

Penulis: Natania Citra Alghani, Hilmi Nihayatul Ulya

Bakteri adalah organisme yang tidak memiliki membran inti sel. Bakteri terbagi dalam berbagai jenis, salah satunya adalah Bacillus subtilis. Bacillus subtilis merupakan bakteri penyebab berbagai penyakit, salah satunya adalah penyakit diare. Diare merupakan keadaan di mana buang air besar lebih encer dan sering terjadi daripada biasanya. Penyakit diare pada umumnya ditangani dengan menggunakan antibiotik. Tanaman kirinyuh merupakan gulma penghambat pertumbuhan tanaman di sekitarnya. Daun dari tanaman kirinyuh dapat dimanfaatkan untuk obat herbal, karena mengandung senyawa antibakteri. Sedangkan, bawang dayak adalah tanaman obat yang mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin, yang berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antibakteri dari ekstrak kombinasi daun kirinyuh dan bawang dayak terhadap bakteri Bacillus subtilis yang merupakan penyebab penyakit diare. Ekstraksi kombinasi daun kirinyuh dan bawang dayak dilakukan dengan menggunakan metode maserasi dengan perbandingan konsentrasi ekstraksi 2:1, 1:1, dan 1:2. Analisis aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram kertas dengan berbagai konsentrasi. Kontrol positif yang digunakan adalah Amoxicillin. Pengukuran diameter zona hambat diukur menggunakan penggaris. Dengan penelitian yang akan dibuat, peneliti mengharapkan bahwa ekstrak kombinasi daun kirinyuh dan bawang dayak dapat memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Bacillus subtilis penyebab penyakit diare yang lebih efektif dari penelitian sebelumnya.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Uji Aktivitas Pestisida Nabati Ekstrak Kulit Bawang Merah (Allium cepa L.) terhadap Ulat Grayak (Spodoptera litura) pada Tanaman Cabai (Capsicum frutescens L.)

Penulis: Aryana Zulfah Maharani, Aqila Nida Kamilah

Kegagalan produksi tanaman cabai salah satunya disebabkan oleh hama ulat grayak yang merupakan populasi hama tertinggi tanaman cabai. Di lain sisi, masalah hama paling efektif dapat terselesaikan oleh pemberian pestisida, namun pemberian pestisida kimiawi secara berlebihan menyebabkan naiknya residu bahan kimia pada tamaman maupun lingkungan sekitar. Oleh karena itu, peneliti bermaksud mengembangkan pemberian pestisida pada tanaman cabai menggunakan alternatif pestisida nabati ekstrak kulit bawang merah yang mengandung senyawa acetogenin dan lebih ramah lingkungan serta menguji aktivitasnya dalam pengendalian hama ulat grayak pada tanaman cabai. Penelitian ini dibagi menjadi dua tahap, yaitu pembuatan beberapa formulasi pestisida nabati ekstrak kulit bawang merah dan pengujian efektivitas pestisida terhadap ulat grayak pada tumbuhan cabai. Pada tahap pembuatan pestisida, formulasi terbagi menjadi lima dengan ??0 berkonsentrasi 0% kulit bawang merah, ??1 20% kulit bawang merah, ??2 40% kulit bawang merah, ??3 80% kulit bawang merah, dan ??4 100% kulit bawang merah. Selanjutnya, pada tahap pengujian efektivitas pestisida terdapat dua macam pengaplikasian, yaitu aplikasi langsung ke hama uji dan aplikasi langsung ke tanaman. Pengujian aktivitas pestisida nabati ekstrak kulit bawang merah ini menggunakan metode maserasi selama 48 jam untuk mendapatkan hasil di setiap pengaplikasiannya. Pada pengaplikasian langsung ke serangga uji menghasilkan persentase mortalitas 0% pada ??0 dan ??1, 40% pada ??2 dan ??3, dan 60% pada ??4. Lalu pada pengaplikasian langsung ke tanaman menghasilkan persentase mortalitas 0% pada ??0 dan ??1, 20% pada ??2, 40% pada ??3, dan 60% pada ??4. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pestisida ekstrak kulit bawang merah 100% di kedua pengaplikasian menyebabkan rata-rata kematian paling tinggi dengan rata-rata kematian 60%.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pemanfaatan Kulit Bawang Merah dan Air Leri Sebagai Pupuk Organik Cair Terhadap Pertumbuhan Tanaman Terung Ungu (Solanum Melongena)

Penulis: Zenitha Septi Trissiani, Amanatuz Zulfana A'la

Tahun 2020, terjadi penurunan produksi tanaman terung. Kebutuhan terung belum tercukupi karena dalam pengembangannya terjadi banyak kendala yang dihadapi. Hal itu berakibat pada produksi terung yang semakin rendah. Faktor terbesar dari rendahnya angka produksi tanaman terung adalah penggunaan pupuk yang tidak bijaksana atau berlebihan. Hal tersebut dapat menimbulkan masalah bagi tanaman, seperti keracunan, rentan terhadap hama dan penyakit, kualitas produksi rendah, biaya produksi tinggi, dan dapat menimbulkan pencemaran. Penggunaan pupuk organik dapat menjadi solusi ramah lingkungan untuk meminimalisir penggunaan pupuk anorganik (pupuk kimia) bagi para petani. Peneliti bermaksud untuk membuat pupuk organik cair yang berbahan dasar dari limbah kulit bawang merah dan air cucian beras sebagai pupuk yang ramah lingkungan. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi. Metode observsi dalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui suatu pengamatan disertai pencatatan terhadap keadaan atau perilaku objek. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman (cm), diameter batang (cm), dan jumlah daun (helai) dari tanaman terung yang telah diberi perlakuan berbeda pada pemberian pupuk organik cair dengan konsentrasi kulit bawang merah dan ar leri yang bervariasi. Variasi formula yang digunakan yaitu P0, P1, P2, dan P3. Hasil yang didapat yaitu variasi konsentrasi air cucian beras berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman terung (Solanum melongena). Pemberian konsentrasi terbaik pada pertumbuhan tinggi batang dan jumlah daun yaitu pada formula P0. Sedangkan, pemberian konsentrasi terbaik pada lebar batang tanaman yaitu pada formula P3. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan di atas, maka perlu dikemukakan beberapa saran kepada peneliti selanjutnya sebagai berikut: 1) membuat zat pengatur tumbuh dengan waktu fermentasi yang lebih lama dan 2) melakukan penelitian sampai pertumbuhan generatif, guna memperkuat hasil penelitian.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Analisis Timbal (Pb) dalam Sampel Air dan Udang (Caridea sp.) di Sungai Kaligelis Kudus dengan Metode Ekstraksi Dithizone Menggunakan Spektofotometri UV-Vis

Penulis: Dika Fitria Shafira, Alvina 'Aisya Nabila

Industri di Indonesia saat ini mengalami perkembangan sangat pesat dan menyebabkan banyak bahan buangan berbahaya salah satunya logam berat timbal masuk ke perairan sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi pencemaran dan menyebabkan kualitasnya menurun. Seperti yang terjadi di sungai Kaligelis Kudus. Pencemaran pada perairan, dimana dalam air terdapat sumber kehidupan dan populasi berbagai macam mahkluk hidup contohnya ikan, udang, dan kepiting yang umum dikonsumsi oleh masyarakat. Cemaran logam berat, salah satunya timbal, akan menimbulkan dampak yang sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Pengecekan cemaran timbal pada air sungai dan udang di Sungai Kaligelis dilakukan dengan pembuatan reagen, preparasi sampel, penentuan Pb dalam sampel udang dengan ekstraksi dithizone, penentuan Pb dalam sampel air, penentuan larutan standar Pb(NO3)2, dan penentuan panjang gelombang maksimum. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa terdapat cemaran timbal dalam udang maupun air sungai Kaligelis Kudus. Kandungan logam Pb sampel air sungai lokasi 1 di area Tambak Lulang Kaligelis adalah 4,236 ppm, logam Pb pada sampel air sungai lokasi 2 di area Tegal Arum Kaligelis sebesar 1,462 ppm, logam Pb sampel udang sungai lokasi 1 di area Tambak Lulang Kaligelis adalah 3,758 ppm, dan sampel udang sungai lokasi 2 di area Tegal Arum Kaligelis sebesar 0,0913 ppm, dan sampel udang dengan larutan Pb adalah 1,661 ppm. Lokasi pengambilan sampel memberikan pengaruh terhadap penentuan kadar logam Pb dalam sampel udang dan air sungai lokasi 1 karena terdapat industri rokok di daerah area lokasi 1, sedangkan pada sungai lokasi 2 tidak terdapat industri.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Ex-Larvae (Larutan Pembasmi Larva Nyamuk): Pemanfaatan Ekstrak Daun Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) dan Sari Lidah Buaya (Aloe vera) dengan Penambahan Natrium Bikarbonat (NaHCO?)

Penulis: Livya Sabil Azzahra Ghufron, Aisyah Najwa Fauziyyah

ABSTRAK Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang mendukung berkembang biaknya berbagai jenis vektor, salah satunya adalah nyamuk. Upaya pengendalian nyamuk telah dilakukan baik secara kimia dan maupun biologi. Daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) yang mempunyai kandungan Limonoida yang dapat dijadikan sebagai insektisida alami. Penelitian kuasi eksprimen ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas larutan Ex-Larvae dalam membasmi larva nyamuk. Bahan yang digunakan adalah larutan Ex-Larvae yang dicampur ke dalam 1 litr air yang berisi 1 ekor larva nyamuk diamati rentang waktu kematian larva dengan dosis 2,0 ml, 3,0 ml, dan 4,0 ml. Hasil ini menunjukkan bahwa dosis 2,0 ml rentang waktu 17 jam 30 menit, dosis 3,0 ml rentang waktu 14 jam 30 menit, dosis 4,0 ml rentang waktu 11 jam 30 menit, dosis 5,0 ml rentang waktu 8 jam 30 menit, dosis 6,0 ml rentang waktu 5 jam 30 menit, dan dosis 7,0 ml rentang waktu 2 jam 30 menit. Dalam hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin banyak ekstrak daun jeruk nipis yang digunakan, akan semakin tinggi angka kematian larva nyamuk. Kata Kunci : Ex-Larvae, Larva Nyamuk, Daun Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia)

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Eco-enzym Daun Kemangi (Ocimum basilicum) dan Daun Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia) sebagai Lilin Aromaterapi Anti Nyamuk

Penulis: Naufal Davin Noor Azmi, Ahmad Naqib Zen

Nyamuk merupakan salah satu vector pembawa penyakit yang sering disepelekan. Padahal gigitan nyamuk tertentu dapat menyebabkan penyakit parah. Mulai dari malaria, demam berdarah, demam chikungunya, sampai kaki gajah. Terkhusus penyakit kaki gajah sebenarnya disebabkan oleh cacing, tetapi ditularkan melalui gigitan berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini bersifat kronis, sehingga jika pengidapnya tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, maka bisa menimbulkan disabilitas. Limbah rumah tangga berupa sisa sayuran, kulit buah, dan daun-daunan yang sudah dianggap sampah dapat dikonversikan menjadi eco-enzyme cairan serbaguna. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan salah satu fungsi eco-enzyme yaitu sebagai pengusir hama dan menggunakan lilin aroma terapi sebagai referensi produk yang akan dibuat. Dimana bukan hanya sebagai pengusir nyamuk saja, namun juga sebagai aroma terapi. Penelitian ini menggunakan daun kemangi (ocimum basilicum) dan daun jeruk nipis (citrus aurantifolia) sebagai bahan dasar untuk pembuatan eco-enzyme yang kemudian akan diproses menjadi lilin aromaterapi anti nyamuk. Pembuatan eco-enzyme dari daun kemangi (ocimum basilicum) dan daun jeruk nipis (citrus aurantifolia) menggunakan perbandingan f1= 2:5, f2 = 1:1, f3 = 5:2, dengan evaluasi sediaan lilin aromaterapi meliputi uji organoleptis, uji waktu bakar, uji efek terapi, dan uji efektifitas nyamuk. Hasil formulasi sediaan lilin aromaterapi antinyamuk dari eco-enzyme menunjukan bahwa lilin aromaterapi pada konsentrasi formula f1 efektif sebagai anti nyamuk dan pada konsentrasi formula f3 efektif sebagai aromaterapi.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pemanfaatan Black Soldier Fly(Hermetiailluencs) Sebagai Dekomposer Sampah Polyethylene Terephthalate (PET) dan Polistirena

Penulis: Adinda Dewi Larasati Ismailia

Abstrak Sebagai makhluk hidup, manusia memiliki hubungan yang sangat kuat dengan lingkungan serta dalam kehidupannya selalu bergantung dengan alam atau lingkungan sekitar. Di Indonesia sampah menjadi masalah yang tidak dapat dihindari. Rendahnya nilai recovery factor sampah organik dan anorganik menunjukkan rendahnya upaya recycle maupun recovery terhadap jenis sampah tersebut. Berbagai alternatif pengolahan sampah organik dan anorganik telah dikembangkan. Salah satunya adalah dengan pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF). Larva BSF merupakan strategi inovatif dan salah satu metode berkelanjutan untuk pengolahan sampah plastik. Tujuan penelitian ini yaitu: (1)meninjau seberapa besar potensi BSF dalam menguraikan sampah styrofoam dan botol plastik (2)untuk mengetahui kondisi optimum BSF selama proses penguraian sampah. Penelitian dilakukan menggunakan larva BSF berumur 14 hari. Larva yang memiliki berat 25 gr ditempatkan dalam kandang yang berbeda sebanyak 10 kandang. Jenis makanan yang diberikan adalah sayuran sayuran yang busuk maupun sayuran yang masih segar sebagai makanan asli BSF. Pada 5 kandang BSF diberi tambahan sampah polistirena dan 5 kandang lainnya diberi sampah PET. Berat akhir sampah polistirena maupun PET didata setiap 1 hari sekali selama 5 hari. Hasil penelitian menunjukkan BSF memiliki potensi yang lebih besar dalam menguraikan sampah polistirena dari pada sampah PET yaitu dengan rata rata akhir polistirena 0.1228 sedangkan PET 0.0676. BSF juga memiliki 2 kondisi optimum dalam menguraikan sampah plastik yaitu polistirena memiliki rata-rata maksimal pada variasi 5:1 sedangkan PET memiliki rata-rata maksimal pada variasi 5:2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan larva BSF dalam menguraikan sampah plastik cukup baik.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

INOVASI ANTIBACTERIAL TOOTHPASTE BERBASIS CHEMICAL COMPOUND PADA EKSTRAK DAUN KEMANGI (Ocimum basilicum) DAN KULIT BUAH DELIMA PUTIH (Punica granatum) GUNA MENGHAMBAT PERTUMBUHAN Streptococcus mutans PENYEBAB KARIES GIGI

Penulis: Diah Rizky Permata Budi, Nadia Aulia Safira

Rata-rata penduduk Indonesia yang mengalami karies gigi sebanyak 5 gigi per orang. Karies gigi merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh demineralisasi email dan dentin, rendahnya kebersihan gigi dan mulut serta kurang terpapar fluoride. Terjadinya karies gigi akibat peran dari bakteri Streptoccocus mutans. Sudah banyak yang dilakukan oleh peneliti salah satunya dengan memanfaatkan bahan alam dalam pasta gigi karena hal ini dianggap sangat bermanfaat dan sesuai dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap penggunaan bahan alami. Dinyatakan dalam beberapa penelitian bahwa pasta gigi herbal mampu mengatasi plak lebih baik dibandingkan pasta gigi non herbal, namun pada penelitian lainnya menunjukkan pasta gigi herbal memiliki efektivitas yang setara dengan pasta gigi non herbal dalam menurunkan indeks plak. Penelitian ini bertujuan mengetahui formulasi dan efektivitas daun kemangi (Ocimum basilicum) dan kulit buah delima putih (Punica granatum) sebagai pasta gigi herbal antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans. Sintesis daun kemangi dan kulit buah delima putih menggunakan metode maserasi. Setiap formula memiliki perbandingan ekstrak daun kemangi dan kulit buah delima putih yang berbeda yaitu 1:0, 0:1, 1:1, 1:3, 3;1. Berdasarkan uji skrining fitokimia ekstrak daun kemangi dan kulit buah delima putih positif mengandung flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan fenol. Pada pengamatan organoleptis menunjukkan bentuk yang semi padat dengan aroma khas daun kemangi dan kulit buah delima putih. Warna yang dihasilkan berbeda karena faktor variasi konsentrasi yang berbeda. Pada hasil pengamatan pH diperoleh bahwa F1, F2, F3, F4, dan F5 memiliki pH besar yang sama.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail