1196 Hasil Pencarian
PENGARUH VARIASI KONSENTRASI EKOENZIM BERBAHAN DASAR BAYAM (Amaranthus spp.) DAN KOL (Brassica oleracea var. capitata) DARI SAMPAH DAPUR TERHADAP MORTALITAS ULAT HONGKONG (Tenebrio molitor L)
Penulis: Fatikha Mutiara Arroziq, Rahmana Dewi
Kerusakan buah dan sayuran menjadi permasalahan yang sering ditemui oleh petani dan berdampak pada menurunnya produktivitas. Ulat hongkong (Tenebrio molitor L) merupakan ulat yang dapat memakan buah, sayuran, biji-bijian, dan makanan cadangan manusia lainnya. Penemuan insektisida yang ramah lingkungan diperlukan untuk mengatasi hama ulat hongkong. Sampah masih menjadi permasalahan yang sering dibahas di Indonesia, tidak terkecuali sampah sisa rumah tangga. Bayam dan kol merupakan sampah dapur yang berpotensi dikembangkan menjadi insektisida dalam bentuk ekoenzim karena mengandung bahan aktif, seperti diazinon, malathion, metalaxyl, permethrin, dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi, waktu tercepat, dan pengaruh ekoenzim terhadap mortalitas ulat hongkong. Ekoenzim dibuat dalam 3 variasi yaitu F1 (70 gram bayam dan 35 gram kol), F2 (53,5 gram bayam dan 53,5 gram kol), F3 (35 gram bayam dan 70 gram kol), serta F0 (tanpa pemberian ekoenzim) yang diujikan pada wadah berisi 5 ekor ulat hongkong. Parameter yang diamati adalah jumlah ulat hongkong yang mengalami kematian selama 40 menit waktu pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa F0 mengalami 0% kematian, sedangkan F1, F2, dan F3 100% kematian. Waktu kematian tercepat terlihat setelah 15 menit pada perlakuan F3. Penggunaan ekoenzim berbahan sampah dapur bayam dan kol dapat digunakan sebagai insektisida pada ulat hongkong.
Pengaruh Jenis Tanah terhadap Pertumbuhan Tumbuhan Lidah Buaya (Aloe vera)
Penulis: Zikra Afiantara, Nurlina Nabihah
Lidah buaya merupakan tanaman yang sudah akrab kita temui di Indonesia. Dengan berbagai manfaat yang dimilikinya, lidah buaya menjadi tanaman yang terkenal di kalangan masyarakat. Namun, produksi tanaman lidah buaya di Indonesia masih perlu dikembangkan, konsumen di Indonesia masih sering membeli produk lidah buaya impor. Perlu diingat bahwa tanaman dapat tumbuh dengan baik karna adanya faktor lingkungan. Tanah merupakan salah satu faktor penting dalam pertumbuhan tanaman. Hal ini disebabkan karena tanah merupakan media dimana tumbuhan dapat tumbuh, selain itu tanah merupakan sumber nutrisi bagi tanaman. Penelitian kami adalah mengamati pertumbuhan tumbuhan lidah buaya pada media tanah yang berbeda. Tanah yang digunakan diambil dari lokasi dan karakteristik yang berbeda. Dari penelitian kami mendapatkan hasil bahwa disetiap sampel tanah memberikan pengaruh yang berbeda. Dengan penelitian ini kami dapat memberikan informasi kepada para produsen tanaman lidah buaya mengenai media tanam yang dapat memberikan hasil maksimal pada pertumbuhan lidah buaya. Selain itu, penelitian ini dapat menambah pengetahuan bagi khalayak umum. Kata kunci : Lidah buaya, pertumbuhan, tanah
Analisis Sifat Mekanik Material Komposit dari Serat Kulit Nanas (Ananas comosus L.) sebagai Fiber Reinforced Plastic
Penulis: Farrel Khalifa Rayhan, Muhammad Alif Ilham Muzakki
Material komposit merupakan suatu jenis bahan baru hasil rekayasa yang terdiri dari dua atau lebih bahan, dan setiap bahan tersebut memiliki sifat yang berbeda satu sama lainnya, baik dari sifat kimia maupun fisikanya. Buah nanas (Ananas comosus L. Merr) merupakan salah satu buah dengan jumlah limbah yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tujuan penelitian ini adalah mencari perbandingan kandungan komposit dari kulit nanas sehingga menghasilkan komposit yang memiliki daya tahan tinggi. Jenis penelitian merupakan penelitian eksperimental kuantitatif. Penelitian dilakukan pada bulan Februari 2024 dengan lama penelitian 2 bulan dan berlokasi di Gedung Olimpiade Sains Terpadu MAN 2 Kudus. Pembuatan sampel uji dilakukan secara manual dengan menggunakan serat dari kulit nanas. Metode fraksi volume digunakan untuk mengetahui perbandingan serat kulit nanas dalam komposit dan metode uji impak dilakukan untuk menguji ketangguhan dari komposit dengan mencari harga impaknya. Nilai perbandingan fraksi volume serat nanas 10% didapat nilai harga impak sebesar 0.25 J/?mm?^2, perbandingan 15% sebesar 0.32 J/?mm?^2, dan perbandingan 20% sebesar 0.37 J/?mm?^2. Data yang diperoleh menunjukan bahwa semakin besar kadar serat kulit nanas dalam komposit, maka akan semakin besar nilai ketangguhannya.
Sintesis dan Karakterisasi Carbon Nanotube (CNT) Terlarut berbasis Bahan Alam Limbah Blotong Pabrik Gula Merah Kudus dengan Metode Sonikasi
Penulis: Ana Fithrotun Nisa', Hety Rizka Zakiyya
Limbah blotong, residu pabrik gula, menjadi limbah dengan pencemaran yang tinggi. Di sisi lain blotong mengandung ampas tebu yang memiliki senyawa selulosa, hemiselulosa, lignin dan pektin sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar carbon nanotube. Carbon nanotube (CNT) bersifat konduktif semi dan logam sehingga sesuai untuk diaplikasikan pada diagnostik klinis, keamanan pangan, dan pemantauan lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahi karakteristik karbon aktif limbah blotong dan CNT terlarut berbahan dasar karbon aktif blotong. Sebanyak 20 gr arang blotong diaktivasi dengan 300 ml H2SO4 2 M. Setelah proses aktivasi, karbon aktif blotong diuji dengan fourier transform infra red spectrophotomete (FTIR) dan menunjukkan hasil perubahan puncak pita bilangan gelombang yang tidak signifikan serta perubahan persen transmitan yang signifikan. Kemudian disintesis carbon nanotube dari 10 gr karbon aktif blotong dengan 10 ml HNO3 70 % dan disonikasi. CNT yang terbentuk diuji dengan transmission electron microscopy (TEM) dan menunjukkan CNT yang terbentuk memiliki rentang diameter luar sekitar 1,4 – 9 nm dan panjang tabung berkisar 4 – 34 nm yang memiliki ujung tertutup. Kata kunci: Carbon Nanotube (CNT), Karbon Aktif, Limbah Blotong
Uji Aplikasi Pupuk Zeolit dan Sekam Padi terhadap Pertumbuhan Tanaman Selada (Lactuca sativa)
Penulis: Shafira Aulia Syahrani Ra'uf, Delta Ardhika Adnina
Saat ini masih banyak petani yang menggunakan berbagai jenis pupuk organik dan anorganik. Pupuk organik sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian baik kualitas maupun kuantitas, mengurangi pencemaran lingkungan, dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan. Selama ini petani cenderung menggunakan pupuk anorganik secara terus menerus. Pemakaian pupuk anorganik yang relatif tinggi dan terus-menerus dapat menyebabkan dampak negatif terhadap lingkungan tanah, sehingga menurunkan produktivitas lahan pertanian (Wijana, dkk, 2012). Penggunaan pupuk anorganik (N,P,K) secara terus-menerus dan tidak bijaksana, tidak diimbangi dengan penggunaan pupuk organik atau pupuk hayati dapat menyebabkan tanah menjadi keras dan produktivitasnya menurun. Tumbuhnya kesadaran masyarakat dan petani akan dampak negatif penggunaan pupuk kimia berlebih terhadap lingkungan dapat menjadi salah satu dorongan untuk beralih ke pertanian yang ramah lingkungan (Priambodo, dkk, 2019)
SANELAL: Inovasi Material Kombinasi Kitosan-Sitronelal Berbahan Cangkang Keong Mas (Pomacea canaliculata) dan Minyak Sereh (Cymbopogon nardus) sebagai Adsorben Tumpahan Minyak
Penulis: Aya Hazarahma, Davina Aulia Nabalah
ABSTRAK Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki potensi sumber daya minyak melimpah, namun seringnya, proses pemanfaatan minyak menjadi salah satu faktor pencemaran laut. Menurut hasil penelitian Barros dkk. (2014), kitosan dan kitin dapat digunakan untuk menghilangkan tumpahan minyak dengan cara adsorbsi. Dalam penelitian ini kitosan yang didapat dari cangkang keong mas, lalu dimodifikasi dengan sitronelal dari minyak sereh. Hal itu dilakukan untuk mengetahui efektivitas material kitosan dari cangkang keong mas termodifikasi sitronelal dari minyak sereh wangi sebagai adsorben pada tumpahan minyak di laut, sehinnga diharapkan peneliti dapat mengatasi dua permasalahan utama di bidang kelautan dan pertanian. Penelitian ini diawali dengan proses deproteinasi dan demineralisasi, hasil yang didapatkan berupa kitin. Kitosan diperoleh dari kitin melalui proses deasetilasi. Modifikasi kitosan dengan sitronelal dilakukan setelah memurnikan kitosan dengan larutan NaOH 50%. Pengujian sampel dilakukan berupa FT-IR, uji kadar air, uji daya serap minyak, dan uji adsorbansi menggunakan spektrofotometer. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah modifikasi kitosan-sitronelal memiliki kadar air 30% dan dapat menyerap minyak hingga 56%. Kata kunci: adsorben, kitosan, minyak, sitronelal
BAKSO ACI TERFORTIFIKASI UMBI LOKAL GANYONG (Cannna edulis) SEBAGAI UPAYA PEMENUHAN SERAT PANGAN
Penulis: Viona Deva Qaulika, Chairunnisa Intan Asri Shafira
Bakso aci adalah makanan yang digemari banyak masyarakat. Makanan ini memiliki tekstur yang kenyal dan cita rasa yang gurih dengan bahan utama tepung tapioka sebagai sumber tekstur kenyal. Namun bakso aci belum memenuhi sumber serat pangan harian dengan baik. Jangklong atau umbi ganyong (Cannna edulis) merupakan umbi lokal khas kabupaten Kudus yang tumbuh di lereng pegunungan Muria. Ganyong mengandung serat yang tinggi. Selain itu Ganyong belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat sekitar. Bakso aci ganyong adalah produk diversivikasi pangan sumber serat berbasis tepung ganyong dan tepung tepung tapioka. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui formulasi yang sesuai dalam inovasi bocinyong dan mengetahui mutu fisik serta mutu gizi dari bakso aci ganyong. Dengan rancangan penelitian terdiri satu perlakuan pembuatan bakso aci yang sama terhadap tepung komposit (tapioka:ganyong) yaitu: 60:40; 50:50; 40:60. Metode yang digunakan observasi melalui uji organoleptik dengan panelis ahli sebanyak 10 orang. Data uji organoleptik bakso aci ganyong dianalisis dengan kruskal-wallis dengan bantuan program SPSS. Semakin tinggi konsentrasi tepung ganyong yang digunakan sebagai tepung komposit pembuatan bakso aci, maka tekstur bakso aci akan semakin padat dan dibandingkan dengan bakso aci tepung tapioka 100% sebagai kontrol, wujud tekstur, rasa, dan aroma dari bakso aci setelah dimasak tidak jauh berbeda, tetapi memiliki warna yang sedikit lebih gelap. Dengan demikian produk pangan bakso aci ganyong sangat potensial untuk dikembangkan menjadi produk pangan lokal khas Kudus yang tinggi akan serat, sehingga nilai jual ganyong turut meningkat dan kebutuhan serat pangan harian dapat terpenuhi. Kata Kunci: Bakso Aci, Ganyong, Organoleptik, Serat.
Uji Efektivitas Umbi Gadung sebagai Pendeteksi Merkuri pada Whitening Body Lotion
Penulis: Arini Mutia Nor Kamila, Ayu Saniatus Sholihah
Penggunaan whitening body lotion semakin populer di kalangan masyarakat karena banyak wanita ingin kulit putih secara cepat. Namun, perlu diingat bahwa beberapa whitening body lotion yang bisa memutihkan kulit secara instan mengandung bahan berbahaya seperti merkuri dan hidrokuinon, yang dapat membahayakan kesehatan. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah dengan memeriksa keberadaan merkuri dan hidrokuinon dalam produk whitening body lotion yang digunakan. Umbi gadung, yang umumnya tumbuh di Indonesia tetapi kurang dimanfaatkan karena mengandung sianida beracun, memiliki potensi sebagai alat pendeteksi merkuri dalam whitening body lotion. Hal ini disebabkan oleh perubahan warna yang terjadi pada umbi gadung saat terpapar merkuri, yang menyebabkan perubahan warna menjadi lebih gelap pada kadar tertentu. Penelitian kami dapat menguji kandungan merkuri dalam whitening body lotion dengan konsentrasi minimal sekitar 4%. Dengan metode ini, kami dapat memberikan informasi yang lebih jelas kepada konsumen tentang keamanan produk-produk perawatan kulit yang mereka gunakan. Selain itu, upaya ini dapat membantu mengurangi risiko kesehatan yang diakibatkan oleh penggunaan produk berbahaya. Penting untuk mempromosikan kesadaran masyarakat tentang bahaya bahan beracun dalam produk kecantikan dan mendorong penggunaan alternatif yang lebih aman untuk merawat kulit. Kata kunci: detektor, merkuri, umbi gadung
CANDIPAD: UJI EFEKTIVITAS ANTI JAMUR EKSTRAK ETANOL DAUN CIPLUKAN (Physalis angulata L.) TERHADAP PERTUMBUHAN Candida albicans PENYEBAB PENYAKIT KANDIDIASIS VULVOVAGINA
Penulis: Nadia Rizka Izzati, Alif Maya Asimatul Asir
Kandidiasis vulvovaginal merupakan infeksi yang disebabkan oleh jamur patogen Candida albicans yang tumbuh secara upnormal di vagina dengan gejala antara lain keputihan, gatal kemerahan, hingga kematian. Penyakit ini menyerang hampir tiga per empat wanita usia subur. Daun ciplukan (Physalis angulata L.) mengandung metabolit sekunder yang dapat digunakan sebagai antifungi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi antifungi yang efektif untuk diaplikasikan menjadi pantyliner. Metode yang digunakan adalah penelitian eksperimental yang meliputi uji fitokimia dan uji antifungi. Hasil yang di dapat pada uji fitokimia adalah ekstrak etanol daun ciplukan positif mengandung senyawa alkaloid, tanin, flavonoid, dan saponin. Sedangkan pada uji antifungi, hasil zona hambat terbaik terhadap aktivitas fungi Candida albicans diperoleh pada konsentrasi 60.000 ppm, yaitu dengan rata-rata sebesar 1,08 cm. Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun ciplukan efektif sebagai antifungi dengan formulasi terbaik pada konsentrasi 60.000 ppm dan dapat diaplikasikan pada pantyliner untuk digunakan sehari-hari.
Sintesis Metil Ester dari Minyak Jelantah dengan Katalis Kalsium Oksida (CaO) dari Cangkang Bekicot (Achatina fulica) Sebagai Agen Penurunan Buih
Penulis: Zahwa Aliyatul Fatikha, Aldina Anindya Putri
Limbah buih seringkali ditemukan dalam perairan domestik seiring dengan peningkatan populasi manusia. Limbah buih meningkatkan pertumbuhan bakteri dan pengapungan kotoran serta mengurangi efektivitas dari air. Salah satu solusi dari permasalahan buih ini adalah antifoam. Akan tetapi antifoam yang beredar di pasaran terbuat dari bahan yang sulit terdegradasi dan relative mahal. Penelitian ini memanfaatkan minyak jelantah dan cangkang bekicot sebagai bahan baku pembuatan metil ester untuk menurunkan buih menggunakan metode transesterifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana karakteristik metil ester dari minyak jelantah dengan katalis CaO dari cangkang bekicot sebagai agen penurunan buih. Metode yang digunakan adalah eksperimental, dimulai dari netralisasi minyak jelantah, pembuatan variasi sempel, dan reaksi transesterifikasi. Hasil analisa persentase yield metil ester dengan CaO 0,6 ; 0,9 ; dan 1,2 gram berturut-turut sebesar 86,8% ; 82,4% ; dan 77,3%. Sedangkan nilai viskositas pada metil ester dengan CaO 0,6 ; 0.9 ; daan 1,2 gram berturut-turut adalah sebesar 0,216P ; 0,244P ; dan 0,274P. Hasil uji pH menunjukkan nilai pH metil ester bernilai 5. Dari uji penurunan buih diperoleh data pada metil ester dengan CaO 0,6; 0,9;dan 1,2 gr berturut-turut sebesar 10,3%;10,5%;dan 12,8%. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa penambahan jumlah katalis tidak menyebabkan perbedaan yang signifikan terhadap persentase yiled yang dihasilkan. Akan tetapi dapat meningkatkan nilai viskositas dan persentase penurunan buih. Dapat disimpulkan jumlah CaO sebesar 1,2 gram akan mengasilkan metil ester dengan biaya relative rendah, dapat meminimalisir buih di perairan dan ramah lingkungan.