1196 Hasil Pencarian

Pemanfaatan Selulosa dari Ekstrak Kulit Bawang Putih Allium sativum dengan Penambahan Pati Biji Mangga dan Gliserol terhadap Pembuatan Bioplastik

Penulis: KHOZINATUL FARIKHAH, AKIMIL LAYALIA LINAILIL KHUSNA EDI

Plastik memainkan peran penting dalam industri. Namun penggunaannya dapat menimbulkan masalah lingkungan. Sebab, plastik sulit terurai secara alami.Salah satu cara untuk mengurangi dampak lingkungan adalah dengan menggunakan plastik yang terbuat dari bahan baku yang mudah terurai (biodegradable).Pada penelitian ini bahan baku yang digunakan untuk produksi plastik biodegradable adalah biji mangga, bawang putih, dan gliserin, dengan persentase ekstrak bawang putih (0%, 5%, 10%, 15%) dan gliserin (25%, 35%, 45%) dan 55% dari berat tepung biji mangga).Sifat mekanik plastik biodegradable yang dibuat dengan menambahkan ekstrak bawang putih pada biji mangga diperiksa berdasarkan kekuatan tarik dan pemanjangan. Kekuatan tarik tertinggi yaitu × 0,7 MPa dicapai pada sampel bioplastik yang mengandung 25% gliserin dan 15% ekstrak bawang putih.Di sisi lain, penelitian ini menemukan bahwa tingkat pertumbuhan adalah sekitar 10,11% hingga 16,2%.Nilai tersebut memenuhi kriteria dan kriteria properti sedang .

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

PEMBUATAN DAN PENGUJIAN PUPUK ORGANIK CAIR DARI SAMPAH DAUN BAMBU DENGAN METODE FERMENTASI MENGGUNAKAN EM4

Penulis: Adibba Ghafira Aininda

Pada era urbanisasi dan pertumbuhan populasi yang cepat di Indonesia, masalah pengelolaan sampah menjadi semakin mendesak. Dalam konteks ini, penggunaan pupuk organik cair (POC) dari sampah daun bambu melalui metode fermentasi menjadi salah satu alternatif yang menarik. Penelitian ini bertujuan untuk membuat dan menguji efektivitas POC dari sampah daun bambu menggunakan metode fermentasi dengan bantuan EM4 terhadap pertumbuhan tanaman sawi hijau. Dalam penelitian ini, dilakukan dua perlakuan pemberian POC dengan frekuensi penyiraman yang berbeda dan satu kelompok kontrol tanpa pemberian POC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian POC secara lebih sering cenderung memberikan hasil pertumbuhan yang lebih baik, dengan tanaman yang lebih sehat dan subur. Meskipun demikian, pemberian POC dengan frekuensi yang lebih rendah juga masih memberikan manfaat yang signifikan. Temuan ini menegaskan potensi POC dari sampah daun bambu sebagai alternatif pupuk organik yang ramah lingkungan dan efektif dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya adalah melakukan uji coba yang lebih luas dengan variasi perlakuan yang lebih detail dan mempelajari efek jangka panjang dari penggunaan POC terhadap produktivitas dan kualitas tanaman secara keseluruhan. Kata kunci : Tanaman sawi hijau, POC, Bambu kering, EM4, Fermentasi, Pertumbuhan tanaman.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Uji Karakteristik Ekstrak Etanol Pelepah Daun Pisang (Musa paradisiaca) untuk Mencegah Infeksi pada Usus Akibat Bakteri E.coli

Penulis: Athaya Raissa Putra, Adhitama Firdaus Salman

Bakteri Escherichia coli merupakan salah satu bakteri penyebab infeksi pada sistem pencernaan. Di Indonesia, salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada masyarakat adalah infeksi pada usus. Ekstrak etanol pelepah daun pisang merupakan ekstrak yang memiliki kandungan senyawa metabolit dalam antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder, karakteristik, dan pengaruh dari ekstrak etanol pelepah daun pisang karmilin dalam menghambat bakteri Escherichia coli. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat lima senyawa dominan yang terdapat pada ekstrak pelepah daun pisang karmilin yakni 9-Tetradecenal, (Z), Hexadecanoic acid (CAS), 9-Octadecenoic acid (Z)-, ethyl ester (CAS), Dodecanoic acid, dan Octadecanoic acid. Adapun hasil uji skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak pelepah daun pisang karmilin mengandung senyawa seperti saponin, polifenol, flavonoid, tanin, dan steroid. Ekstrak etanol kulit pisang mas menunjukkan aktivitas antibakteri yang paling baik dibandingkan limbah kulit pisang kayu yang dibuktikan penentuan diameter zona hambat yang kemudian ditetesi ekstrak pelepah daun pisang. Golongan senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak etanol daun pisang adalah alkaloid, steroid, saponin, fenol dan flavonoid berperan dalam antibakteri. Senyawa tersebut berguna sebagai antibakteri dalam mencegah infeksi pada usus atau enterokolitis.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pemanfaatan Limbah Kulit Kacang Tanah ( Arachis Hypogaea L) dan Minyak Jelantah dalam Pembuatan Biofoam Ramah Lingkungan

Penulis: Niswa Famriza Aulia, Zuhaida Tsania Nabilazka

Masalah serius yang sering dihadapi masyarakat Indonesia adalah sampah. Terjadinya peningkatan timbunan sampah didorong oleh perubahan gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat Indonesia yang menginginkan serba praktis sehingga banyak menggunakan plastik sekali pakai. Styrofoam menjadi salah satu jenis plastik yang sering ditemukan di Kudus. Menurut Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kabupaten Kudus, produksi sampah di Kota Kretek pada 2022 mencapai 43.000 ton dalam setahun, dengan rata-rata 120 ton per hari yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Styrofoam membutuhkan waktu yang lama dalam proses penguraian dan bila dilakukan pembakaran, sampah styrofoam akan menimbulkan gas berbahaya seperti karbon monoksida. Sehingga upaya pengurangan penggunaan plastik dengan alternatif kemasan lain untuk mengurangi bahaya negatif dari styrofoam telah banyak dilakukan, salah satunya dengan pengembangan produk polymer berupa biofoam menggunakan bahan alami seperti pati yang ditambahkan dengan gliserol yang memiliki sifat dapat didegradasi atau diurai oleh mikroba di dalam tanah. Salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan biofoam adalah kulit kacang tanah dan minyak jelantah. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah kulit Kacang Tanah ( Arachis Hypogaea L) dan minyak jelantah sebagai bahan pembuatan biofoam ramah lingkungan. Kata Kunci : Plastik, Biofoam, Styrofoam, Kulit Kacang Tanah, Minyak Jelantah

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Evaluasi Fisik dan Mekanis Kertas Berbahan Dasar Kulit Kacang Tanah (Arachis hypogaea) dan Kulit Jagung (Zea mays) dengan Pendekatan Kuantitatif

Penulis: Maria Avaya Ganita, Salsabilla Aisyah Ramadhani

Penggunaan kulit Kacang Tanah (Arachis hypogaea) dan kulit Jagung (Zea Mays) sebagai bahan alternatif dalam pembuatan kertas berkualitas dapat dilakukan karena memiliki kandungan serat tinggi dan berpotensi untuk mengurangi limbah pertanian. Metode ekstraksi serat dilakukan dengan menggunakan proses mekanis dan kimia untuk memperoleh bahan baku serat yang optimal dari kulit Kacang Tanah (Arachis hypogaea) dan kulit Jagung (Zea Mays). Karakteristik fisik dan kimia dari serat hasil ekstraksi dianalisis secara mendalam, termasuk panjang serat, kekuatan tarik, dan kandungan lignin. Analisis ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan serat sebagai bahan pembuat kertas. Pembuatan kertas dilakukan melalui serangkaian proses, termasuk pencampuran serat dengan bahan tambahan seperti perekat dan bahan pengisi. Proses pembentukan dan pengeringan dilakukan dengan seksama untuk mendapatkan kertas dengan sifat yang diinginkan. Kertas yang dihasilkan kemudian diuji untuk kekuatan tarik, ketebalan, dan ketahanan terhadap air. Sampel kertas diuji menggunakan uji ketebalan, uji daya serap air, uji kekuatan tarik, dan uji organoleptik. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan analisis varians (ANOVA) untuk melihat signifikansi perbedaan antarvariasi komposisi bahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi komposisi kulit Kacang Tanah (Arachis hypogaea) dan kulit Jagung (Zea Mays) berpengaruh signifikan terhadap kualitas kertas yang dihasilkan, dengan proporsi optimal pada campuran 50:50. Selain itu, penelitian ini dapat membuka pintu bagi pengembangan bahan baku alternatif yang berkelanjutan dan ramah lingkungan dalam industri kertas, sejalan dengan upaya global untuk mengurangi jejak lingkungan dan memanfaatkan limbah pertanian secara efisien.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pengembangan Beras Analog Berbasis Umbi Suweg(Amorphophallus campanulatus) dengan Penambahan CMC dan Tepung Ampas Tahu

Penulis: Salwa Nahdan Salsabila, Nathania Mayda Salsabila

Beras analog merupakan beras yang terbuat dari bahan-bahan seperti umbi-umbian dan serealia yang bentuk maupun komposisi gizinya mirip dengan beras. Pada penelitian ini digunakan suweg sebagai bahan baku karena mengandung karbohidrat dan pati yang tinggi. Pada pembuatan beras analog ini juga ditambahkan CMC untuk membentuk tekstur yang kokoh serta tepung ampas tahu untuk memperkaya kandungan serat beras analog. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan CMC dan tepung ampas tahu terhadap karakteristik beras analog. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak kelompok dengan 2 faktor. Pertama, dengan penambahan CMC yang terdiri dari 3 level yaitu 1,25%, 1,5%, dan 1,75%. Kedua, dengan penambahan tepung ampas tahu yang terdiri dari 3 level yaitu 5%, 10%, dan 15%. Uji parameter yang digunakan yaitu uji kadar air, analisis cooking time, dan uji organoleptik. Perlakuan terbaik diperoleh pada perlakuan penambahan CMC 1,5% dan penambahan tepung ampas tahu 5%.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

BEE GUM: Inovasi Permen Karet Alami Berbahan Dasar Beeswax dan Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) sebagai Penghambat Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans Penyebab Karies Gigi

Penulis: Fadillah Zubair Rafsanjani, Muhammad Adnan Habibi Handoyo

Permen karet merupakan makanan yang disukai banyak orang, termasuk anak-anak. Sayangnya, permen karet biasa dapat menyebabkan karies gigi. Untuk itu, peneliti mengembangkan permen karet antibakteri dari daun belimbing wuluh dan beeswax.Permen karet ini memiliki beberapa manfaat, seperti menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans penyebab karies gigi, meningkatkan kemampuan permen karet dalam menghambat pertumbuhan bakteri, dan memiliki tekstur yang tidak keras sehingga nyaman untuk dikunyah.Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat permen karet ini adalah beeswax, ekstrak daun belimbing wuluh, xanthan gum, sirup jagung, dan asam sitrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula terbaik adalah dengan kandungan beeswax 20 gram. Permen karet dengan kandungan beeswax lebih tinggi memiliki tekstur yang lebih tidak keras. Semakin banyak beeswax yang ditambahkan, semakin besar diameter zona bening yang menunjukkan penghambatan bakteri.Permen karet ini juga mengandung senyawa saponin, alkaloid, tanin, flavonoid, dan steroid/terpenoid. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa permen karet antibakteri dari daun belimbing wuluh dan beeswax memiliki potensi untuk menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans penyebab karies gigi. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk uji klinis pada manusia.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pembuatan Media Tanam Komposit dari Bonggol Jagung dan Serbuk Kayu berbasis Mycelium sebagai Media Tanam Tanaman Kangkung (Ipomoea aquatica)

Penulis: Muhammad Candra Kurniawan, Mohammad Arsy Sofwan

Pencarian alternatif media tanam yang efektif dan ramah lingkungan untuk budidaya kangkung menjadi fokus penelitian. Penelitian yang dilakukan pada Mei hingga September 2023 ini mengevaluasi efektivitas media tanam komposit dari bonggol jagung dan serbuk kayu berbasis mycelium terhadap pertumbuhan tanaman kangkung. Media tanam komposit menawarkan solusi berkelanjutan. Pemanfaatan limbah pertanian seperti bonggol jagung dan serbuk kayu mengurangi penggunaan rockwool yang tidak ramah lingkungan dan mahal. Mycelium, jaringan jamur, berfungsi sebagai perekat dan meningkatkan struktur serta nutrisi media tanam. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL). Para peneliti membuat tiga formulasi media tanam komposit: F1 (60% bonggol jagung, 40% serbuk kayu), F2 (50% bonggol jagung, 50% serbuk kayu), dan F3 (40% bonggol jagung, 60% serbuk kayu). Formulasi tersebut dibandingkan dengan rockwool sebagai kontrol. Hasil penelitian yang dilakukan selama 15 hari menunjukkan bahwa media tanam komposit F2 menghasilkan performa terbaik untuk pertumbuhan kangkung. Rata-rata tinggi tanaman kangkung di media F2 mencapai 8,3 cm dengan 6 helai daun dan panjang daun 6 cm. Keunggulan F2 juga terlihat pada tingkat porositas (63,56%), pH (6,5), dan daya serap air (80%) yang optimal untuk pertumbuhan tanaman. Temuan penelitian ini memberikan harapan baru bagi para petani kangkung. Media tanam komposit F2 berpotensi menjadi alternatif yang efektif dan ramah lingkungan dibandingkan dengan rockwool. Pemanfaatan limbah pertanian dalam pembuatan media tanam dapat mengurangi jejak lingkungan dan memberikan nilai tambah bagi petani. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menguji efektivitas media tanam komposit F2 dalam skala yang lebih besar dan pada varietas kangkung yang berbeda.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

LAANSETI : Lilin Aromaterapi Anti Nyamuk Aedes aegypti dari Serai (Cymbopogon citratus) dan Bunga Melati (Jasminum sambac)

Penulis: Zakiyya Chilma, Lucky Febrianti

Lingkungan yang kotor memunculkan banyak virus dan serangga yang berbahaya bagi kesehatan. Salah satunya adalah nyamuk Aedes aegepty yang merupakan penyebab utama tingginya kasus demam berdarah di Indonesia yang mencapai 93 ribu kasus. Hal ini dikarenakan penyebaran nyamuk Aedes aegypti yang sangat luas seperti di bak mandi maupun barang-barang bekas yang tergenang air. Selain itu, kurangnya upaya pencegahan penyebaran nyamuk Aedes aegypti juga menjadi penyebab tingginya kasus demam berdarah. Upaya pencegahan demam berdarah dapat dilakukan dengan membuat lilin aromaterapi anti nyamuk, dimana selain berfungsi sebagai sarana relaksasi juga bermanfaat untuk mengurangi keberadaan nyamuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya tolak lilin aromaterapi dari serai wangi dan bunga melati terhadap gigitan nyamuk jenis Aedes aegypti serta daya guna sebagai aromaterapi sekaligus. Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi preparasi alat dan bahan, pembuatan lilin, pengujian lilin berupa uji organolepis, waktu bakar, dan efektivitas. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa lilin pada F1 memiliki keefektifan daya tolak nyamuk lebih besar dan berfungsi sebagai aromaterapi yang memberi efek rileks. Pada pengujian warna didapatkan hasil bahwa warna lilin yang dihasilkan sama dan merata yaitu putih sehingga perbedaan konsentrasi minyak atsiri serai dan bunga melati tidak berpengaruh pada warna lilin. Pada uji tekstur dihasilkan bahwa perbandingan antara minyak atsiri serai dan melati yang sama menghasilkan tekstur lilin padat, berbeda halnya jika pada perbandingan yang berbeda menghasilkan tekstur lilin lembek. Pada pengujian waktu bakar diketahui bahwa konsentrasi minyak atsiri serai dan bunga melati tidak terlalu berpengaruh pada lamanya waktu bakar lilin. Kata kunci: Lilin aromaterapi anti nyamuk, serai wangi, bunga melati

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pembuatan Komposit Kertas Saring Berbahan Dasar Ampas Tebu (Saccharum Officinarum L.) dan Pati Kulit Pisang (Musa Paradisiaca L.) Sebagai Membran Filtrasi Makroplastik Pada Larutan Garam

Penulis: Ashlihatur Rosyada, Livia Amrina Rosada

Meningkatnya kebutuhan garam nasional berbanding terbalik dengan penurunan kualitas produksi garam dari tahun ke tahun. Kualitas garam sangat dipengaruhi oleh kondisi air laut, yang sebagian besar menurun akibat kontaminasi sampah plastik, termasuk makroplastik. Oleh karena itu, diperlukan penanganan limbah plastik di laut atau tambak garam sebelum proses produksi. Salah satu teknologi yang dapat digunakan adalah membran filtrasi. Dalam penelitian ini, digunakan membran komposit sebagai filtrat yang berbahan dasar ampas tebu dan pati kulit pisang. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji karakteristik komposit kertas saring berbahan dasar ampas tebu dan pati kulit pisang serta efektivitasnya sebagai membran filtrasi makroplastik. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen kuantitatif, yang meliputi preparasi sampel, pembuatan kertas komposit, uji organoleptik, dan uji efektivitas kertas komposit. Proses pembuatan kertas komposit dilakukan dengan menggunakan kombinasi massa ampas tebu kering 8,5 gram, tepung kulit pisang 8,3 gram, dan kertas bekas 8,2 gram yang dihaluskan dan dilarutkan dengan NaOH 10% sebanyak 400 mL sehingga menjadi bubur pulp. Pulp kemudian di-bleaching menggunakan larutan H2O2 dan dihaluskan dengan 0,3 gram kitosan, 0,3 gram CMC, dan 250 mL aquades. Pulp halus tersebut dicetak dan dikeringkan. Berdasarkan pengujian, kertas saring komposit berbahan dasar ampas tebu dan pati kulit pisang terbukti efektif untuk menyaring makroplastik ketika digunakan dalam empat lapisan tumpukan. Namun, kertas komposit ini tidak efektif untuk menyaring makroplastik jika hanya digunakan dalam satu lapisan. Kata kunci: komposit, ampas tebu, kulit pisang, filtrasi, garam, makroplastik

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail