1196 Hasil Pencarian
Santri Sebrang Ambtenaar : Pola Kehidupan Masyarakat Kudus Terkait Batas Imajiner Peradaban Sungai Gelis Dulu dan Sekarang
Penulis: Najla Aura Azzahra, Aghnia Aulia Putri
Wilayah Kudus dibagi menjadi 2 yaitu Kudus Kulon dan Kudus Wetan kedua daerah ini dibatasi oleh sungai yang bernama Sungai Gelis. Kudus Kulon merupakan wilayah kota lama yang masyarakatnya memiliki karakter yang cenderung tertutup. Sedangkan Kudus Wetan merupakan kawasan kota era kolonial yang masyarakatnya mendapatkan pendidikan sebelum diangkat menjadi pegawai pemerintah (Ambtenaar). Seiring berjalannya waktu banyak perbedaan peradaban zaman dulu dan sekarang. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui perkembangan dan peran Sungai Gelis dalam peradaban Masyarakat Kudus. 2) untuk menjelaskan karakteristik atau sikap antara masyarakat Kudus Kulon (santri) dengan masyarakat Kudus Wetan (Ambtenaar) terkait batas imajiner peradaban sungai gelis dulu dan sekarang. 3) untuk menganalisis interaksi antara masyarakat Kudus Kulon (santri) dengan masyarakat Kudus Wetan (Ambtenaar) terkait batas imajiner peradaban sungai gelis dulu dan sekarang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, sumber yang digunakan diantaranya 1) Wawancara, dilakukan kepada informan yang meliputi warga masyarakat Kudus Kulon dan Kudus Wetan 2) Observasi dillakukan secara langsung pada masyarakat. Analisis data penelitian ini terdiri dari 1) Reduksi data 2) Penyajian data 3) Penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah 1) Peran dan perkembangan Sungai Gelis meliputi: sejarah Sungai Gelis, mitos dan kepercayaan di sekitar Sungai Gelis, kegiatan ekonomi di sekitar Sungai Gelis 2) Karakteristik masyarakat Kudus Kulon dan Kudus Wetan yang meliputi: pola pikir, perilaku masyarakat, etos kerja, kepercayaan masyarakat, dan ciri khas masyarakat 3) Interaksi Masyarakat Kudus Kulon dan Kudus Wetan meliputi: Komunikasi Personal antara Masyarakat Kudus Kulon dan Kudus Wetan, Komunikasi dalam acara Kebudayaan dan Keagamaan, Komunikasi dalam Kegiatan Ekonomi Masyarakat.
Uji Aktivitas Ekstrak Kombinasi Daun Bayam Hijau ( Amaranthus ) dan Daun Salam (Syzygium Polyanthum ) sebagai Inhibitor Korosi pada Besi
Penulis: Naila Karimatur Rizqiyah, Zirlyfera Fauziatul Udzmah
Korosi pada logam besi merupakan masalah serius dalam berbagai industri karena dapat menyebabkan kerusakan material dan kerugian ekonomi. Penggunaan inhibitor korosi berbasis bahan alam menjadi alternatif ramah lingkungan untuk mengurangi laju korosi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas kombinasi ekstrak daun bayam hijau (Amaranthus) dan daun salam (Syzygium polyanthum) sebagai inhibitor korosi pada besi dalam medium asam. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi dengan pelarut etanol, kemudian dikombinasikan dalam berbagai konsentrasi. Uji korosi dilakukan menggunakan metode kehilangan berat (weight loss) dan analisis efisiensi inhibisi. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak mampu menurunkan laju korosi secara signifikan dibandingkan kontrol, dengan efisiensi tertinggi dicapai pada konsentrasi kombinasi tertentu. Senyawa fitokimia seperti flavonoid, tanin, dan alkaloid diduga berperan dalam proses inhibisi melalui pembentukan lapisan pelindung pada permukaan besi. Dengan demikian, kombinasi ekstrak daun bayam hijau dan daun salam berpotensi sebagai inhibitor korosi alami yang efektif dan ramah lingkungan.
Inovasi Bahan Bakar Minyak Ramah Lingkungan dari Limbah Plastik Polyethylene dengan Bantuan Katalis Karbon Aktif Tempurung Kelapa (Cocos nucifera) Teraktivasi H3PO4 sebagai Upaya Mewujudkan SDG’s 2045
Penulis: Yasmin Izza Sabrina, Sabrina Aulya Pramesthi
Program Sustainable Development Goals (SDGs) 2045 menekankan pentingnya energi bersih dan terjangkau dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Salah satu solusi potensial adalah konversi limbah plastik polyethylene (PE) menjadi bahan bakar cair melalui proses pirolisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik bahan bakar hasil pirolisis limbah PE menggunakan katalis karbon aktif dari tempurung kelapa (Cocos nucifera) yang telah diaktivasi dengan H?PO?, serta mengevaluasi efektivitas katalis tersebut dalam menurunkan temperatur dan waktu reaksi. Karbon aktif yang dihasilkan memiliki kadar air 6,11%, kadar abu 5,83%, kadar zat mudah menguap 9,88%, dan kadar karbon terikat 84,29%, yang seluruhnya memenuhi standar SNI. Uji FTIR menunjukkan bahwa aktivasi dengan H?PO? meningkatkan intensitas dan keberadaan gugus fungsi aktif seperti C–O, C=O, dan O–H, yang memperkuat daya adsorpsi katalis. Hasil pirolisis menunjukkan bahwa penggunaan katalis meningkatkan volume bahan bakar cair dari 5 ml menjadi 22 ml, mempercepat waktu pembakaran (1,32 menit dibandingkan 1,47 menit pada solar), dan meningkatkan efisiensi panas (volume air menguap 8 ml dibandingkan 5 ml pada solar). Temuan ini mendukung potensi limbah PE sebagai sumber energi alternatif ramah lingkungan dan mendemonstrasikan manfaat penggunaan tempurung kelapa sebagai katalis berbasis limbah organik dalam mendukung pencapaian SDGs 2045. Kata kunci: pirolisis, polyethylene, karbon aktif, tempurung kelapa, H?PO?, bahan bakar alternatif, SDGs 2045
Inovasi Pemanfaatan Ekstrak Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L. ) dalam Formulasi Sabun Cuci Piring: Studi Mengenai Efektivitas Pembersihan dan Keberlanjutan Lingkungan
Penulis: Sausan Aynur Rizki, Najma Ilyatus Suhla
ABSTRAK Belimbing wuluh merupakan tanaman yang memiliki banyak mafaat. Namun pemanfaatan tanaman tersebut tidak sebanding dengan manfaatnya. Melihat hal ini, maka dilakukanlah penelitian pembuatan sabun cuci piring yang terbuat dari belimbing wuluh untuk menambah nilai ekonomis dan mengurangi limbah yang terbuang sia-sia. Dari pengujian yang telah kami lakukan menunjukkan bahwa hasil pengujian hedoniknya adalah netral, pengujian analisis dejarajat keasaman (pH) adalah asam, pengujian stabilitas busa menunjukkan bahwa sabun cuci piring ini memiliki stabilitas yang baik, lalu dari pengujian organoleptik dapat diketahui sabun cuci piring tersebut memiliki warna bening kekuningan, aroma asam khas belimbing wuluh, dan tekstur yang lembut, yang terakhir pengujian homogenitas menunjukkan hasil bahwa sabun cuci piring tersebut homogen. kata kunci: belimbing wuluh, sabun cuci piring
FORMULASI DAN UJI SIFAT FISIK MASKER WAJAH KOMBINASI TEPUNG BERAS (Oryza sativa) DAN DAUN PEPAYA (Carica papaya L.)
Penulis: Millatus Salma, Mirza Saniya
ABSTRAK Paparan sinar matahari yang mengeluarkan radiasi ultraviolet (UV) dapat memicu kemunculan keriput pada wajah. Bahan alami yang dapat digunakan untuk mencerahkan kulit wajah dan mencegah penuaan dini adalah daun papaya dan tepung beras. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara pembuatan masker alami dari daun pepaya dan tepung beras kemudian untuk menguji sifat fisik masker wajah kombinasi tepung beras dandaun pepaya. Penelitian menggunakan metode eksperimen. Objek penelitian ini adalah produk masker daun pepaya dan tepung beras dengan komposisi formula I (70gram tepung beras: 30gram daun pepaya), formula II (50gram tepung beras: 50gram daun pepaya), formula III (30gram tepung beras: 70gram daun pepaya). Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental. Kemudian dilakukan uji sifat fisik meliputi uji organoleptis dan uji antibakteri. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa daun pepaya dapat dijadikan zat aktif pada formulasi sediaan masker wajah. Berdasarkan hasil uji sifat fisik, masker dalam formula III dengan konsentrasi (30%: 70%) memiliki sifat fisik paling baik. Kata Kunci: Masker Wajah, Daun Pepaya, Tepung Beras, Uji Sifat Fisik.
Detektor Tingkat Kematangan Buah Alpukat (Persea americana) Berbasis Sensor TCS3200 sebagai Upaya Peningkatan Buah
Penulis: Muhammad Daniel Haq, M Tafta Ahsin Millana
Penelitian ini bertujuan merancang dan menguji alat detektor tingkat kematangan buah alpukat (Persea americana) berbasis sensor warna TCS3200 guna meningkatkan kualitas hasil panen serta mempermudah proses sortasi dan konsumsi buah. Alpukat merupakan salah satu buah tropis yang sangat populer di Indonesia karena kandungan nutrisinya yang tinggi, termasuk lemak tak jenuh, serat, vitamin, dan mineral. Namun, buah ini termasuk jenis buah klimaterik yang biasanya dipanen dalam kondisi mentah dan akan matang beberapa hari kemudian. Hal ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi petani, pedagang, dan konsumen untuk menentukan waktu panen dan konsumsi yang tepat. Kesulitan dalam menentukan tingkat kematangan hanya dengan mengandalkan penilaian visual menyebabkan tingginya potensi pembusukan dan limbah makanan, terutama di tingkat konsumen rumah tangga. Untuk mengatasi tantangan tersebut, penelitian ini mengembangkan suatu alat yang mampu mendeteksi tingkat kematangan buah alpukat secara non-destruktif berdasarkan analisis warna kulitnya. Sensor TCS3200 digunakan sebagai komponen utama yang berfungsi membaca nilai RGB (Red, Green, Blue) dari kulit buah, dan hasilnya dianalisis menggunakan mikrokontroler Arduino nano. Sistem ini kemudian dikalibrasi dengan data RGB dari tiga kategori kematangan alpukat: belum matang, setengah matang, dan matang. Proses kalibrasi dilakukan dengan menggunakan buah alpukat sebagai sampel referensi dari masing-masing kategori, dan pembacaan dilakukan dalam kondisi pencahayaan yang dikontrol menggunakan lampu LED putih 10W agar pembacaan sensor tetap konsisten. Secara keseluruhan, alat ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi distribusi buah alpukat, mengurangi potensi kerugian akibat buah busuk, serta membantu konsumen dalam memilih buah yang sesuai kebutuhan. Kedepannya, pengujian terhadap lebih banyak sampel dan berbagai varietas alpukat perlu dilakukan guna memperkuat validitas sistem klasifikasi. Penambahan fitur seperti koneksi Bluetooth, Wi-Fi, serta integrasi database RGB untuk berbagai varietas alpukat juga menjadi potensi pengembangan. Penelitian ini telah membuktikan bahwa teknologi sederhana namun tepat guna seperti TCS3200 bisa menjadi solusi nyata bagi masalah pertanian dan distribusi pangan di Indonesia. Oleh karena itu, implementasi alat ini dalam skala lebih luas, seperti di pasar buah, koperasi tani, atau bahkan rumah tangga, akan sangat berguna untuk mendukung ketahanan pangan dan efisiensi konsumsi masyarakat. Kata Kunci : buah alpukat, sensor warna TCS3200, RGB, Arduino nano, ketahanan pangan?
Pembuatan Lilin Aromaterapi dari Kombinasi Minyak Hidrosil Biji Pala (Myristica fragrans) dan Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) untuk Meredakan Insomnia
Penulis: Edla elva faretta ardine, Kharisa Aulia Putri
Insomnia merupakan gangguan tidur yang banyak dialami oleh masyarakat, khususnya remaja dan mahasiswa. Aromaterapi menjadi salah satu alternatif terapi non-farmakologis yang semakin populer karena efek relaksasinya yang dapat meredakan stres dan meningkatkan kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi kombinasi minyak atsiri biji pala (Myristica fragrans), dan kayu manis (Cinnamomum burmannii), dalam pembuatan lilin aromaterapi sebagai relaksasi dan penghantar tidur. Indonesia dikenal sebagai penghasil berbagai jenis tanaman penghasil minyak atsiri, termasuk pala dan kayu manis yang memiliki kandungan senyawa volatil seperti myristicin, safrole, sinamaldehid, dan eugenol dengan efek farmakologis yang menenangkan. Metode yang digunakan dalam pembuatan lilin aromaterapi ini melibatkan ekstraksi minyak atsiri melalui proses distilasi serta formulasi lilin dengan perbandingan minyak hydrosol biji pala: minyak asiri kayu manis F1( 10 : 0 ), F2 ( 0 : 10 ), F3( 5 : 5 ) ,F4( 7,5 : 2,5 ) dan F5( 2,5 :7,5 ). Selain itu, dilakukan pula pengujian hedonik dan organoleptik terhadap aroma, warna, dan tekstur lilin oleh panelis untuk menilai tingkat penerimaan produk. Hasil pengujian menunjukkan bahwa warna lilin semakin coklat apabila semakin banyak kayu manis yang ditambahkan, seluruh lilin menghasilkan aroma yang sama yaitu aroma lilin. Waktu bakar terbaik dihasilkan oleh F5 yaitu 168,41 menit. Hasil rata-rata uji organoleptik pada penelitian ini,warna yang paling disukai yaitu formula 1 sebesar 4,4 dan aroma yang disukai yaitu formula 3 sebesar 4,0.bahwa kombinasi minyak atsiri yang digunakan disukai oleh sebagian besar panelis, dengan nilai hedonik tertinggi pada aroma dan warna lilin. Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan produk lilin aromaterapi yang tidak hanya efektif dalam mengatasi gangguan tidur, tetapi juga memiliki nilai jual dan potensi pengembangandalam industri
Formulasi Permen Gummy Sebagai Alternatif Pengganti Tablet Tambah Darah Berbahan Dasar Jeruk dan Tomat Untuk Pencegahan Anemia Pada Pelajar
Penulis: Kintan Naura, Intan Alif Khoirunnisa
Darah memiliki peran penting dalam tubuh manusia, terutama dalam mengangkut oksigen dan nutrisi ke seluruh jaringan. Namun, masalah kekurangan darah atau anemia masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang cukup tinggi di Indonesia, khususnya pada kalangan pelajar. Anemia pada remaja umumnya disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi, pola makan yang tidak seimbang, serta rendahnya konsumsi makanan bergizi. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai dampak seperti mudah lelah, menurunnya konsentrasi belajar, hingga terganggunya aktivitas sehari-hari. Prevalensi anemia yang tinggi pada remaja jika tidak ditangani dengan baik akan berlanjut hingga dewasa dan berkontribusi besar terhadap angka kematian ibu, bayi lahir prematur, dan bayi dengan berat lahir rendah. Upaya penanggulangan anemia telah dilakukan melalui pemberian tablet tambah darah (TTD), namun masih terdapat kendala seperti rasa yang kurang disukai dan rendahnya kepatuhan konsumsi pada pelajar. Oleh karena itu, diperlukan inovasi alternatif yang lebih menarik dan mudah dikonsumsi, salah satunya dalam bentuk permen gummy berbahan dasar jeruk dan tomat yang mengandung vitamin dan nutrisi pendukung penyerapan zat besi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi permen gummy jeruk dan tomat yang paling disukai serta karakteristik organoleptiknya. Pembuatan gummy dilakukan dengan tiga variasi formula yang dibedakan berdasarkan konsentrasi sari buah jeruk dan tomat. Ketiga formula tersebut kemudian diuji menggunakan uji organoleptik dan uji hedonik terhadap 10 responden. Pengambilan data dilakukan melalui kuesioner berbasis Google Form dengan parameter penilaian meliputi rasa, aroma, warna, tekstur, dan bentuk menggunakan skala ordinal berbasis numerik (rating bintang 1–5). Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk menentukan tingkat kesukaan dan formula yang paling optimal berdasarkan nilai rata-rata tertinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula pertama permen gummy jeruk dan tomat (F1) memiliki tingkat kesukaan tertinggi dibandingkan formula lainnya, terutama pada parameter rasa dan tekstur. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi produk dalam bentuk gummy dapat menjadi alternatif yang lebih disukai oleh pelajar. Konsumsi permen gummy jeruk dan tomat diharapkan dapat membantu meningkatkan minat konsumsi nutrisi yang mendukung pencegahan anemia secara lebih praktis dan menyenangkan.
PEMANFAATAN LIMBAH CANGKANG TELUR AYAM DAN AMPAS TEBU (Saccharum officinarum) SEBAGAI BAHAN TAMBAHAN PADA PEMBUATAN BATU BATA RINGAN
Penulis: Andrean Dimas Satrio, Hisyam Putra Sasongko
Penelitian ini mengkaji pemanfaatan limbah cangkang telur ayam (mengandung 90,9% CaCO?) dan ampas tebu (68,5% SiO?) sebagai bahan tambahan pembuatan batu bata ringan. Melalui metode eksperimen dengan variasi komposisi 10-30%, hasil menunjukkan campuran 10% menghasilkan kekuatan tekan optimal 6,68 MPa. Cangkang telur meningkatkan kekuatan tekan, sedangkan ampas tebu mengurangi berat jenis. Penelitian membuktikan kedua limbah dapat menjadi bahan alternatif ramah lingkungan yang menurunkan biaya produksi dan memenuhi standar kualitas batu bata ringan.
Pemanfaatan Limbah Sisik Ikan Bandeng (Chanos chanos) dan Sabut Kelapa (Cocos nucifera L.) sebagai Adsorben Pemurnian Minyak Jelantah
Penulis: Nadia Hanifah Hakim, Gharizatul Hasanah
Adsorben merupakan zat padat yang dapat menyerap komponen tertentu dari suatu fasa fluida. Adsorben terdiri dari bahan-bahan yang berpori dan langsung mengenai dinding pori pada lokasi pertikal. Tujuan dari penelitian ini adalah umtuk mengetahui formulasi yang baik untuk mengadsorbsi minyak jelantah dan mengetahui karakteristik kitosan dan arang yang dihasilkan pada beberapa perbandingan berpengaruh dalam memurnikan minyak goreng bekas. Penelitian ini dilakukan dengan metode adsorpsi sampel minyak jelantah menggunakan bioadsorben sabut kelapa dan kitosan sisik ikan bandeng. Penggunaan proses adsorben minyak goreng bekas ini adalah agar minyak goreng bekas yang sudah tidak layak pakai di masyarakat dapat dimanfaatkan kembali. Kemudian dilanjutkan dengan proses adsorpsi dimulai dengan 100 ml minyak ditambahkan 1 g adsorben dari sabut kelapa sambil diaduk terus menerus selama 90 menit dengan suhu 70-80 C. Setelah itu, untuk formulasi yang kedua minyak ditambahkan 1 g sabut kelapa dan 1 g kitosan sisik ikan bandeng. Selanjutnya sampel dioven selama 4-6 jam pada suhu 105 C, kemudian didinginkan didalam desikator selama 15 menit dan ditimbang. Hasil terbaik berdasarkan SNI minyak goreng terdapat pada formulasi 1 dengan kadar air 8,43% dan kadar abu 10%. Kata kunci: kitosan, sisik ikan bandeng, arang aktif, minyak jelantah