1196 Hasil Pencarian
“NOSION” Nanospray Berbahan Ekstrak Daun Mangga (Mangifera indica) dan Daun Rambutan (Nephelium lappaceum) sebagai Inhibitor Korosi
Penulis: Fatih Azzam Robbani, Ihsan Maulidan Nafi
Indonesia merupakan negara tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, sehingga cocok menjadi negara agraris. Curah hujan yang tinggi berdampak pada sektor pembangunan, khususnya pada logam. Reaksi elektrokimia antara logam dengan lingkungannya yang menyebabkan korosi, dapat menurunkan daya guna logam, rapuh, kasar, dan mudah hancur. Solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menghambat proses perkaratan pada logam menggunakan inhibitor korosi atau penghambat karat. Namun, Inhibitor korosi yang digunakan oleh masyarakat pada umumnya dinilai kurang ramah lingkungan karena menggunakan berbagai zat kimia yang berpotensi mencemari dan merusak lingkungan. Daun mangga dan rambutan sering kali menjadi limbah karena jumlahnya yang banyak dan kurangnya pemanfaatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan pengaruh dari pemanasan gelombang mikro dalam pembuatan inhibitor korosi menggunakan daun mangga dan rambutan. Metode yang digunakan adalah eksperimental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintesis ekstrak daun mangga dan rambutan menggunakan metode pemanasan microwave dan ultrasonic bath menunjukkan flouresensi dengan ukuran partikel pada pengujian PSA sebesar 570,3 nm. Pada hasil uji skrining fitokimia didapatkan hasil bahwa daun mangga dan daun rambutan positif mengandung senyawa tanin, flavonoid, dan saponin. Senyawa tanin pada kedua daun tersebut berpotensi untuk digunakan sebagai inhibitor korosi yang cukup efektif dan lebih ramah lingkungan, tentunya dengan harga yang terjangkau. Persentase inhibisi daun mangga dan rambutan pada konsentrasi 1% berturut-turut sebesar 58,9% dan 31,7%. NOSION merupakan solusi efektif dan ramah lingkungan dalam mencegah korosi pada logam dengan memanfaatkan ekstrak daun mangga dan rambutan yang mengandung senyawa aktif, memiliki efektivitas tinggi pada sampel 8 menit, serta berpotensi untuk dikembangkan secara luas.
PEMANFAATAN KITOSAN KULIT UDANG DAN EKSTRAK JAHE MERAH (Zingiber Officinale Var Rubrum Rhizoma) SEBAGAI PENGAWET BUAH TOMAT (Solanum lycopersicum)
Penulis: Putri Zahra Amelia, Dyah Wahyu Sri Utami
Tomat (Solanium lycopersicum) merupakan tanaman komoditas hortikultura yang bernilai ekonomi tinggi. Namun, tomat memiliki kelemahan, yaitu sifatnya yang mudah membusuk karena mengandung kadar air yang tinggi dan paparan dari mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas kitosan dari kulit udang dan minyak atsiri jahe merah sebagai pengawet alami untuk memperpanjang masa simpan tomat serta menentukan perbandingan terbaik antara kedua bahan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dan komparatif, dengan empat perlakuan berbeda pada tomat, yaitu 1:1, 2:1, 1:2, dan kontrol untuk perbandingan minyak atsiri jahe merah dan kitosan kulit udang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kitosan dan minyak atsiri jahe merah mampu menjaga kualitas tomat lebih lama dibandingkan dengan kontrol. Perbandingan 1:1 terbukti lebih maksimal dalam menjaga kualitas warna, tekstur, dan aroma tomat sampai hari keempat dibandingkan perbandingan lainnya. Dengan demikian, penggunaan kitosan kulit udang dan minyak atsiri jahe merah dapat menjadi solusi alami untuk memperpanjang masa simpan tomat tanpa bahan kimia sintetis. Kata Kunci: Tomat, pengawet alami, kitosan kulit udang, minyak atsiri jahe merah.
Pemanfaatan Kalsium pada Limbah Tulang Ikan sembilang (Plofosus canius) dan Ekstrak Cengkeh (Syzygium aromaticum) Untuk Pembuatan Pasta Gigi Hidroksiapatit
Penulis: Ali Ahmad Al Fawaz, Dimas Ardi Nursyamsi
-
AEBOL: Sintesis dan Karakterisasi Aerogel Berbasis Batang Pisang Kepok untuk Pengurangan Timbal di Kali Gelis Kota Kudus
Penulis: Medina Amry Safarida, Ayudya Putri Tsaqifa
Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi alam yang berlimpah, ketersediaan kekayaan alam yang melimpah dan keragaman hayati yang ada didukung pula dengan lingkungan yang baik. Namun, ketidakseimbangan lingkungan terjadi karena adanya pencemaran. Plumbum (Pb) atau yang biasa disebut timbal merupakan polutan anorganik yang sangat berbahaya yang sering dijumpai. Efek toksik dapat mengganggu organ di dalam tubuh, seperti sistem saraf. Status mutu air sungai pada Sungai Gelis adalah cemar sedang, kadar timbal yang terhitung di bawah baku mutu Kelas II. Salah satu cara untuk mengatasi pencemaran logam berat seperti timbal adalah dengan menggunakan adsorben. Pelepah pisang kepok yang sering ditemukan di Kudus berpotensi sebagai bioadsorben karena tersedia melimpah dan mengandung selulosa yang tinggi. Adsorben berbahan selulosa pelepah pisang dapat dibuat lebih efektif dengan mensintesis adsorben menjadi aerogel. Aerogel merupakan padatan yang 95-99% berisi udara, yang memiliki bobot sangat ringan dengan porositas besar. Penelitian ini bertujuan untuk sintesis dan karakteristik dari Aebol serta potensi dan keefektifan aebol dalam mengadsorbsi timbal yang ada di sungai Gelis. Pembuatan aerogel diawali dengan proses delignifikasi dan bleaching serbuk pelepah pisang. Kemudian proses sintesis aerogel, diawali dengan pencampuran NaOH, urea, air demineralisasi dilanjutkan larutan di gelasi, koagulasi, solvent exchange, dan terakhir sampel di freeze drying. Variasi waktu kontak (60 dan 120 menit) massa adsorben (0 0,01 0,02 0,03 g) dan konsentrasi adsorbat 10 mg/L. Selulosa aerogel hasil sintesis memiliki karakteristik berbentuk serbuk berwarna putih kecoklatan dengan beberapa gumpalan serbuk. dengan. Hasil penentuan kapasitas adsorpsi selulosa aerogel dilakukan dengan menggunakan spektrometer UV-Vis menunjukkan bahwa waktu paling efektif penyerapan timbal adalah 120 menit dan massa adsorben 0,03gram. Kapasitas adsorpsi selulosa aerogel meningkat dengan peningkatan konsentrasi adsorbat. Kata Kunci: Aerogel Selulosa, Pelepah, Timbal
Analisis Potensi Tanaman Ekor Kucing (Typha latifolia) dan Melati Air (Echinodorus palaefolius) sebagai Fitoremediasi pada Limbah Laundry dengan Bioindikator Ikan Mas (Carassius auratus)
Penulis: Zackia Zelda Azzahra, Arifianti Atiqotu Zahro
Peningkatan aktivitas laundry di lingkungan masyarakat menimbulkan masalah pencemaran air akibat limbah yang mengandung detergen dan bahan kimia berbahaya. Padahal, sistem pengolahan limbah ramah lingkungan belum banyak diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi tanaman Ekor Kucing (Typha latifolia) dan Melati Air (Echinodorus palaefolius) sebagai agen fitoremediasi untuk mengurangi pencemaran air limbah laundry, serta menilai efektivitasnya menggunakan bioindikator Ikan Mas (Carassius auratus). Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Perlakuan dilakukan selama Sembilan hari dengan tiga variasi, yaitu kontrol (tanpa tanaman), tanaman Ekor Kucing (Typha latifolia), dan tanaman Melati Air (Echinodorus palaefolius). Parameter yang diamati meliputi kejernihan dan bau air, serta respons fisiologis dan perilaku ikan mas. Hasil menunjukkan bahwa kedua tanaman memiliki kemampuan fitoremediasi, tetapi Ekor Kucing (Typha latifolia) lebih efektif dalam menurunkan pencemaran air laundry, ditunjukkan oleh kejernihan air yang lebih tinggi dan tingkat kelangsungan hidup ikan yang lebih lama. Bioindikator Ikan Mas (Carassius auratus) menunjukkan respons positif terhadap perbaikan kualitas air pada hari ke-9, terutama pada perlakuan dengan Ekor Kucing (Typha latifolia). Penelitian ini mengimplikasikan bahwa penggunaan tanaman lokal seperti Ekor Kucing (Typha latifolia) berpotensi menjadi solusi alternatif dalam pengolahan limbah rumah tangga secara alami, murah, dan berkelanjutan. Kata kunci: bioindikator, Echinodorus palaefolius, fitoremediasi, limbah laundry, Typha latifolia
MAGICCAPSULE : Potensi pektin kulit apel (Mallus sylvestris) sebagai alternatif bahan film polivinil berbentuk cangkang kapsul detergen
Penulis: Amanda Anzalna Rahma Chantika, Zuhratul Amaliyyah Wietya Ulva
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi pemanfaatan limbah organik, khususnya kulit apel, sebagai bahan dasar dalam pembuatan kapsul detergen yang ramah lingkungan. Kulit apel yang selama ini dianggap sebagai limbah, dapat diolah melalui proses ektrasi untuk memperoleh pektin, yaitu senyawa polisakarida alami yang memiliki sifat pembentuk gel dan mampu larut dalam air. Pektin hasil ekstraksi ini kemudian digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan kapsul yang berfungsi sebagai pembungkus detergen bubuk. Pektin hasil ekstraksi ini kemudian digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan kapsul yang berfungsi sebagai pembungkus detergen bubuk. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kapsul detergen berbasis pektin kulit apel memiliki karakteristik fisik yang cukup baik, termasuk elastisitas yang memadai, kestabilan bentuk selama penyimpanan, serta kelarutan yang cepat dalam air pada suhu ruang. Selain itu, kapsul ini juga menunjukkan sifat biodegradable, artinya dapat terurai secara alami oleh mikroorganisme dalam lingkungan tanpa menimbulkan pencemaran. Dengan pendekatan ini, penelitian tidak hanya menawarkan alternatif pengganti kemasan detergen konvensional berbahan plastik, tetapi juga mengusulkan model pemanfaatan limbah organik menjadi produk fungsional yang bernilai guna tinggi. Kedepanya, hasil penelitian ini diharapkan dapat mendorong pengembangan produk-produk kemasan serupa yang lebih berkelanjutan dan mendukung gaya kehidupan ramah lingkungan Kata kunci: pektin, kulit apel, kapsul detergen, biodegradable, sampah plastik
INOVASI TEH HERBAL BERBAHAN DASAR DAUN PEPAYA (Carica papaya) RAMAH PENCERNAAN
Penulis: Husseini Bahtiar Rumi, Raihan Putra Safrizal
Penelitian ini menginvestigasi pengembangan dan inovasi teh herbal dari daun pepaya (Carica papaya) yang ramah pencernaan. Daun pepaya diketahui mengandung senyawa yang bermanfaat bagi pencernaan, seperti serat dan papain, serta senyawa lain seperti karotenoid, flavonoid, dan asam amino. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen kualitatif, yang melibatkan pembuatan teh herbal dengan variasi perbandingan daun teh dan daun pepaya. Evaluasi produk dilakukan melalui uji organoleptik untuk menilai karakteristik sensorik (aroma, warna, rasa, dan tekstur) dan uji DPPH untuk menilai kadar antioksidan. Hasil penelitian menunjukan bahwa teh dengan perbandingan daun teh dan daun pepaya 1:1 memiliki rasa pahit sedikit hambar dengan warna paling jernih, rasa teh yang kuat dan tekstur yang cair. Untuk uji antioksidan menggunakan metode DPPH, dari penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan perbandingan bahan mempengaruhi karakteristik sensorik dan aktivitas antioksidan teh herbal.Perbandingan daun teh dan daun pepaya 1:1 menghasilkan teh herbal dengan kandungan antioksidan tertinggi dengan pH 6. Temuan ini menunjukkan potensi daun pepaya dalam formulasi teh herbal untuk masalah pencernaan dan mendukung pengembangan produk teh herbal sebagai alternatif pengobatan. Kata Kunci: Teh Herbal, Daun Pepaya, Uji Organoleptik, Uji Antioksidan
Pengembangan Produk Brownies Kering dengan Buah Pepaya ( carica papaya) sebagai Pangan Fungsional
Penulis: Naqwa Mumtazah, Nayla Zahwa Aura F
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk brownies kering dengan substitusi buah pepaya (Carica papaya L.) sebagai pengganti gula dan sebagai pangan fungsional. Buah pepaya dipilih karena kandungan gula alaminya yang tinggi serta senyawa bioaktif seperti vitamin C, beta-karoten, dan serat pangan yang bermanfaat bagi kesehatan. Inovasi ini diharapkan dapat menghasilkan produk camilan yang lebih sehat, rendah gula tambahan, dan memiliki nilai tambah sebagai pangan fungsional. Metode penelitian meliputi formulasi resep, proses pengeringan, serta uji organoleptik untuk menilai kualitas rasa, aroma, tekstur, dan warna. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penggunaan pepaya sebagai pengganti sebagian gula mampu menghasilkan brownies kering dengan cita rasa yang diterima konsumen, serta berpotensi memberikan manfaat kesehatan, seperti meningkatkan daya tahan tubuh dan mendukung kesehatan pencernaan. Produk ini diharapkan dapat menjadi alternative inovatif dalam industri makanan sehat berbasis buah lokal. Kata kunci: brownies kering, papaya, pengganti gula, pangan fungsional
Pemanfaatan Daun Ketepeng (Cassia alata) sebagai Bioinsektisida untuk Hama Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens) pada Tanaman Padi (Oryza Sativa)
Penulis: Muhammad Beriel Ghaisan Azzaka, Muhammad Raffi Al-Ghifari
Wereng batang coklat (WBC) merupakan salah satu hama utama pada tanaman padi yang dapat menurunkan hasil panen secara signifikan. Penggunaan insektisida kimia dalam pengendalian WBC menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas ekstrak daun ketepeng (Cassia alata) sebagai bioinsektisida terhadap WBC. Ekstrak daun ketepeng diperoleh melalui metode maserasi dengan pelarut etanol dan diaplikasikan pada hama WBC dalam beberapa konsentrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun ketepeng memiliki daya insektisida yang signifikan, ditandai dengan meningkatnya persentase kematian WBC seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak. Penggunaan bioinsektisida dari daun ketepeng menunjukkan potensi besar sebagai alternatif ramah lingkungan untuk pengendalian hama WBC di lahan pertanian. Penelitian ini mendukung pengembangan pestisida nabati sebagai solusi berkelanjutan dalam pertanian. Kata kunci: daun ketepeng, bioinsektisida, wereng batang coklat, Cassia alata, pertanian berkelanjutan
Pemanfaatan Daun Nanas (Ananas comusus) dan Pelepah Pisang (Musa acuminata) dengan Perekat Tapioka sebagai Bahan Dasar Plywood dalam Mendukung Transformasi Green Economy
Penulis: Alzenia Fatma Pristya Hapsari, Hasna Hilmiya Wafa
Salah satu permasalahan baru yang sering muncul akibat dampak kepadatan penduduk adalah meningkatnya penggundulan hutan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan lahan agar dapat bertahan hidup. Disisi lain, tingginya permintaan kayu bersamaan dengan penurunan pasokan bahan baku, akan menimbulkan masalah dan tantangan baru yang harus dihadapi oleh industri mebel. Untuk mengurangi penggunaan kayu dalam industri mebel, penggunaan plywood telah menjadi alternatif yang sedang dikembangkan. Plywood adalah produk yang terbuat dari partikel kayu atau bahan serat lain yang direkatkan bersama untuk mencapai karakteristik kayu. Selain harganya yang terjangkau, plywood dapat diproduksi menggunakan limbah bahan baku seperti kulit jagung dan pelepah pisang yang saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Hal ini menarik minat peneliti untuk memanfaatkan limbah serat alam sebagai bahan baku Plywood dengan menggunakan limbah serat daun nanas (Ananas comosus) dan pelepah pisang (Musa acuminata) yang kaya akan serat dan selulosa, dan diharapkan dapat menjadi alternatif pengganti kayu untuk mendukung green economy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi terbaik biokomposit plywood berbahan dasar pelepah pisang (Musa acuminata) dan daun nanas (Ananas comosus) dengan perekat tapioka. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif . Penelitian ini diawali dengan preparasi bahan, perhitungan bahan baku, pembuatan plywood dan dilanjutkan dengan pengujian uji sifat fisis. Dari seluruh pengujian yang dilakukan, hasil terbaik diperoleh pada variasi III dengan komposisi perbandingan 20:60 dan telah memenuhi standar JIS A5908-2003 dan SNI 03-2105-2006 untuk kerapatan, daya serap air, dan pengembangan tebal.