1196 Hasil Pencarian

CAC SPRAY: Pemanfaatan Minyak Cengkeh (Syzygium aromaticum L.) dan Cuka Apel Sebagai Herbisida Alami Terhadap Pertumbuhan Gulma Rumput Teki (Cyperus Rotundus L.)

Penulis: Anisa Mu'taz, Firdania Khujjatul Khaya

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas ekstrak minyak cengkeh (Syzygium aromaticum L.) dan cuka apel (Malus sylvestris) sebagai bioherbisida dalam menghambat pertumbuhan gulma rumput teki (Cyperus rotundus L.). Gulma ini dikenal sebagai salah satu pengganggu utama dalam pertanian yang dapat menurunkan hasil dan kualitas produksi. Penelitian dilakukan di Pondok Pesantren Darul Barokah Al-Quds pada bulan Januari hingga April 2025, dengan menggunakan dua formulasi herbisida alami, yaitu perbandingan 1:1 dan 1:3 antara minyak cengkeh dan cuka apel. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa formulasi 1:1 memiliki efektivitas yang lebih tinggi, mencapai 85% dalam mengendalikan pertumbuhan rumput teki, dibandingkan dengan formulasi 1:3 yang hanya mencapai 70%. Mekanisme kerja dari kedua bahan ini melibatkan kerusakan membran sel tanaman gulma oleh senyawa aktif dalam minyak cengkeh dan pengeringan jaringan daun oleh asam asetat dalam cuka apel. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan herbisida alami ini merupakan alternatif yang ramah lingkungan dibandingkan dengan herbisida kimia, yang dapat meninggalkan residu berbahaya. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan rekomendasi bagi petani untuk mengadopsi metode pengendalian gulma yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Kata kunci: bioherbisida, cuka apel, minyak cengkeh, pengendalian gulma, rumput teki.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pembuatan Sabun Cuci Tangan dengan Memanfaatkan Limbah Kulit Buah Pepaya (Carica Papaya) Sebagai Antibakteri.

Penulis: Najwa Nur Hannani Firdausi, Faisa Azaria

Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah kulit buah pepaya (Carica papaya) sebagai bahan antibakteri dalam pembuatan sabun cuci tangan. Kulit pepaya diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, saponin, dan fenol yang memiliki potensi antibakteri. Penelitian dilakukan secara eksperimen kuantitatif dengan dua formula sabun yang mengandung 30% dan 50% ekstrak kulit pepaya. Uji yang dilakukan meliputi uji organoleptik, pH, dan antibakteri. Hasil menunjukkan bahwa sabun dengan konsentrasi ekstrak lebih tinggi memiliki efektivitas antibakteri lebih besar, yaitu mampu menurunkan jumlah bakteri hingga 80%, dibanding formula ekstrak rendah yang hanya mencapai 55%. Kedua formula memiliki pH netral dan aman digunakan, serta menunjukkan karakteristik yang berbeda dalam warna dan kekentalan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa limbah kulit pepaya efektif digunakan sebagai bahan antibakteri dalam sabun cuci tanagn dan memberikan alternatif inovatif yang ramah lingkungan dalam pengolahan limbah organik. Kata Kunci: kulit pepaya, sabun cuci tangan, antibakteri, limbah organik, Carica papaya

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Inovasi Bio-Komposit Insulasi Dari Limbah Serbuk Kayu Mahoni (Swietenia Mahagoni) Dan Kulit Jagung (Zea Mays) Menggunakan Perekat Miselium Rhizopus Oligosporus Untuk Menjaga Kesegaran Pada Ikan Tongkol (Euthynnus Affinis) Dan Ikan Salem (Scomber Japonicus)

Penulis: Faiq Chandra Adimas Putra

Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan banyak kepulauan. Dengan kondisi geografis tersebut banyak masyarakat Indonesia berprofesi sebagai nelayan ikan. Ikan tongkol menjadi salah satu hasil tangkapan nelayan yang melimpah dikerenakan kandungan gizinya yang melimpah dan minat konsumsi masyarakat yang tinggi. Dalam menentukan harga jual tangkapan ikan, kualitas ikan menjadi hal yang sangat dipertimbahkan. Sejauh ini digunakan styrofoam sebagai cool box, yang mana styrofoam adalah material yang tidak ramah lingkungan karena sulit terdegradasi oleh tanah. Dengan demikian, dibutuhkan material insulasi ramah lingkungan untuk mengurangi penggunaan styrofoam, salah satunya dengan pembuatan material komposit berbahan dasar limbah organik yang ramah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui karakterisktik dari sisntesis bio-base insulasi dari serat kulit jagung dan serbu kayu mahoni dengan perekat miselium jamur dan dampaknya dalam menjaga kesegaran ikan tongkol. Dilakukan penelitian terhadap 3 variasi komposisi bio-base insulasi. Berdasarkan hasil uji karakteristik, variasi 3 dengan perbandingan kulit jagung dan serbuk kayu mahoni (0:8) merupakan variasi dengan kerapatan terbaik sebesar 0,30 gr/cm3. Berdasarkan hasil pengukuran daya serap air menghasilkan data yang menunjukkan bahwa serbuk kayu menyerap sedikit air yaitu sebesar 0,031%, sedangakan pada data uji biodegradasi variasi 2 dengan perbandingan kulit jagung dan serbuk mahoni sebesar (2:8) menjadi komposit yang paling cepat terdegradasi oleh mikroorganisme dalam tanah. Adapun untuk uji dampak material komposit terhadap kualitas kesegaran ikan tongkol, kemampuan insulasi kotak komposit dalam mempertahankan suhu dan kesegaran pada ikan tongkol cukup baik karena terhadap kualitas dan kesegaran ikan menggunakan kotak styrofoam. pada kondisi fisik pada ikan, cenderung masih segar dengan tidak terdapat banyak perubahan dibandingkan pada ikan segar.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pemanfaatan Styrofoam dan Abu Sekam Padi Sebagai Material Pembuatan Genting

Penulis: Lubna An Najwa Muty Syahidah, Bunga Angelyca

Penelitian ini dilakukan untuk memanfaatkan limbah styrofoam dan abu sekam padi sebagai bahan alternatif dalam pembuatan genting beton ramah lingkungan. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik massa jenis, daya serap air, dan ketahanan terhadap benturan pada genting beton yang menggunakan campuran abu sekam padi dan limbah styrofoam. Penelitian dilakukan secara eksperimental kuantitatif di Laboratorium Olimpiade dan Sains Terpadu MAN 2 Kudus pada Februari hingga April 2025. Tiga variasi sampel dibuat: (1) genting dengan abu sekam padi, (2) genting dengan campuran abu sekam dan styrofoam, dan (3) genting dengan styrofoam tanpa abu sekam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel dengan abu sekam padi memiliki massa jenis tertinggi (1,58 g/cm³), sedangkan sampel dengan styrofoam memiliki massa jenis terendah (1,03 g/cm³). Uji daya serap air menunjukkan bahwa sampel II memiliki daya serap tertinggi (25%), sedangkan sampel III terendah (9,5%). Dalam uji jatuh, seluruh sampel tahan terhadap benturan dari ketinggian 25 cm dan 50 cm, namun hanya sampel I yang pecah pada ketinggian 1 meter. Kesimpulannya, campuran abu sekam padi dan styrofoam dapat menghasilkan genting beton yang ringan, memiliki ketahanan benturan yang baik, dan daya serap air yang bervariasi sesuai komposisinya.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

STUDI PENGARUH EKSTRAK KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii Nees & T. Nees Blume) SEBAGAI MIDDLE NOTE TERHADAP KUALITAS AROMA DAN DAYA TAHAN EAU DE PARFUME

Penulis: Muhammad Al Ghifari, Ammaar Fauzi Ramadhani

Kebutuhan informasi mengenai penggunaan kayu manis dalam dunia parfum menjadi topik yang menarik dalam industri parfum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kayu manis yang diekstrak dengan maserasi etanol selama 3x24 jam terhadap kualitas dan daya tahan aroma parfum serta untuk mendapatkan formulasi terbaik. Terdapat 3 formulasi yang digunakan dengan ekstrak kayu manis sebanyak 1,0 mL, 1,5 mL, dan 2,0 mL. Uji yang digunakan adalah uji daya tahan dan uji hedonik terhadap 15 reponden. Hasil yang didapatkan adalah ketiga formulasi memiliki daya tahan aroma parfum selama lebih dari 24 jam. Hasil uji hedonik terhadap 15 reponden menunjukkan bahwa formulasi 2 (1,5 mL) memiliki respons yang paling positif dari responden sehingga membuat F2 menjadi formulasi terbaik diantara ketiga formulasi.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Papale Dish Soap : Inovasi Sabun Cuci Piring Ramah Lingkungan dengan Berbahan Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya L.)

Penulis: Putri Hardyana, Amanda Rajwa Fatieha

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sabun cuci piring ramah lingkungan yang berbahan dasar ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.), yang dikenal memiliki sifat antibakteri dan potensi sebagai agen pembersih alami. Latar belakang penelitian ini berfokus pada dampak negatif penggunaan sabun cuci piring berbahan kimia, yang dapat menyebabkan iritasi kulit dan pencemaran lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan variasi formulasi sabun yang mengandung 2,2%, 6,7%, dan 11,1% ekstrak daun pepaya. Evaluasi dilakukan melalui uji organoleptis, pengukuran pH, stabilitas busa, dan efektivitas dalam membersihkan lemak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya dapat diformulasikan menjadi sabun cuci piring dengan pH yang memenuhi standar nasional, stabilitas busa yang baik, dan efektivitas pembersihan yang memadai, meskipun tidak seefektif sabun komersial. Sabun ini juga menunjukkan tingkat iritasi yang lebih rendah pada kulit dibandingkan dengan sabun komersial, menjadikannya pilihan yang lebih aman untuk pengguna. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sabun cuci piring berbahan ekstrak daun pepaya merupakan alternatif yang aman dan ramah lingkungan, serta dapat dimanfaatkan untuk mengurangi limbah daun pepaya yang selama ini terabaikan. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi bagi pengembangan produk sabun cuci piring berbahan alami lainnya dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penggunaan produk yang lebih berkelanjutan. Selain itu, hasil penelitian ini juga memberikan wawasan baru mengenai pemanfaatan limbah organik dari tanaman pepaya, yang dapat berkontribusi pada pengurangan pencemaran lingkungan dan peningkatan kesehatan masyarakat secara keseluruhan, serta mendorong inovasi dalam industri pembersih berbasis bahan alami yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Konsentrasi Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) dalam Pembuatan Sabun Cuci Piring Terhadap Responden di Pondok Darul Barokah Alquds Kudus

Penulis: Firyal Naylatul Nabilah, Alya Rahmawati

Sabun merupakan bahan yang berasal dari minyak alami atau lemak yang bereaksi dengan soda kaustik dalam prosesnya dikenal dengan proses penyabuan atau saponifikasi (Kusumayanti,dkk 2018). Sabun mempunyai fungsi utama yaitu sebagai zat pencuci karena mengandung surfaktan. Kandungan surfaktan yang menjadi bahan pembersih merupakan molekul yang terdiri dari gugus polar yang suka air (hidrofolik) dan gugus non polar yang suka lemak/minyak (lipofilik) sehingga dapat menyatukan campuran yang mengandung air dan minyak untuk dapat dihilangkan dengan air (Sumanto,2016). Jeruk nipis merupakan buahbuahan yang banyak digemari oleh masyarakat di Indonesia. Jeruk nipis mengandung unsur-unsur senyawa kimia yang bermanfaat, seperti asam sitrat, asam amino, minyak atsiri, damar, glikosida, asam sitrun, lemak, kalsium, fosfor, besi, belerang, vitamin B1 dan C (Sherli,2015). Minyak atsiri yang terkandung dalam jeruk nipis mempunyai funngsi sebagai antibakteri, salah satu kandungan minyak atsiri yang mempunyai peran palig penting dalam menghambat pertumbuhan bakteri ialah flavonoid (Sudirman, A. T, 2014). Jeruk Nipis dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan sabun cair cuci piring. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi jeruk nipis sebagai tambahan aroma yang disukai oleh konsumen santri di Pondok Darul Barokah Alquds di Prambatan Kudus.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pemanfaatan Carbon Dots pada Instalasi Pengolah Limbah untuk Limbah Cair Rokok Berbasis Internet Of Things

Penulis: Khalila Wirasyifa Rihananda, Alifa Farras Zulfa

Kudus merupakan kabupaten yang mempunyai industri rokok terbanyak di Jawa Tengah, dari industri kecil hingga industri besar sehingga menyebabkan munculnya limbah cair yang dihasilkan dari proses pelunakan cengkeh, pelunakan tembakau, dan sisa produksi dari proses Assembling flavour. Dalam penelitian ini telah dilakukan sintesis material carbon dots (C-Dots) dengan bahan kulit pisang kepok sebagai filter limbah cair rokok. Sintesis C Dots dilakukan dengan metode hidrotermal dan microwave. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik C-Dots yang disintesis dari kulit pisang sebagai media penyaring limbah cair rokok, mengetahui efektivitas C-Dots sebagai media penyaring limbah cair rokok, dan mengetahui penerapan perangkat Internet of Things dalam memonitoring kualitas pH, TDS, dan TSS limbah cair rokok pada sistem IPAL. Dari hasil karakterisasi menggunakan lampu UV 356 nm, spektrofotometer UVVis, PL, dan TEM diketahui bahwa C-Dots 3 telah berhasil disintesis dengan metode microwave selama 40 menit. C-Dots yang berhasil disintesis memunculkan pendaran warna biru, muncul puncak emisi pada panjang gelombang 432 nm dan rata-rata ukuran partikel sebesar 5-7 nm. Dari hasil uji coba filter sederhana menggunakan C-Dots, diketahui bahwa C-Dots 3 mampu mengurangi nilai TDS lebih baik dibanding C-Dots 2. Hasil karakterisasi C-Dots setelah kontak dengan limbah juga tidak terdapat banyak perbedaan. Penerapan perangkat IoT pada IPAL dapat membantu proses pengontrolan air limbah pada industri rokok. Persen toleransi sensor IoT pada pengukuran TDS adalah sebesar 10,40% sementara pada pengukuran pH adalah sebesar 2,74%.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Induksi Mutasi pada Kangkung Darat (Ipomoea reptans) Sebagai Strategi Ketahanan Pangan dalam Mendukung SDGs 2030

Penulis: Ghafara Reines Upasama, Zahra Ahya Suhaila

Abstrak Keterbatasan sumber daya alam dan perubahan iklim menuntut inovasi pertanian untuk mencapai ketahanan pangan berkelanjutan sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 yaitu tentang penghapusan kelaparan dan peningkatan nutrisi. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas induksi mutasi menggunakan Ethyl Methanesulfonate (EMS) untuk meningkatkan produktivitas kangkung darat (Ipomoea reptans), sayuran penting di Indonesia yang produktivitasnya belum optimal. Penelitian ini menggunakan perendaman benih dalam berbagai konsentrasi EMS yaitu 0, 1, 2, dan 3 tetes selama 24 jam. Parameter pertumbuhan seperti tinggi tanaman, jumlah daun, dan panjang akar diamati selama dua minggu. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan EMS, terutama pada konsentrasi 2 tetes, secara signifikan meningkatkan panjang tanaman, memperbanyak jumlah daun, serta mempercepat pertumbuhan tanaman kangkung. Induksi mutasi menggunakan EMS terbukti efektif dalam meningkatkan produktivitas kangkung darat. Potensi dari penelitian ini membuka jalan bagi pengembangan varietas kangkung unggul yang lebih produktif dan adaptif, mendukung upaya ketahanan pangan nasional dan kontribusi terhadap pencapaian target SDGs 2030. Kata Kunci : EMS, Induksi Mutasi, Kangkung Darat, Mutasi, SDGs

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

[MUARABAI] Inovasi Bio-Mulsa dari Kulit Kacang Tanah (Arachis hypogaea) – PLA pada Budidaya Tanaman Cabai (Capsicum frutescens)

Penulis: Rizki Bunga Fitriyani, Salsa Khirina

Pertanian merupakan sektor penting dalam perekonomian Indonesia, dengan cabai sebagai salah satu komoditas utama. Tingginya permintaan cabai seringkali tidak diimbangi dengan ketersediaan pasokan, yang disebabkan oleh gagal panen akibat berbagai faktor seperti hama, penyakit, dan kondisi iklim. Penggunaan mulsa plastik telah menjadi solusi umum untuk mengatasi masalah ini, namun menimbulkan masalah baru yaitu pencemaran lingkungan karena sulit terurai. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan biomulsa dari limbah kulit kacang tanah sebagai alternatif pengganti mulsa plastik. Kulit kacang tanah dipilih karena kandungan selulosanya yang tinggi, sehingga berpotensi untuk diolah menjadi biomulsa yang ramah lingkungan. Diharapkan, penggunaan biomulsa ini dapat membantu petani cabai meminimalisir gagal panen sekaligus mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail