1196 Hasil Pencarian

STUDI KOMPARASI BEESWAX DAN PARAFFIN WAX DALAM PEMBUATAN LILIN AROMATERAPI BERBAHAN DASAR EKSTRAK LEMON (Citrus limon)

Penulis: M. Minhal Mubarok, Rizqi Maulana Arba'

Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas lilin aromaterapi yang berbahan dasar beeswax dan parafin wax dengan penambahan ekstrak lemon sebagai bahan aktif aromaterapi. Lilin aromaterapi telah dikenal mampu memberikan efek relaksasi, mengurangi stres, serta menyegarkan udara, tergantung pada bahan dasar dan jenis aroma yang digunakan. Dalam penelitian ini, dilakukan formulasi lilin aromaterapi menggunakan dua jenis lilin dasar, yaitu beeswax dan parafin wax, yang masing-masing diberi tambahan ekstrak lemon. Uji efektivitas dilakukan melalui metode pengujian hedonik dan organoleptik terhadap pengguna, untuk mengukur tingkat kesukaan pengguna oleh suatu produk, tingkat kenyamanan, serta uji organoleptik terhadap aroma yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lilin berbasis beeswax dengan ekstrak lemon lebih unggul dalam evaluasi sensorik dan memberikan efek relaksasi serta kesegaran dibandingkan parafin wax. Dengan demikian, beeswax dengan ekstrak lemon dinilai lebih efektif sebagai bahan baku lilin aromaterapi alami yang ramah lingkungan dan bermanfaat bagi kesehatan. Kata Kunci: Uji efektivitas, Beeswax, Parafin wax, Lilin Aromaterapi, Ekstrak Lemon

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pembuatan Cairan Anti Rayap Kayu Kering (Coptotermes sp.) Ramah Lingkungan dengan Memanfaatkan Akar Tuba (Derris elliptica) dan Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus)

Penulis: Amalia Al Kamaliyatuzzakiyyah, Nadza Zannuba Haidaroh

Rayap merupakan serangga pemakan kayu yang hidup ditempat lembab. Rayap sangat cepat berkembang biak hingga membentuk koloni, sehingga dengan mudah merusak perabotan rumah yang terbuat dari kayu. Oleh karenanya, diperlukan pengendalian rayap menggunakan pencampuran ekstrak akar tuba dan ekstrak daun kumis kucing. Metode yang dilakukan menggunakan ekstraksi boiling, dengan cara mengeringkan akar daun tuba dan daun kumis kucing Selanjutnya dihaluskan sampai menjadi bubuk dan direbus selama 30 menit menggunakan pelarut air. Pengujian cairan tergantung dari mortalitas rayap dan berat kayu sebagai sarang rayap. Penambahan ekstrak akar tuba dan ekstrak kumis kucing memiliki perbandingan pada setiap perlakuan. Perbandingan perlakuan ekstrak akar tuba : ekstrak daun kumis kucing, pada perlakuan 1 adalah 50% : 50%, pada perlakuan 2 adalah 25% : 75%, pada perlakuan 3 adalah 75% : 25%. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak akar tuba dan ekstrak daun kumis kucing dapat digunakan sebagi cairan anti rayap. Ekstrak akar tuba dan daun kumis kucing efektif meningkatkan mortalitas rayap pada T1 dan T3 dengan persentase >20 %. Cairan efektif digunakan pada konsentrasi akar tuba:daun kumis kucing = 50%: 50% dan 75%:25%. Aktivitas makan rayap menunjukkan penurunan pada perlakuan T1 dan T3.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

PEMBUATAN HAND MADE SOAP ALAMI DARI KULIT KOPI (Coffea sp) DAN GEL LIDAH BUAYA (Aloe vera): ANALISIS KUALITAS

Penulis: AHMAD SYAIFUDIN BAHRI, MUHAMMAD ALTHAF

Kulit merupakan bagian penting dalam tubuh, untuk merawatnya dapat menggunakan sabun pembersih. Sabun pembersih dapat berupa sabun padat yang terdiri dari kulit kopi dan gel lidah buaya. Kulit kopi (Coffea sp) sebagai limbah yang melimpah dan belum banyak dimanfaatkan sedangkan gel lidah buaya (Aloe vera) meruapan bahan umum dalam perwatan tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik sabun berbahan dasar kulit kopi dan gel lidah buaya. Metode penelitian yang digunakan ialah metode kualitatif yang dimulai dari preparasi bahan, pembuatan sabun, pengujian organoleptik, dan pembahasan hasil. Responden yang diikutkan dalam penelitian ini berjumlah enam orang yang menggunakan semua formula sabun padat kulit kopi dan gel lidah buaya selama 1 minggu. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium OST (Olimpiade Saint Terpadu) MAN 2 Kudus pada tanggal 6 April 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sabun padat memberi aroma kopi dan berwarna coklat dengan intensitas yang berbeda-beda. Sedangkan tekstur dan jumlah busa ditentukan oleh banyaknya kandungan gel lidah buaya. Para responden lebih menganjurkan sabun padat formula C yang terdiri dari 30 gram gel lidah buaya dan 20 gram kulit kopi. keyword : Coffea skin, Aloe vera gel, Sabun Padat, Organolepti

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

PAVING BLOCK ECO-FRIENDLY DARI LIMBAH AMPAS TEBU (Saccharum officinarum L.) DAN CANGKANG KERANG DARAH (Anadara granosa)

Penulis: Rusyda Putri Yuniar, Laila Al Lathifah Hasna

Peningkatan volume limbah organik dan anorganik, seperti cangkang kerang darah dan ampas tebu, menimbulkan permasalahan lingkungan yang serius jika tidak dimanfaatkan dengan tepat. Permasalahan limbah tersebut dapat diatasi dengan menjadikannya bahan alternatif dalam pembuatan paving block ramah lingkungan. Paving block pada penelitian ini berbahan dasar limbah cangkang kerang darah dan serat ampas tebu. Variasi yang digunakan pada penelitian ini adalah 70:15:15, 70:20:10, 70:10:20, 70:0:30, 70:30:0, dengan komposisi campuran semen dan pasir yang terbanyak. Hasil pengujian menunjukkan bahwa komposisi dengan kandungan cangkang kerang darah lebih tinggi memberikan ketahanan benturan yang lebih baik, dengan variasi V2 (70:10:20) sebagai formula paling optimal. Variasi V3 (70:0:30) memiliki densitas tertinggi (0,860 kg/L), sedangkan V4 (70:30:0) menunjukkan daya serap tertinggi (19,68%). Temuan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah lokal secara proporsional dapat meningkatkan performa paving block sekaligus mendukung pengurangan dampak lingkungan secara efektif. Kata kunci: Paving Block, Eco-friendly, Cangkang kerang darah, Serat ampas tebu

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

PEMANFAATAN LIMBAH MASKER DISPOSABLE DAN LIMBAH SABUT KELAPA SEBAGAI KOMPOSIT PAVING BLOCK

Penulis: Avida Naura Firdaus Ya Aqsa, Kirey Rosiana

Peningkatan volume limbah masker disposable selama pandemi serta limbah serabut kelapa, mendorong adanya inovasi pemanfaatan limbah sebagai bahan konstruksi alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah masker disposable dan serabut kelapa sebagai bahan komposit dalam pembuatan paving block. Penelitian dilakukan dengan tiga variasi komposisi bahan dan diuji terhadap dua parameter, yaitu kekuatan impact dan densitas. Hasil menunjukkan bahwa penambahan limbah masker dan sabut kelapa dapat meningkatkan kualitas paving block, dengan nilai kekuatan impact tertinggi sebesar 93 joule dan densitas maksimum sebesar 1746 kg/m³. Temuan ini menunjukkan bahwa limbah tersebut dapat dimanfaatkan secara efektif sebagai bahan dalam pembuatan paving block ramah lingkungan dan berdaya guna tinggi

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pemanfaatan Eco–ezyme Berbahan Dasar Limbah Rumah Tangga sebagai Penjernih Air Limbah Pabrik Tahu

Penulis: Anindya Sasckia Vrymartha, Jihan Xena Aristy Ananta

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemanfaatan eco-enzyme berbahan dasar limbah rumah tangga sebagai penjernih air limbah pabrik tahu. Limbah tahu merupakan sisa pengolahan kedelai yang terbuang karena tidak terbentuk menjadi tahu. Limbah pabrik tahu terdiri dari limbah cair dan padat, menjadi salah satu masalah lingkungan yang serius karena dapat mencemari air dan tanah jika tidak dikelola dengan baik. Sementara itu, eco-enzyme merupakan hasil fermentasi bahan organik seperti limbah rumah tangga (kulit buah, sayuran, dan sisa makanan) yang kaya akan enzim, yang dapat membantu mengurai bahan organik dan mengurangi polusi. Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental untuk menguji efektivitas eco-enzyme dalam menjernihkan air limbah pabrik tahu. Perlakuan yang digunakan terdiri dari F1 (gula pasir), F2 (gula jawa), F3 (gula aren) dengan waktu pengamatan selama 10 hari untuk mengamati kekeruhan, bau, dan endapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eco-enzyme dapat mengurangi kandungan bahan organik dalam limbah cair pabrik tahu, yang tercermin pada perlakuan F2 lebih baik dalam mengurangi pencemaran limbah air tahu dengan nilai pH 8 dan kejernihan paling tinggi. Selain itu, penggunaan eco-enzyme juga mampu menurunkan bau tidak sedap yang dihasilkan dari limbah cair. Hasil ini menunjukkan bahwa eco-enzyme berbahan dasar limbah rumah tangga memiliki potensi sebagai alternatif ramah lingkungan dalam pengelolaan limbah cair pabrik tahu. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan teknologi pengolahan limbah yang lebih berkelanjutan dan efisien.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Inovasi Beras Analaog Berbahan Dasar Umbi Talas Beneng (Xanthosoma undipes) dan Umbi Rumput Teki (Cyperus rotundus L.) Sebagai Solusi Beras Rendah Glikemik Dalam Rangka Mendukung Program Pemerintah SDGs 2030

Penulis: Erika Najwa Nabillah Septiani, Edria Filda Tsana

Indonesia menghadapi tantangan ketahanan pangan, terutama dalam produksi beras, yang menjadi fokus program SDGs 2030, khususnya tujuan "Tanpa Kelaparan." Konsumsi nasi putih yang tinggi berisiko menyebabkan diabetes melitus (DM), dengan 10,3 juta penderita tercatat pada 2017. Untuk mengatasi masalah ini, dikembangkan beras analog dari bahan non-beras seperti sorgum, kedelai, dan umbi-umbian. Talas beneng dan umbi rumput teki dipilih karena kaya nutrisi dan memiliki indeks glikemik rendah. Penelitian ini bertujuan memproduksi beras analog dari kedua umbi tersebut guna mendukung ketahanan pangan dan mencegah DM di Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa formulasi beras analog rendah glikemik yang paling bagus adalah formulasi bahan antara umbi talas beneng dan umbi rumput teki yang memiliki rasio 3:1 dan 7:1. Hal ini ditunjukkan dengan karakterisasi beras analog dari dua formulasi tersebut, yang meliputi uji organoleptik, uji pH, uji kandungan karbohidrat dan lemak, serta uji ketahanan beras analog.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Pemanfaatan Metil Eugenol pada Biji Selasih serta Ekstrak Kulit Nanas sebagai Insektisida Alami pada Lalat Buah (Ociumun Basilicum)

Penulis: Arsya Yuchyiihalyta, Dwi Rismawati

Lalat buah (Bactrocera spp) merupakan hama utama pada tanaman hortikultura, termasuk jambu air (Syzygium aqueum), yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen secara signifikan. Kerusakan yang ditimbulkan oleh hama ini menjadi tantangan besar bagi petani, terutama dengan masih dominannya penggunaan pestisida kimia yang dapat merusak lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia. Sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan, atraktan nabati telah menjadi perhatian dalam upaya pengendalian hama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas atraktan nabati, seperti ekstrak biji selasih dan kulit nanas, dan metil eugenol dalam perangkap lalat buah serta. Tahapan penelitian dimulai dengan menyiapkan bahan utama berupa kulit nanas dan biji selasih yang dibersihkan terlebih dahulu. Ekstrak kulit nanas diperoleh dengan memotong-motong kulit nanas, lalu memprosesnya hingga menghasilkan essence melalui penyaringan. Sementara itu, metil eugenol dibuat dengan cara menggiling biji selasih hingga halus, kemudian dimetilasi untuk menghasilkan senyawa aktif. Campuran atraktan ini dimasukkan ke dalam perangkap botol plastik bekas, yang kemudian dipasang pada tanaman jambu air dengan jarak tertentu. Formulasi atraktan yang digunakan terdiri atas tiga jenis, yaitu F1: Campuran 7 ml metil eugenol dan 3 ml ekstrak kulit nanas, F2: Campuran 5 ml metil eugenol dan 5 ml ekstrak kulit nanas, F3: Campuran 3 ml metil eugenol dan 7 ml ekstrak kulit nanas, dengan hasil F1: 56 ekor (tangkapan tertinggi), F2: 42 ekor, F3: 35 ekor. Penelitian ini dilakukan selama dua hari dengan pengamatan harian pada beberapa lokasi yang dipilih secara acak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu optimal untuk menangkap lalat buah adalah pagi hari selama 20 menit, dengan jumlah tangkapan tertinggi mencapai 56 ekor. Formula atraktan paling efektif adalah F1, campuran 7 ml metil eugenol dan 3 ml ekstrak.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Aplikasi Eco Enzyme dari Kulit Pisang sebagai Bahan Pembuatan Sabun Antiseptik

Penulis: Ro'is Irfan Mushoffa, Ariza Aulya Al Dany

Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah kulit pisang sebagai bahan dasar pembuatan sabun antiseptik berbasis eco-enzyme. Eco-enzyme merupakan larutan hasil fermentasi limbah organik (kulit pisang), gula, dan air yang memiliki sifat antibakteri alami. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan pendekatan kuantitatif, dimulai dari pembuatan eco?enzyme, formulasi sabun dengan konsentrasi 10%, 20%, dan 30%, hingga uji kualitas produk. Hasil fermentasi menunjukkan bahwa larutan eco-enzyme berwarna coklat pekat dan beraroma khas. Sabun antiseptik yang dihasilkan memiliki karakteristik fisik yang baik: bentuk padat, tekstur halus, aroma lemon, dan warna yang bervariasi tergantung konsentrasi. Uji organoleptik menunjukkan bahwa sabun dapat diterima secara visual dan sensorik oleh pengguna. Uji pemakaian terhadap beberapa responden menunjukkan bahwa sabun tidak menimbulkan iritasi atau efek samping, sehingga aman digunakan. Kesimpulannya, limbah kulit pisang berpotensi sebagai bahan baku pembuatan sabun antiseptik ramah lingkungan yang efektif dan aman digunakan sehari-hari. Kata kunci: eco-enzyme, kulit pisang, sabun antiseptik, limbah organik, fermentasi

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail

Formulasi Sediaan Lip Scrub dengan Buah Plum (Prunus domestica)

Penulis: Kania Anindya Putri, Andien Kayla Putri Meiza

Bibir merupakan salah satu bagian kulit yang membutuhkan perlindungan agar kelembaban bibir tetap terjaga. Hal ini disebabkan karena bibir tidak memiliki folikel rambut dan kelenjar keringat serta lapisan korneum yang sangat tipis dibanding kulit biasa, yakni 3-4 lapisan. Bibir sensitif terhadap cuaca panas dan dingin yang dapat menyebabkan bibir kering dan pecah-pecah. Maka dari itu, bibir perlu dieksfoliasi agar sel kulit mati terangkat. Lip scrub merupakan sediaan setengah padat yang mengandung bahan agak kasar untuk mengangkat sel kulit mati pada bibir. Antioksidan merupakan sediaan yang dapat melindungi bibir dari radikal bebas serta anti UV agar melindungi bibir dari sinar matahari yang dapat menyebabkan pigmentasi pada bibir. Salah satu sumber antioksidan adalah buah plum. Untuk membuat lip scrub dibutuhkan butiran kasar untuk mengikis sel kulit mati pada bibir. Ampas kopi mengandung butiran kasar yang dikenal sebagai abrasiver (pengampelas) yang berfungsi untuk mengangkat sel-sel kulit mati dan sebagai penghalus kulit. Oleh karena itu, ampas kopi dapat digunakan untuk produk perawatan kulit yang berfungsi mengangkat sel-sel yang sudah mati dari epidermis dan menutrisi kulit. Penggunaan ampas kopi sebagai bahan scrub dapat meminimalisasi resiko efek samping alergi karena bahan scrub terbuat dari bahan alami. Sebagai bahan tambahan, minyak jarak dapat digunakan sebagai pelembab karena memiliki sifat emolien. Berfungsi untuk mempertahankan hidrasi, menghidrasi kulit, dan mencegah terjadinya penguapan air pada kulit, sehingga tidak menimbulkan permasalahan bibir seperti bibir pecah-pecah, kering, dan warna yang kusam. Berdasarkan dari uji-uji yang telah dilakukan, konsentrasi masing-masing bahan berpengaruh terhadap tekstur, aroma, dan efektivitas dari lip scrub itu sendiri terutama pada konsentrasi buah plum serta aman untuk digunakan.

MIPA dan Teknik Tahun 2022/2023
Lihat Detail