1196 Hasil Pencarian
Pemanfaatan Buah Parijoto Sebagai Pengendali Hama Jangkrik pada Tumbuhan Padi
Penulis: Bintang Rajendra Dhifa, Muhammad Najwan Nurussalam
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas ekstrak metanol dari buah parijoto (Medinilla speciosa) sebagai biopestisida alami dalam mengendalikan populasi hama yang sering menyerang tanaman pertanian. Buah parijoto dikumpulkan dari daerah Colo, Kabupaten Kudus, dan diekstraksi menggunakan metode rebusan dengan perbandingan metanol 3:2. Proses ekstraksi ini bertujuan untuk mendapatkan senyawa aktif yang berpotensi sebagai insektisida alami. Uji efektivitas dilakukan terhadap beberapa jenis hama, yaitu ulat grayak, jangkrik mol, jangkrik gangsir, dan hama tanah. Penelitian dilakukan selama lima hari dengan pengamatan berkala pada hari pertama, ketiga, dan kelima untuk mengetahui tingkat penurunan populasi hama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak parijoto secara signifikan menurunkan jumlah hama dalam rentang waktu lima hari setelah aplikasi. Penurunan tertinggi terjadi pada Jangkrik Gangsir dengan persentase 100% pada menit ke-5, diikuti oleh Jangkrik Mol yang mengalami penurunan total pada menit ke-10 dengan efektivitas 100%. Senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, dan tanin diduga berperan dalam mekanisme insektisida alami yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan hama dengan cara merusak sistem pencernaan serta mengganggu aktivitas metabolisme serangga. Selain itu, faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya juga mempengaruhi efektivitas ekstrak dalam membasmi hama. Dengan hasil yang diperoleh, ekstrak parijoto berpotensi dikembangkan sebagai biopestisida ramah lingkungan yang dapat menjadi alternatif bagi pestisida kimia sintetis yang berisiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Namun, penelitian lanjutan diperlukan untuk mengoptimalkan formulasi, meningkatkan stabilitas ekstrak, serta memastikan keamanannya terhadap organisme non-target seperti lebah dan serangga penyerbuk lainnya. Kata kunci: Biopestisida, ekstrak metanol, hama, parijoto, pestisida alami.
UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR KITOSAN DARI LIMBAH CANGKANG KEONG SAWAH TERHADAP JAMUR FUSARIUM OXYSPORUM
Penulis: Satryo Bagas Wicaksono, Hillal Alief Prasetyo
Jamur Fusarium oxysporum merupakan jamur penyebab penyakit layu Fusarium atau dikenal penyakit moler yang menyebabkan petani mengalami kerugian. Solusi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan fungisida alami yang terbuat dari kitosan. Peneliti memanfaatkan kitosan yang bersumber dari cangkang keong sawah (Pila ampullacea) untuk melakukan uji efektivitas terhadap perkembangan jamur Fusarium oxysporum. Uji efektivitas perbandingan kitosan dan air yang digunakan yaitu 0:100, 5:100, 10:100, dan 15:100. Dalam penelitian ini, dilakukan uji hambatan pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum dengan menggunakan metode difusi cakram. Hasil uji difusi cakram menunjukkan bahwa kitosan dengan konsentrasi 15:100 memiliki rata-rata zona hambat paling tinggi sebesar 13 mm. Ini membuktikan bahwa kitosan yang diekstraksi dari cangkang keong sawah memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum. Berdasarkan hasil pengamatan selama dua hari, terjadi peningkatan diameter zona hambat seiring dengan bertambahnya konsentrasi kitosan yang digunakan.
PEMANFAATAN ZNO-ZEOLIT DARI JERAMI PADI (ORYZA SATIVA) SEBAGAI KATALIS PADA MINYAK JELANTAH DALAM PRODUKSI BIODIESEL
Penulis: Altair Farras Rooshardika Widodo, Habibi Choiron Nashar
Biodiesel merupakan energi alternatif pengganti bahan bakar diesel yang memiliki banyak keunggulan. Biodiesel bersifat ramah lingkungan dan cukup menjanjikan. Salah satu kendala yang dihadapi dalam penggunaan biodiesel sekarang ini adalah harganya relatif mahal. Untuk itu, diperlukan berbagai metode untuk menekan biaya produksi biodiesel. Aspek penting dalam produksi biodiesel adalah pemilihan katalis yang efisien dan berkelanjutan. Salah satu cara memproduksi biodiesel yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan bahan baku yang berasal dari minyak jelantah dengan bantuan katalis zeolit dari jerami padi (Oryza sativa) yang terimpregnasi ZnO. Minyak jelantah dan jerami padi cenderung bernilai rendah dan sering dibuang sebagai limbah. Penggunaan ZnO-zeolit sebagai katalis dapat memudahkan pembuatan biodiesel dengan produk samping diesel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas katalis padat berbasis ZnO-zeolit dari jerami padi (Oryza sativa) dalam proses transesterifikasi minyak jelantah menjadi biodiesel. Untuk mendapatkan biodiesel dari minyak jelantah dengan menggunakan katalis ZnO-zeolit dilakukan pada suhu 60°C dengan perbandingan minyak jelantah dan methanol 4:1 (volume) dengan memvariasikan waktu reaksi (30, 60, dan 120 menit) dan konsentrasi katalis zeolite (0,5%, 1%, dan 2%). Semakin lama waktu pemanasan, yield bodiesel semakin besar. Konsentrasi optimum ZnO-zeolit yang menghasilkan yield terbesar adalah 80% pada konsentrasi 1%. Kata Kunci: jerami padi, ZnO-zeolit, biodiesel, minyak jelantah
KOMBINASI DARI LIMBAH KULIT KACANG DAN KULIT KENTANG SEBAGAI BAHAN DASAR PEMBUATAN KERTAS DENGAN KATALISATOR NATRIUM HIDROKSIDA (NaOH)
Penulis: Hanif Ahmad Dermawan, Farid Nur Ramadhan Abidin
Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah organik berupa kulit kacang tanah dan kulit kentang sebagai bahan dasar alternatif dalam pembuatan kertas ramah lingkungan dengan menggunakan katalisator Natrium Hidroksida (NaOH). Latar belakang dari penelitian ini adalah meningkatnya kebutuhan kertas global yang mengakibatkan eksploitasi hutan secara besar-besaran dan menimbulkan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan alternatif bahan baku nonkayu yang terjangkau, mudah diperoleh, dan memiliki kandungan selulosa tinggi, seperti limbah kulit kacang dan kentang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen kuantitatif yang dilakukan di Laboratorium MAN 2 Kudus, mencakup proses preparasi sampel, perebusan dengan larutan NaOH, pembentukan pulp, pencetakan, dan pengeringan menjadi lembaran kertas. Penelitian dilakukan dalam tiga perlakuan dengan variasi perbandingan bahan (P1: 1:1, P2: 2:3, P3: 3:7) dengan volume NaOH tetap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan dapat menghasilkan lembaran kertas, namun kualitasnya bervariasi. Perlakuan P1 menghasilkan kertas terbaik dengan warna cokelat muda, ketebalan sedang, kekuatan tarik tinggi, dan daya serap air rendah, sedangkan P2 dan P3 menghasilkan kertas yang lebih tebal dan gelap tetapi dengan kekuatan tarik yang menurun dan daya serap air yang meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa komposisi seimbang antara kulit kacang dan kulit kentang dengan perlakuan kimia NaOH menghasilkan struktur serat yang lebih padat, fleksibel, dan homogen. Proses delignifikasi menggunakan NaOH terbukti efektif dalam melarutkan lignin dan mempercepat pemisahan serat selulosa, sehingga meningkatkan kualitas pulp dan hasil kertas. Penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa metode chemical pulping memberikan karakteristik kertas yang lebih baik dibanding metode mekanis atau semi-kimia. Selain memiliki dampak positif terhadap pengurangan limbah organik dan pencemaran lingkungan, inovasi ini juga mendukung ekonomi sirkular karena mampu mengubah limbah menjadi produk bernilai guna yang aplikatif. Hasil ini diharapkan dapat mendorong pemanfaatan limbah rumah tangga atau industri makanan skala kecil menjadi bahan baku alternatif yang murah dan berdaya guna tinggi, serta membuka peluang bagi pengembangan usaha kecil dan menengah dalam produksi kertas berbasis limbah. Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi dalam pengembangan teknologi ramah lingkungan, tetapi juga dapat menjadi referensi untuk pengembangan kebijakan pengelolaan limbah yang berkelanjutan di masa depan. Disarankan agar penelitian selanjutnya menggunakan alat ukur yang lebih akurat dan menjajaki kombinasi limbah organik lainnya, serta pengembangan lebih lanjut dalam aspek pemutihan (bleaching) dan peningkatan kualitas visual untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
BIODEGRADABLE PLASTIK BERBASIS GLYCEROL PLASTICIZER DAN KITOSAN LIMBAH CANGKANG KERANG DARAH (Andara Granosa)
Penulis: Oktasya Fatecha Zahra, Fadhla Afifah Naira Ummah
Krisis limbah plastik yang sulit terurai mendorong pencarian solusi melalui pengembangan plastik biodegradable yang lebih ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengevaluasi sifat plastik biodegradable yang dibuat menggunakan glycerol sebagai plasticizer dan kitosan hasil ekstraksi dari limbah cangkang kerang darah (Anadara granosa). Proses pembuatan kitosan melibatkan tahap demineralisasi, deproteinasi, dan deasetilasi, kemudian dikombinasikan dengan glycerol dan bahan tambahan lain untuk membentuk lembaran plastik. Uji daya serap air dilakukan untuk mengukur sifat penyerapan kelembapan, sementara uji biodegradasi dilakukan melalui metode penguburan dalam tanah. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan kadar kitosan berbanding lurus dengan daya serap air, menunjukkan sifat hidrofilik yang kuat. Selain itu, plastik yang dihasilkan mampu terurai dalam waktu yang relatif cepat, menunjukkan potensi sebagai alternatif plastik konvensional. Pemanfaatan limbah cangkang kerang darah dalam penelitian ini membuktikan potensi ekonomis dan ekologisnya sebagai bahan baku bioplastik. Kata kunci: Plastik ramah lingkungan, glycerol, kitosan, limbah kerang darah, biodegradasi.
OPTIMASI FORMULASI KRIM TABIR SURYA DARI EKSTRAK BUAH PARIJOTO (Medinilla speciosa) DAN EKSTRAK DAUN KERSEN (Muntingia calabura)
Penulis: Syafira Najwa Azzahra, Dhia Madhurya Fawwaz
Indonesia adalah negara dengan tingkat paparan sinar matahari yang tinggi. Terpapar sinar matahari yang berlebih dapat memberikan efek berbahaya pada kulit. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan mengoptimalkan formulasi krim tabir surya yang berbahan dasar ekstrak buah parijoto (Medinilla speciosa) dan ekstrak daun kersen (Muntingia calabura). Perbandingan konsentrasi antara ekstrak daun kersen (Muntingia calabura) dan ekstrak buah parijoto (Medinilla speciosa) yang digunakan adalah F1 yaitu 75% : 25%, F2 yaitu 50% : 50%, dan F3 yaitu 25% : 75%. Evaluasi krim tabir surya pada penelitian ini meliputi uji pH, uji SPF, uji daya sebar, dan uji organoleptik. Hasil uji pH diperoleh bahwa ketiga formula berada pada kisaran pH yang sama, yaitu 8. Pengujian SPF menggunakan UV test card menunjukkan bahwa F3 paling efektif untuk memblokir sinar UV. Hasil uji daya sebar menghasilkan diameter 5 cm untuk F1, dan diameter 6 cm untuk F2 dan F3. Untuk uji organoleptik, dihasilkan bahwa F2 memperoleh rata-rata tertinggi, dengan nilai warna 3,1 ; aroma 3,9 ; dan tekstur 4,1. Kata kunci: Ekstrak daun kersen, ekstrak buah parijoto, krim, tabir surya, SPF.
Uji Organoleptik Permen Karet Berbahan Ekstrak Bunga Rosella (Hibiscussabdariffa) bagi Kesehatan Mulut
Penulis: Jaisyllah Zadin Ridlo, Ahmad Akredityanto
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik organoleptik dan efektivitas permen karet berbahan ekstrak bunga rosella (Hibiscussabdariffa) terhadap kesehatan mulut. Permen karet telah lama dikenal sebagai produk yang dapat membantu menjaga kebersihan mulut, terutama dalam merangsang produksi saliva yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan pH rongga mulut dan mengurangi pembentukan plak gigi. Penelitian ini menguji tiga varian permen karet dengan konsentrasi ekstrak rosella yang berbeda, untuk melihat dampaknya terhadap kesehatan mulut dan daya terima konsumen. Uji organoleptik dilakukan untuk menilai rasa, aroma, warna, dan tekstur produk, dengan hasil bahwa formulasi P2 (konsentrasi ekstrak rosella yang tertentu) mendapatkan penilaian tertinggi dari para responden. Hasil uji efektivitas menunjukkan bahwa ekstrak rosella dapat memberikan manfaat positif bagi kesehatan mulut, seperti penyegaran napas, pengurangan plak, dan meningkatkan kenyamanan mulut. Senyawa bioaktif dalam rosella, seperti flavonoid, antosianin, dan asam organik, memiliki sifat antibakteri, antiinflamasi, dan antioksidan yang mendukung keseimbangan mikrobiota rongga mulut. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan bahan alami dalam permen karet, seperti ekstrak rosella, tidak hanya dapat memperkaya rasa dan aroma produk, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan yang signifikan. Diharapkan, temuan ini dapat mendorong pengembangan produk pangan fungsional berbasis bahan alami yang lebih inovatif dan ramah kesehatan di masa depan.
Pemanfaatan Limbah Sayuran sebagai Ekoenzim Fitoremediasi Limbah Laundry
Penulis: Saraya Kayla Adiba, Zaskia Nabila Anisafitri
Limbah laundry adalah salah satu penyumbang jenis pencemaran yang terjadi pada lingkungan perairan. Pencemaran yang ditimbulkan akibat limbah laundry dapat menyebabkan kerusakan ekosistem perairan, diantaranya adalah eutrofikasi yang disebabkan oleh kadar detergen dan fosfat yang berlebihan pada perairan. Salah satu solusi untuk mencegah eutrofikasi dan mengurangi jumlah surfaktan pada air limbah laundry adalah dengan menggunakan ekoenzim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi gula dalam kualitas ekoenzim dan keefektifan ekoenzim untuk fitoremediasi limbah laundry. Bahan ekoenzim yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari limbah organik dari sampah makanan berupa sayuran dengan variasi jumlah gula merah yaitu 70 gram (F1), 80 gram (F2), dan 90 gram (F3). Parameter yang diamati ialah nilai pH dan kondisi fisik limbah seperti warna dan bau. Pengamatan dilakukan sebelum pengaplikasian ekoenzim dan 8 hari setelah pengaplikasian pada limbah laundry. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan nilai pH sebelum dan setelah pemberian ekoenzim dari 9 menjadi 7. Warna air limbah mengalami perubahan menjadi lebih kekuningan sesuai dengan warna ekoenzim dan bau limbah menjadi asam. Pemberian ekoenzim dari limbah organik berpotensi digunakan sebagai fitoremediasi bagi limbah laundry.
EFEKTIVITAS PUPUK KOMPOS SAMPAH RUMAH TANGGA DAN PUPUK KOMPOS CAMPURAN LIMBAH TULANG IKAN DENGAN AKAR KACANG TANAH (Arachis hypogaea) TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN CABAI
Penulis: Rosfa Fauzia Hakim, Zahra Rahmatunnisa
Tanaman cabai merupakan salah satu tanaman yang memiliki peran penting dalam dunia pertanian Indonesia. Cabai banyak digunakan sebagai bumbu penyedap berbagai masakan, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun industri pengolahan makanan. Oleh karena itu produksi tanaman cabai menjadi salah satu fokus utama dalam perkembangan sektor pertanian. Akan tetapi, meskipun permintaan melesat naik, produksi cabai tetap menghadapi banyak tantangan, seperti defisiensi nutrisi yang memperlambat laju pertumbuhan tanaman. Salah satu cara dalam menanganinya adalah dengan pemberian pupuk kompos organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mana yang lebih efektif di antara pupuk kompos sampah rumah tangga dengan pupuk kompos campuran limbah tulang ikan dan akar kacang tanah bagi pertumbuhan tanaman cabai. Penelitian ini menggunakan empat tanaman cabai untuk pengujian. Tanaman cabai pertama sebagai variabel kontrol, tanaman cabai kedua diberi pupuk kompos limbah tulang ikan dengan akar kacang tanah, tanaman cabai ketiga diberi diberi pupuk kompos limbah rumah tangga, dan tanaman keempat diberi campuran kedua pupuk dengan perbandingan 1:1. Pengaplikasian dilakukan selama 4 hari sekali dalam kurun waktu 21 hari. Hasil penelitian menunjukan komposisi pupuk kompos yang berbahan dasar limbah tulang ikan dengan akar kacang tanah memberikan hasil pertumbuhan terbaik. Formulasi ini dapat dipilih sebagai komposisi optimal untuk tanaman cabai. Kata kunci: Tanaman Cabai, Pupuk Organik, Limbah Sampah Rumah Tangga, Limbah Tulang Ikan, Akar Kacang Tanah
APS: Automatic pH Stabilizer dengan Bahan Alami Asam Citrus dan Kapur untuk Mendukung Pertumbuhan Optimal Tanaman Hidroponik Sawi (Brassica chinensi
Penulis: AHMAD ABYAN ZAKI, SEPTIANDRO SURYA DEWANGGA
Budidaya hidroponik semakin diminati sebagai solusi pertanian modern yang efisien dan ramah lingkungan. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah kestabilan pH larutan nutrisi, yang sangat mempengaruhi penyerapan nutrisi dan pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan menguji Automatic pH Stabilizer (APS) menggunakan bahan alami berupa asam sitrat dari jeruk dan kapur (CaCO?) untuk menjaga kestabilan pH dalam sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT) pada tanaman sawi (Brassica chinensis). Sistem APS bekerja otomatis dengan sensor pH yang dikalibrasi dan terhubung ke mikrokontroler Arduino untuk mengatur penambahan larutan asam atau basa secara real-time. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem APS mampu menstabilkan pH larutan dalam kisaran optimal 5,8–6,5, dengan varians pH yang lebih rendah dibanding sistem tanpa APS. Selain itu, tanaman sawi yang ditanam dengan bantuan APS menunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat dan seragam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan sistem APS berbasis bahan alami dan teknologi sederhana dapat menjadi solusi inovatif dan berkelanjutan dalam pengelolaan pH pada budidaya hidroponik. Implementasi sistem ini berpotensi membantu petani hidroponik skala kecil hingga menengah dalam meningkatkan produktivitas secara efisien dan ramah lingkungan.