1196 Hasil Pencarian
Menjalin Jembatan Interaksi: Adaptasi Pendatang Dalam Dinamika Multikultural
Penulis: Lituhayu Rossa Olinda Manyari
Penelitian ini bertujuan menganalisis proses adaptasi siswa pendatang dalam dinamika multikultural di MAN 2 Kudus. Keberagaman latar belakang budaya, bahasa, dan kebiasaan di lingkungan madrasah menjadi peluang sekaligus tantangan bagi siswa baru dari luar daerah. Perbedaan norma sosial dan pola komunikasi berpotensi menimbulkan kesalahpahaman serta rasa canggung pada tahap awal interaksi. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengkaji bagaimana interaksi sosial membentuk proses penyesuaian diri serta strategi yang mendukung integrasi sosial yang harmonis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara terstruktur, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah siswa pendatang yang berasal dari berbagai daerah di luar Kudus. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan uji keabsahan melalui triangulasi sumber, teori, dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi berlangsung secara bertahap melalui pemahaman norma lokal, penyesuaian pola komunikasi, serta dukungan teman sebaya dan guru. Tantangan utama meliputi perbedaan bahasa dan kebiasaan sosial, sementara manfaatnya berupa peningkatan toleransi, wawasan budaya, dan kemampuan komunikasi antarbudaya. Kesimpulannya, keberagaman di lingkungan sekolah tidak hanya memunculkan hambatan awal, tetapi juga menjadi modal sosial dalam membangun integrasi dan solidaritas. Proses adaptasi yang didukung interaksi positif dan program sekolah yang inklusif mampu menciptakan suasana belajar yang harmonis. Implikasinya, sekolah perlu memperkuat program orientasi dan pembinaan berbasis multikultural guna mempercepat integrasi sosial siswa pendatang serta menumbuhkan budaya saling menghargai di lingkungan pendidikan.
Generasi Terkoneksi : Media Sosial Sebagai Alat Pembentuk Relasi di Kalangan Gen Z
Penulis: Aishanaya Hendri Wardhani, Keysa Zada Zanuba Ariadna
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi dan membangun hubungan sosial, khususnya bagi Generasi Z yang tumbuh bersama media sosial. Platform seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp menjadi sarana utama untuk berinteraksi, berbagi pengalaman, dan membangun komunitas. Namun, penggunaan media sosial juga memunculkan fenomena relasi palsu, yaitu hubungan yang terbentuk dari citra diri atau persona ideal yang tidak sepenuhnya mencerminkan jati diri pengguna. Hal ini dapat menimbulkan miskomunikasi serta hubungan yang kurang mendalam dalam komunikasi interpersonal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media sosial terhadap pembentukan relasi di kalangan Generasi Z, karakteristik relasi palsu yang muncul dalam interaksi digital, serta bagaimana Generasi Z membangun identitas diri di media sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui pengumpulan data dari mahasiswa Generasi Z di Kota Semarang Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial memudahkan terbentuknya relasi yang yang luas, tetapi sering kali bersifat dangkal dan didominasi oleh pencitraan diri. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dalam penggunaan media sosial serta penguatan komunikasi interpersonal secara langsung agar hubungan sosial menjadi lebih autentik dan bermakna. Kata kunci: generasi Z, identitas digital, komunikasi interpersonal, media sosial, relasi palsu.
PERSEPSI MASYARAKAT PADA ANAK PENYANDANG AUTISME SEBAGAI UPAYA MEWUJUDKAN INKLUSIVITAS SOSIAL
Penulis: Naura Alya Mukhbita, Jahraa' Nuril Marlina
Persepsi masyarakat terhadap anak penyandang autisme berperan penting dalam terwujudnya inklusivitas sosial. Dalam hal ini, persepsi masyarakat terhadap penyandang autisme akan menentukan bagaimana perlakuannya terhadap kehadiran anak penyandang autisme. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya pemahaman masyarakat yang kerap menimbulkan stigma dan diskriminasi terhadap anak penyandang autisme. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis sikap, interaksi, persepsi, dan cara mewujudkan inklusivitas terhadap anak penyandang autisme dalam kehidupan masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara terhadap masyarakat sekitar dan pendiri Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah di Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi data dengan teknik validitas data berupa triangulasi sumber. Triangulasi sumber dilakukan dengan menggali kebenaran informasi melalui berbagai sumber data seperti dokumen, arsip dan mewawancarai lebih dari satu subjek yang dianggap memiliki sudut pandang yang berbeda. Dari penelitian ini, ditunjukkan bahwa persepsi masyarakat sekitar Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah Kudus tergolong positif dan menunjukkan adanya penerimaan terhadap kehadiran anak penyandang autisme. Dengan persepsi yang baik, masyarakat dapat mewujudkan inklusivitas dengan bentuk lingkungan yang menghormati, mendukung, dan memberdayakan anak autisme. Dalam hal interaksi, masyarakat sekitar dan anak penyandang autisme berinteraksi dengan efektif, didukung dengan kegiatan Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah Kudus yang merangkul masyarakat sekitar untuk ikut berpartisipasi. Selain itu, Ponpes Al-Achsaniyyah Kudus menjadi jembatan perwujudan inklusivitas sosial dengan memberikan hak memperoleh pendidikan yang seluas-luasnya bagi seluruh anak penyandang autisme yang berasal dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, lingkungan keluarga dan budaya.
PERANAN (DARMA) ORANG TUA TERKAIT PERUBAHAN SIKAP REMAJA NOMOPHOBIA (NO MOBILE PHONE) (STUDI KASUS DI DESA HADIPOLO KECAMATAN JEKULO)
Penulis: Elfania Khiarani, Isro’ Alfariha
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui intensitas penggunaan smartphone pada remaja, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya nomophobia, serta peranan orang tua dalam mengatasi perubahan sikap remaja akibat penggunaan gadget. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, studi pustaka, dan dokumentasi dengan subjek penelitian di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan gadget pada remaja cenderung meningkat seiring waktu dan menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Hal ini memberikan dampak positif berupa peningkatan pengetahuan teknologi, namun juga menimbulkan dampak negatif seperti berkurangnya interaksi sosial, gangguan konsentrasi belajar, serta munculnya ketergantungan yang mengarah pada nomophobia. Faktor utama yang memengaruhi nomophobia meliputi tingginya intensitas penggunaan gadget, kemudahan akses terhadap konten digital, serta kurangnya kontrol diri. Peranan orang tua terbukti sangat penting dalam mengontrol penggunaan gadget pada remaja. Bentuk peran tersebut meliputi pemberian batasan waktu penggunaan, pengawasan terhadap konten, pendampingan saat menggunakan gadget, serta komunikasi yang terbuka dengan anak. Upaya pencegahan nomophobia dapat dilakukan melalui pembiasaan penggunaan gadget secara bijak, menciptakan keseimbangan antara aktivitas digital dan non-digital, serta pemberian edukasi tentang penggunaan teknologi yang sehat. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa keterlibatan aktif orang tua sangat berpengaruh dalam membentuk sikap remaja agar tidak mengalami ketergantungan terhadap smartphone.
FENOMENA KONFORMITAS: PENGARUH TEMAN SEBAYA TERHADAP MOTIVASI AKADEMIK DI MAN 2 KUDUS
Penulis: Eura Winda Safirani, Hanik Hemalia Renata
Pendidikan merupakan upaya untuk mengembangkan nilai-nilai kepribadian, serta dapat memberi jalan bagi individu untuk mengoptimalkan potensi dalam diri guna mencapai kehidupan yang lebih baik dan sejahtera. Pada usia sekolah, individu sedang berada dalam fase yang rentan terhadap pengaruh lingkungan, khususnya teman sebaya, baik dalam bentuk positif maupun negatif. Pengaruh teman sebaya dapat membentuk sikap, perilaku, serta kebiasaan belajar siswa dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan pertemanan yang positif mampu mendorong individu untuk saling memotivasi, berkompetisi secara sehat, dan meningkatkan semangat dalam meraih prestasi, sedangkan lingkungan yang negatif dapat menurunkan motivasi belajar serta berpotensi mengarahkan pada perilaku menyimpang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sebesar dan sejauh mana konformitas teman sebaya dapat berpengaruh terhadap motivasi belajar pada siswa, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang akan mempengaruhi konformitas, seperti jenis kelamin, usia, pendapat, dan lingkungan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menganalisis perubahan sikap individu yang dipengaruhi oleh lingkungan pertemanan serta dampaknya terhadap motivasi belajar. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semiterstruktur dan dokumentasi. Wawancara dilakukan secara terbuka kepada siswa-siswi MAN 2 Kudus. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif untuk memahami fenomena konformitas secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi teman sebaya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap motivasi belajar siswa. Dukungan sosial seperti belajar kelompok, saling menyemangati, serta kompetisi yang sehat terbukti mampu meningkatkan semangat, kepercayaan diri, dan pemahaman materi. Pengaruh tersebut dipengaruhi oleh faktor internal (prinsip dan tujuan pribadi) serta faktor eksternal (lingkungan pertemanan dan media sosial). Perubahan interaksi teman sebaya dapat berdampak positif maupun negatif, namun temuan penelitian menunjukkan dampak positif lebih dominan ketika siswa berada dalam lingkungan yang suportif dan berorientasi pada prestasi. Kata Kunci : Konformitas, Motivasi Akademik, Siswa, Teman Sebaya
STUDI KASUS : TUNTUTAN ORANG TUA KEPADA ANAK TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI DI MAN 2 KUDUS
Penulis: Talitha Raissa Hariyanto, Firli Verlina Fitria
Tuntutan orang tua untuk prestasi akademik yang tinggi seringkali membuat siswa merasa tertekan. Hal ini bisa berdampak pada kesehatan mental serta hubungan keluarga di sekolah- sekolah yang sangat kompetitif seperti MAN 2 Kudus. Orang tua umumnya memiliki harapan besar terhadap kesuksesan anak mereka dalam masyarakat Indonesia yang sangat mementingkan prestasi. Penelitian ini menggunakan teori tentang pola asuh orang tua yang terdiri dari tipe otoriter, otoritarif, dan permisif menurut Baumrind. Pola asuh ini mempengaruhi motivasi siswa untuk berprestasi, serta kesehatan mental mereka. Penelitian ini juga mempertimbangkan lingkungan keluarga dan sekolah, serta faktor-faktor internal dan eksternal seperti cara mengelola emosi dan interaksi sosial. Referensi yang digunakan antara lain karya Sadirman dan Darajat. Dalam penelitian ini, pendekatan kualitatif dengan studi kasus digunakan untuk mengumpulkan data. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan siswa berusia 15-17 tahun di MAN 2 Kudus, serta data sekunder dari dokumen. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman. Validitas data diperoleh melalui triangulasi dan kredibilitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi alasan di balik ambisi prestasi siswa, bagaimana tuntutang orang tua mempengaruhi kesehatan mental dan emosional anak, serta dampaknya terhadap hubungan orang tua dan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuntutan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan stress, overthinking, dan hubungan yang renggang anatara orang tua dan anak, Respon siswa sangat tergantung pada komunikasi dan pola asuh yang digunakan oleh orang tua. Dapat disimpulkan bahwa tuntutan orang tua akan efektif jika seimbang dengan dukungan emosional. Jika tuntutan tersebut berlebihan, maka dapat merusak kesehatan mental dan relasi keluarga. Oleh karena itu, disarankan agar orang tua melakukan komunikasi terbuka dan fokus pada proses belajar, bukan hanya hasil akhir.
MENDULANG IBA DENGAN RUPIAH; PERSPEKTIF PUBLIK TERHADAP KONTEN SEDEKAH
Penulis: Anggun Fitri Miftah Fauzia, Bilqis May Alina
Penelitian ini membahas fenomena konten sedekah di TikTok yang banyak menarik perhatian publik sekaligus menimbulkan pro dan kontra. Tujuan penelitian adalah mengetahui faktor pendorong penonton mendukung konten sedekah, motivasi influencer dalam mengunggahnya, serta pengaruhnya terhadap tingkat kepercayaan penonton. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik kuesioner, observasi komentar, dan wawancara pada siswa SMA/MA/SMK di Kudus yang aktif menggunakan media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan penonton dipengaruhi oleh faktor internal berupa empati dan kebiasaan berbagi, serta faktor eksternal seperti tren media dan lingkungan sosial. Motivasi influencer terbagi menjadi motivasi idealis yang berlandaskan kepedulian sosial dan motivasi pragmatis untuk popularitas serta keuntungan finansial. Konten sedekah terbukti dapat meningkatkan apresiasi dan kepercayaan penonton, meski sebagian kecil menilai adanya unsur pencitraan.
Antusiasme serta Kapabilitas Film “The Lion King” sebagai Penunjang Pembelajaran Bahasa Inggris pada Remaja
Penulis: Azkia Maulida Hamidah
Di era Globalisasi dimana seluruh dunia terasa seperti satu kesatuan, setiap individu berusaha menawarkan harga atas dirinya, lowongan pekerjaan memberikan syarat yang tinggi untuk setiap individu yang melamar. Bahasa Inggris sering kali di tetapkan sebagai bahasa Internasional yang sangat penting untuk dikuasai sebagai syarat perekrutan pekerja. Sebagai negara berkembang tentunya perlu usaha untuk mewujudkan sumber daya manusia yang tinggi begitu pula perekonomian yang pastinya harus berkembang, maka bahasa Iggris diperlukan sebagai langkah awal rakyat Indonesia untuk bersaing dalam kancah Internasional. Fakta menunjukkan bahwa banyak rakyat Indonesia yang belum menguasai bahasa Inggris dengan baik, tentunya hal ini dipengaruhi oleh metode belajar sejak dini. Oleh karena itu peneliti melakukan penelitian dengan judul Antusiasme serta Kapabilitas Film “The Lion King” sebagai Penunjang Kemampuan Berbahasa Inggris pada Remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kapabilitas film “The Lion King” dalam menunjang pembelajaran bahasa Inggris pada remaja, menganalisis peran film “The Lion King” pada kemampuan berbahasa Inggris pada remaja, serta meneliti ketertarikan remaja pada metode pembelajaran melalui media film. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan subjek penelitian subjek penelitian siswa MAN 2 Kudus yang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik serta menggunakan media film sebagai media belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media film “The Lion King” merupakan media yang memiliki kapabilitas untuk menunjang pembelajaran bahasa Inggris pada remaja melalui penggunaan kosakata kontekstual, dan subtitle Inggris maupun Indonesia, serta cara bicara lewat penutur asli, narasumber mengaku sangat terbantu. Penelitian ini juga menemukan bahwa remaja memiliki antusiasme yang tinggi dengan media film “The Lion King” sebagai penunjang pembelajaran karena audio visual, serta penggunaan kosakata yang jarang diajarkan disekolah membuat media film ini lebih fleksibel, menarik, dan tidak membosankan. Kata Kunci : antusiasme, film, kapabilitas, pembelajaran bahasa Inggris, remaja.
KOREAN WAVE; PERAN BUDAYA _K-POP_ TERHADAP TINGKAT MOTIVASI BELAJAR REMAJA KELAS XII DI MAN 2 KUDUS
Penulis: Ayu Aulia Safira
Perkembangan globalisasi dan teknologi yang berkembang pesat mempermudah masuknya budaya asing ke Indonesia, salah satunya budaya Korean Wave atau K-Pop. Korean Wave atau Hallyu merupakan fenomena global yang ditandai dengan berkembangnya budaya populer Korean. Fenomena ini sangat populer di kalangan remaja dan memengaruhi berbagai aspek kehidupan mereka, termasuk gaya hidup, pola pikir, dan motivasi belajar. Keberadaan budaya K-Pop menimbulkan berbagai pandangan, baik pandangan positif, maupun pandangan negatif. Sehingga perlu dikaji lebih lanjut mengenai peran, pengaruh, dan dampaknya terhadap motivasi belajar remaja. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian dengan judul Korean Wave; Peran Budaya K-Pop terhadap Tingkat Motivasi Belajar Remaja Kelas XII di MAN 2 Kudus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran budaya K-Pop dalam meningkatkan motivasi belajar remaja, mengetahui pengaruh yang ditimbulkan, serta mengetahui dampak positif dan negatif dari budaya tersebut di era globalisasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dan teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap siswa kelas XII di MAN 2 Kudus tahun ajaran 2023/2024. Teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya K-Pop berperan dalam meningkatkan motivasi belajar remaja melalui figur idola yang bisa menjadi panutan dalam hal kerja keras, kedisiplinan, dan semangat berprestasi. Meskipun demikian, terdapat dampak negatif berupa: kurangnya manajemen waktu dan sikap konsumtif. Oleh karena itu, budaya K-Pop perlu disikapi secara bijak agar pengaruh positifnya dapat dimanfaatkan secara optimal. Kata Kunci : Budaya Populer, K-POP, Korean Wave, Motivasi Belajar, Remaja
Peran TikTok dalam Membangun Personal Branding: Analisis Fitur, Strategi Content Creator, dan Interaksi dengan Audience
Penulis: Alifta Ramadhani
ABSTRAK Tingginya popularitas TikTok di Indonesia menciptakan persaingan ketat dalam membangun citra diri. Masalah utamanya adalah bagaimana pengguna mampu mengoptimalkan fitur visual, musik, dan mekanisme FYP untuk menciptakan personal branding yang autentik. Tanpa strategi pemanfaatan fitur yang tepat, konten kreatif akan sulit menjangkau audiens luas dan membangun kepercayaan di tengah masifnya jumlah pengguna aktif.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan fenomena secara mendalam dan rinci. Metode penelitian deskriptif adalah pendekatan penelitian yang berfokus pada pemahaman mendalam tentang fenomena sosial.TikTok digunakan sebagai sarana ekspresi diri dan promosi karena jangkauannya luas. Strategi utama narasumber meliputi pemanfaatan fitur video, live streaming, serta musik/efek yang sedang tren dengan metode amati-tiru-modifikasi. Konsistensi, inovasi konten, dan interaksi aktif menjadi kunci keberhasilan personal branding, sementara tantangan teknis dan komentar negatif diatasi melalui evaluasi mandiri serta fitur filter.TikTok terbukti efektif untuk membangun personal branding melalui fitur FYP yang memperluas jangkauan audiens. Penggunaan fitur visual dan live streaming sangat mendukung terciptanya konten yang menarik. Strategi utama meliputi mengikuti tren, berinovasi secara konsisten, serta membangun interaksi aktif dengan audiens untuk menciptakan kepercayaan dan loyalitas yang berkelanjutan. Kata kunci: TikTok, Personal Branding, Fitur Media Sosial, Interaksi Audiens, Konten Kreatif.